catatan sebelum kembali bekerja di hari raya

perihal Bumi Manusia

Kemarin pagi, aku bersama ibuku dan adikku mendapatkan kesempatan menonton Bumi Manusia terlebih dahulu di sebuah acara yang diselenggarakan Keluarga Kemahasiswaan UGM. Ibuku—bukan alumni UGM—mendapat tiket dari temannya—bukan alumni UGM juga—yang memborong 20 tiket. Rombongan kami, berduapuluh orang om-om dan tante-tante yang ribut, seperti menyelinap ke dalam pensi sekolah lain.

Saat mendengar berita bahwa film Bumi Manusia akan disutradarai Hanung, dan Minke sang jagoan kita diperankan oleh personil Coboy Junior yang ceking itu, aku salah satu orang yang kemudian meratapi tercemarnya sastra sejarah bangsa kita. Celaka, Bung! Tapi, lama kelamaan, mau bagaimana lagi? Pada akhirnya, semua orang berhak membuat karya, tak peduli bagaimana bentuknya, biarpun ia tak berbentuk juga. Pelarangan terhadap karya-karya tertentu mengingatkanku pada suatu masa yang hanya pernah kudengar dari tutur orang-orang tua dan buku-buku sejarah, dan tentu saja tak ingin kucicipi.

Setelah membersihkan diri dari bias-bias tertentu dan membuka hati terhadapnya, film ini tidak seburuk yang diprediksikan netizen. Inilah impresi sekilas yang kudapatkan setelah menonton film itu sekali saja.

Secara material, tidak ada pengkhianatan terhadap buku aslinya, esensinya dapat ditangkap dengan jelas. Tarik ulur kebencian Minke terhadap feodalisme, kecintaannya terhadap modernisme, sampai pada kesadaran bahwa kedua sistem itu punya cacat masing-masing, bahkan keduanya tak jarang berselingkuh dan merugikan rakyat kecil. Sintesa dari kekalutan Minke ini adalah pengakuan diri sebagai orang bebas, yang tak diperintah maupun memerintah.

Nyai Ontosoroh, tokoh favoritku di bukunya, tetap menjadi favoritku di film ini. Penggambarannya baik sebagai anomali dari wanita Jawa pada masa itu. Sha Ine Febriyanti pun memerankannya dengan wibawa yang oke juga.

Secara substansi, film ini jelas dan memiliki kedalaman, namun kebanyakan dari pujian itu berhak diterima oleh materi aslinya, yang memberikan fondasi kokoh untuk film ini. Keberhasilan untuk mengadaptasi cerita menjadi mampu dimengerti adalah batas yang sangat rendah untuk menentukan kualitas sebuah film. Menonton film ini lumayan bikin pegel buatku (itulah mengapa aku cuma akan menuliskan impresi sekilas, bukan analisis mendalam yang harus dua kali nonton). Terlalu banyak shot yang sudah pernah kulihat sebelumnya. Terlalu banyak close-up. Setiap adegan selalu diiringi oleh lagu-lagu orkestraik yang menandakan ketegangan, kesedihan, kemewahan, dan emosi-emosi lainnya. Penonton tak diberikan ruang untuk bernafas, gambar tak diberikan kesempatan untuk memancarkan emosinya sendiri.

Terakhir: poni lempar Iqbal jelek banget, lebih-lebih tidak cocok untuk berada di zaman itu. Kenapa sih rambutnya gak bisa normal aja? Aku yakin banget tampang Iqbal akan lebih mending jika rambutnya klimis-klimis kolonial seperti tokoh-tokoh lainnya dalam film. Apakah justru ini sengaja, agar ada kesan Dilan pada diri Iqbal yang bisa diboncengi? Naik-naik meja untuk nonjok orang itu Dilan banget, lagi. Iqbal juga gak cocok akting nangis melankolis. Miscast tak hanya terjadi pada Iqbal, namun ada dua tokoh yang seharusnya berdarah Indo-Belanda tapi kelihatan banget mereka Indo biasa, bahkan salah satunya ada yang dipakein soft lens biru. Hadehlah.

Perihal Komunitas

Ngomongin komunitas sampai eneg. Apa yang akan kulakukan dalam dua minggu ke depan, sudah mulai kulakukan sejak hari ini. Aku bertemu dengan teman-teman yang takkan kukenal jika aku tak bergabung dalam sebuah komunitas film, dan bernaung dalam payung besar “komunitas-komunitas film”. Sebenarnya sudah dari tahun lalu aku ngomongin komunitas di sebuah panel festival. Aku kaget karena sama sekali tidak merasa punya kapabilitas untuk membicarakan hal itu. Aku merasa jadi anak bawang di mana-mana. Tapi, ya sudah, aku lakukan juga.

Tahun lalu, aku berbicara tentang komunitas film mahasiswa sebagai sarana pencarian identitas. Mahasiswa yang tidak tahu hidupnya harus diapakan biasanya bergabung dengan komunitas film. Jika tidak cocok dengan komunitas kampus itu, mereka akan pergi. Mahasiswa yang sudah tahu ingin jadi pembuat film, tapi mencari teman yang sama-sama suka film, juga akan bergabung dengan komunitas film. Pergulatan tentang diri mereka biasanya dituangkan ke dalam film yang mereka buat. Terkadang, mereka melakukan itu agar bisa kabur dari pelajaran dan ekspektasi orang tua. Kadang, mereka melakukan itu sebagai bagian dari “panggilan hidup” mereka, yang sewaktu-waktu pun dapat berubah jika kamu masih kuliah. Paling tidak, itu yang kutangkap selama beberapa tahun terakhir.

Identitas begitu cair di masa-masa perkuliahan. Pada saat yang sama, kami berada di bawah payung besar “komunitas-komunitas film” itu, memikul sejumlah tanggung jawab untuk menjadi roda-roda produksi-apresiasi di jalur alternatif perfilman Indonesia. Ada diskrepansi antara posisi komunitas di ranah eksternal, dan ranah internal di dalam kampus, saat ia berebut kepentingan dengan organisasi-organisasi lainnya, kepanitiaan lain, urusan akademis, dan sewaktu-waktu dapat ditinggalkan secara tidak bertanggung jawab oleh para anggotanya. Kurang lebih itu inti curhat colongan akademis yang kulakukan tahun lalu.

Saat aku sedang curhat mengenai film festival yang sedang aku selenggarakan, dan rasa beban yang sering kali muncul entah dari mana, temanku berkomentar, kalau kegiatan film di ranah mahasiswa itu sebagai sarana belajar. Terkadang, film mahasiswa atau festival film mahasiswa itu, ya udah. Ya udah. Begitu keruh, begitu malas, entah artinya apa. Namun, entah bagaimana, aku bisa memahaminya.

Tahun ini, aku belum bikin paper sama sekali. Toloooong! Tolongsinema!

Perihal yang permanen

Dari sekian banyak kegiatan yang dapat dilakukan di malam minggu itu, kami memilih nonton film di sebuah festival. Terlalu gampang ditebak memang. Seusai menonton satu film panjang dan tiga film pendek, kami keluar auditorium karena lapar. Tak peduli setelah ini masih ada sesi selanjutnya. Temanku sudah memprotes ingin keluar, karena kacamatanya patah dan ia pusing karena nontonnya sambil miring-miring.

Trotoar depan Taman Ismail Marzuki sedang dipugar, sama seperti trotoar lainnya sepanjang Jalan Cikini Raya. Anak-anak IKJ kehilangan tempat nongkrong di malam hari. Kami juga kebingungan mencari makan, lebih-lebih aku, yang ingin makan nasi magelangan, tapi lupa gerobak nasi goreng mana yang paling enak di antara lima gerobak yang mangkal malam itu. Selamat tinggal untuk sementara, batmer (singkatan malas dari bata merah), tempat yang juga penuh sejarah bagiku. Penuh sejarah. Apakah suatu tempat bisa luber menampung terlalu banyak sejarah? Sebaliknya: apakah sejarah bisa terlalu penuh karena banyak peristiwa di dalamnya? Kadang aku merasa terlalu penuh, namun begitu kosong.  

Paling tidak, selamat tinggal itu untuk sementara. Batmer akan kembali lagi, meskipun tidak akan sama. Mungkin pedagang-pedagangnya berpindah tempat. Ada temanku yang protes keras mengenai hal ini. Namun, pada akhirnya kita menyesuaikan diri, menyadari bahwa pada akhirnya, ini bukanlah akhir dari segalanya.

Apakah ada yang permanen di dunia ini? Nyawa yang hilang itu permanen. Kehilangan itu akan menggores sesuatu dalam sejarah—baik yang tercatat, maupun sejarah-sejarah kecil yang hanya akan hidup dalam hati-hati kecil semua orang yang pernah memiliki si almarhum. Namun, dengan segala ketergoresannya, sejarah akan tetap berlangsung.

Tato juga permanen. Banyak orang berusaha menyatakan pernyataan yang agung dengan menatahkan gambar atau kata tertentu ke kulit mereka, untuk selamanya. Sebuah gestur simbolik, yang sebenarnya tak banyak mengubah apa-apa, kecuali kulit mereka. Jika suatu hari aku ingin membuat tato, aku akan membuatnya tanpa pertimbangan panjang. Pertimbanganku murni estetik, sesuatu yang akan tampak bagus di kulitku. Bukan pernyataan agung yang layak diperjuangkan. Jika memang aku tak bisa atau tak mampu membuatnya pun tak apa-apa. Namun, bagi beberapa orang, perihal pembuatan tato adalah pilihan eksistensial. Dengan memilihnya, seseorang telah menandatangani pakta kekal. Berkomitmen: hal yang paling tak mungkin dilakukan, di tengah deras arus sejarah yang tak henti mengalir.

Namun, pada akhirnya, ikatan akan terjalin, entah disengaja atau tidak. Mustahil menjalani hidup seperti maraton tanpa henti. Aku tahu, hidup berjalan terus, dan manusia datang dan pergi. Mau tidak mau, kita harus menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa henti itu. Namun, tak jarang kita berpura-pura bahwa kita akan hidup kekal: semua kesempatan adalah satu-satunya, semua perhentian adalah perhentian terakhir. Dualitas ini janggal, dan kusadari betul. Kita butuh ilusi keabadian itu agar kita bisa berhenti dan terpenuhi, mengabaikan fakta bahwa suatu hari kita akan terkuras lagi sampai ke dasar, dan kita harus mencari tempat baru untuk memenuhi diri kita sendiri.

Sambil duduk dan makan di pinggiran batmer yang semakin terkikis, seorang teman berkata bahwa ada perasaan yang bisa timbul saat bertemu dengan seseorang. Perasaan yang menyenangkan. Namun, apakah kita menyukai perasaan itu, atau orang yang menimbulkan perasaan itu? Apakah kita akan menemukan perasaan yang sama pada orang-orang lain? Apakah kita harus mengambil lompatan iman tersebut?

Hari itu, aku mengambil lompatan iman tersebut. Nasi goreng yang kusantap bukanlah buatan gerobak yang enak itu. Rasanya terlalu asin.

Tapi, ya, tidak apa-apa.

Mungkin, aku akan membuat tato itu juga. Kalau ada duit.

catatan setelah hari raya

“Dini pulang kapan?” tanya Bapak, beberapa hari yang lalu.

“Ini lagi pulang.”

“Berhenti ngekos gitu, kapan?”

“Oktober.”

Semester depan, setelah festival film yang kuadakan bersama teman-teman yang lain selesai, aku akan berhenti ngekos dan kembali pindah ke rumah. Sekilas, bukan lompatan iman yang terlalu jauh. Rumahku di Jakarta Pusat, sebenarnya masih memungkinkan kalau pulang-pergi ke Depok setiap harinya. Setiap akhir pekan pun aku pulang. Selama libur ini pun aku terus berada di rumah. Mungkin takkan banyak bedanya.

Rumah punya dinamikanya sendiri, dengan atmosfer yang tak bisa kita kontrol seorang diri. Sewaktu-waktu, ia bisa jadi tempat berpulang yang menyenangkan. Kita kehilangan diri di obrolan meja makan berjam-jam, sebelum kesadaran menyergap: kapan terakhir kalinya kita merasakan kehangatan ini? Hampa pun bisa menjadi menyenangkan, melewatkan berjam-jam melamun tanpa melakukan apa-apa, tak terkejar waktu seperti di kamar kos tempatku begadang mengerjakan artikel. Hidup dengan orang lain selalu memisalkan batas-batas demarkasi yang tak dapat ditawar. Aku telah terbiasa berdampingan dengan batas tersebut, seperti dengan teman sekamarku di kost. Namun, di rumah, batas-batas tersebut cenderung dilangkahi oleh yang berwenang.

Memikirkan perpindahan, pikiranku terarah pula pada satu kardus besar berisi buku yang tersimpan di sudut kostku. Koleksi bukuku di Depok semakin berkembang, banyak pula buku yang harus kubeli demi keperluan kuliah. Kardus itu menjadi jangkar yang mencegahku terombang-ambing di lautan dialektis perkuliahan. Jangkar yang sama jadi memberatkan saat harus pindah kost. Terhitung dua kali aku berpindah kost selama tiga tahun belakangan, dan membayangkan kardus itu saja lenganku sudah memijat dirinya sendiri. Aku tak kuat membayangkan harus membopong kardus itu sekali lagi, apalagi menginkorporasikan buku-buku di dalamnya ke dalam kamar tidur aku dan adikku yang sudah penuh barang-barang.

Sudah tentu ada barang-barang yang harus disisihkan, entah yang akan dipindahkan dari Depok, maupun barang-barang yang sudah berada di rumah. Sulit sekali membayangkan proses pembersihan besar-besaran ini. Sering kali kupikir aku ini orangnya minimalis, karena apa yang ada di depanku hanyalah barang-barang yang kubutuhkan. Kenyataannya, aku hanya meyakini oposisi biner dalam sistem inventoriku: barang yang kubutuhkan dan barang yang tidak butuh-butuh amat, tapi suatu saat pasti akan butuh. Kategori kedua memayungi tumpukan yang terus menggunung. Terkadang, kuharap ada hampa yang bisa menelan barang-barang tersebut agar aku tak perlu melihatnya berantakan di depanku, seperti void milik Janet dalam serial The Good Place.

Terkadang, kuharap aku tak usah berurusan dengan yang materi, dan bagaimana ia menempati ruang dan waktu. Perubahan tak henti mengusik yang material: menggandakan diri, membusuk, mengumpulkan debu. Sementara, manusia harus menyesuaikan diri dengan yang tak terhindarkan.

kuasa dan kebromocorahan

Sudah sejak akhir tahun lalu wacana artistik “bromocorah” sebagai tema ARKIPEL 2019 bersirkulasi, tapi baru akhir-akhir inilah gagasan tersebut perlahan berwujud konkret dalam diskusi-diskusi antara anggota Forum Lenteng, baik secara terorganisir maupun kasual. Tema ini sendiri berpijak dari cerpen karangan Mochtar Loebis yang menceritakan sosok jagoan silat kampung yang terpaksa mewariskan karirnya kepada anaknya, karena usahanya untuk transmigrasi dan memperbaiki hidupnya ditolak oleh pegawai desa. Dari situ, muncullah beragam tafsir mengenai identitas si bromocorah itu sendiri, yang rupa-rupanya selalu menampilkan diri dalam sejarah kita: mulai dari legenda urban maupun mitologis, kisah-kisah masa kecil, tembang Iwan Fals, dan seterusnya.

Namun, sebuah konsensus tercapai, dirangkum dengan apik oleh Anggra dalam dua kata: “ampas sistem”. Ia adalah korban yang tergencet oleh sistem, sehingga harus melakukan segala cara untuk bertahan hidup: dengan mempelajari aturan mainnya, dan berusaha mengelabuinya. Terkadang, cara-cara itu mengantarkannya pada posisi yang lebih terpuruk dari sebelumnya, namun sangat mungkin ia menjadi pemain di dalamnya. Di mana ia berpijak tergantung pada ke mana sistem berpihak. Terkadang bromocorah yang tadinya berjaya di suatu masa dapat kehilangan posisi, jika rezim selanjutnya menggeser dirinya keluar dari bingkai. Ketidakstabilan itu merupakan risiko si bromocorah, yang selalu bermain di ambang. Meskipun pijakannya bergantung pada sistem, dia bukanlah bagian dari sistem itu.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa dengan kecerdikannya, bromocorah dapat bersekutu dengan sistem itu sendiri. Dinamika kuasa dalam sistem ini menarik untuk dibaca. Kehadiran bromocorah yang hidup sebagai “penguasa kecil” bersama dengan aparat sistem menimbulkan pertanyaan baru: siapa sebenarnya yang memegang kuasa?

Jika kita tarik kembali kepada gagasan kuasa menurut Foucault, kekuasaan tak harus bersifat sistemik, tersentralisasi, dan tunggal: dia bukan benda, namun berbentuk relasi yang tersebar dan hadir di tengah masyarakat. Kuasa itu dapat dipraktikkan oleh siapa saja yang memiliki daya tawar, agar ia dapat berada di posisi tertentu. Sifat kuasa yang cair ini membuka kesempatan bagi siapa pun untuk mempraktikkannya, untuk memperoleh posisi di mana saja. Namun, tetap saja sistem sebagai sebuah entitas berdiri bak raksasa di sebelah para bromocorah ini. Mau tak mau, untuk mendapatkan posisi, mereka harus bermain di dalam sistem, sekaligus tanpa menjelma ke dalamnya.

Situasi menjadi terbalik dalam Gang Tanjung, di mana aparat-lah yang harus bermain di dalam sistem sosial penuh “penyimpangan” yang telah mengakar dalam kampung tersebut. Lantas, apakah definisi “bromocorah” ini ikut terjungkir, di mana aparat yang menjadi bromocorah karena mereka di luar sistem yang lebih besar daripada mereka? Mereka juga dapat dikatakan bromocorah karena berselingkuh dari sistem kepolisian yang baik dan benar dengan kekacauan kampung tersebut, untuk mempertahankan posisi mereka di sana. Definisi bromocorah di sini menjadi sama cairnya dengan hakikat kuasa itu sendiri.

Para aparat menempuh jalan alternatif untuk menjaga harmoni (dan posisi mereka) di gang tersebut; mereka bersiasat. Kita bisa berandai-andai, bahwa kebromocorahan ini adalah cara mereka untuk menyelinap diam-diam, dan kembali menegakkan norma yang seharusnya di sana. Identitas sebagai “yang lain” selalu menyediakan kemungkinan akan revolusi. Melalui konsep bromocorah inilah kita bisa memahami gagasan kekuasaan yang dimaksud Foucault: sebagai potensi yang dimiliki oleh siapa saja, namun terutama ia dapat dimanfaatkan untuk melawan status quo, tentunya, dengan cara menyiasati sistem yang sudah berdiri.

Diambil dari catatan tugas untuk diskusi Roman Picisan bersama Otty, dalam rangka menanggapi performans Hafiz di sesi sebelumnya dan untuk mengulik lebih jauh tema ARKIPEL 2019 yang akan datang. Dalam performans tersebut, Hafiz menceritakan tentang keadaan masa kecilnya di Gang Tanjung, daerah Kampung Tengah, Pekanbaru, di mana praktik-praktik seperti perjudian, alkohol, dan prostitusi telah menjadi bagian dari keseharian yang normal bagi masyarakat setempat.

Sejarah panjang kemalasan saya, dan usaha menyalahkan teknologi atas hal tersebut

255565
Apa yang terjadi di balik layar?

Aku mulai menulis tulisan ini minggu lalu setelah mengerjakan artikel mengenai media sosial berkenaan dengan pemikiran McLuhan dan Postman selama nyaris delapan jam berturut-turut. Aku langsung “merasa” telah mencapai kesadaran medium penuh. Sembari mengerjakan artikel, aku merasa terusik setiap kali mendapati diri tengah membuka Instagram untuk hal-hal remeh seperti menjawab komentar. Lebih parah lagi ketika aku tak sadar saat melakukannya karena refleks keseharian.

Sebagai yang digadang-gadang sebagai generasi millenial, tak terpisahkan dengan internet, aku merasakan betul dampak hidup bersama dan di dalamnya: aku menjadi sulit berkonsentrasi. Kebanggaan terbesarku saat kelas 4 SD adalah berhasil menyelesaikan edisi terjemahan Harry Potter and the Order of the Phoenix setebal lebih dari 1000 halaman, hanya dalam dua hari. Aku ingat betul buku itu diberikan kepadaku sebagai hadiah ulang tahun, dan seluruh akhir pekan kuhabiskan bersandar pada bantal di kepala tempat tidur untuk membaca, hanya sesekali bangkit jika ingin pipis atau makan. Sebelas tahun kemudian, aku membelikan diriku buku Nausea (yang aku taksir sejak dulu karena sampulnya), dan sejak 17 September lalu hingga kini, aku belum beranjak dari halaman 21. Mengerikan juga kalau dipikir-pikir.

Sulit untuk memetakan di mana perubahan pola tersebut terjadi, karena ia terjadi melalui proses evolusi yang panjang. Menilik kembali masa laluku, aku mengenal internet dan media sosial Facebook sejak kelas 5 SD, dengan penggunaan yang dibatasi selama satu jam sehari. Sejak SMP, kurangnya pengawasan membuatku bebas menggunakan internet rumah kapan saja. Pada tahap ini, aku mulai jarang menulis blog, meskipun mungkin itu hanya karena faktor kemalasan saja. Aku baru mulai memakai smartphone saat masuk SMA. Sejak kapan potensi produktivitas itu direpresi menjadi sikap yang pasif, menerima informasi terfragmentasi tanpa konteks? Sejak kapan penggunaan media sosial jadi sesuatu yang kompulsif dan terus-menerus? Tentu perubahannya tidak instan, terbentuk sedikit demi sedikit karena kebiasaan dan eksposur terhadap media sosial yang begitu mudah diakses dalam genggaman.

255569
Tombol “like” yang kehilangan fungsinya

Apakah perubahan tersebut memang tak terelakkan? Media sosial sudah sedemikian terintegrasi dalam hidup kita, “bahasa” kita sehari-hari terpadatkan dalam post-post singkat dan trivial, berkomunikasi dalam likes, follow, views, unfollow, block. Namun bahasa tersebut tak cukup mengatasi banjirnya informasi yang terjadi dalam satu kali scroll dalam linimasa Instagram. Dalam waktu tiga menit saja, kamu sudah mendapatkan banyak informasi, tak semuanya bermanfaat. Sebagian perihal kehidupan sosial orang lain, yang terkadang tak berkaitan dengan kita. Sebagian lagi iklan produk dari berbagai akun olshop  yang kamu follow itu. Tentu banyak juga post berfaedah perihal acara diskusi, kampanye sosial, peristiwa kebudayaan yang akan penting kamu hadiri, post tentang orang-orang terdekatmu, maupun berita penting yang terjadi di seluruh dunia. Bukan masalah berfaedah/tidaknya, namun informasi-informasi sekadar lewat tersebut kita terima dalam jumlah masif, dalam jangka waktu terlalu singkat untuk memprosesnya secara utuh. Otak kita seakan multitasking, seperti laptop yang disuruh buka Adobe Premiere, Adobe AfterEffects, dan Adobe Audition pada saat yang bersamaan.

Tapi multitasking itu sendiri sudah menjadi normal dalam keseharian di era Internet. Itu salah satu kemampuan yang dicari-cari dalam lowongan pekerjaan. Tidak perlu dilatih, kebiasaan multitasking menyingkapkan diri dalam gestur kita sehari-hari. Misalnya saat buka instagram teman, lalu penasaran mengecek temannya dia, olshop yang dimilikinya, sampai orang yang jadi model di olshop itu. Saat membuka Wikipedia, kita suka keasyikan membaca artikel, dan mengklik hyperlink di istilah dalam artikel tersebut, sehingga kita berakhir dengan 10 tab dalam jendela browser kita.

Bahkan tendensi ini menghambatku bikin karya ilmiah, karena setiap mendapatkan sumber, aku akan mencoba mencari sumber lain yang tampaknya berhubungan melalui sitasi dalam paragraf tertentu, buku lain yang ditulis pengarang tersebut, dan pemikir-pemikir lain yang berhubungan dengan dia. Puji Internet dan Gen Lib, semuanya dapat kuakses dengan sentuhan touchpad saja. Yang menjadi masalah selanjutnya, aku bahkan tak dapat berkonsentrasi membaca satu sumber saja. Timbul kebosanan atau kegelisahan bahwa apa yang kucari takkan ada di sini, lalu aku berpindah ke sumber lainnya. Hal ini akan berjalan lama sampai aku bingung sebenernya apa yang mau dibicarakan dalam paper ini. Selama prosesor otak Anda kokoh, cara pengerjaan ini lumrah saja. Namun, yang sering terjadi kepadaku, banyaknya informasi yang masuk dengan cara membaca cepat paragraf-paragraf tersebut tak mampu kuproses secara menyeluruh, sehingga dalam beberapa waktu, aku akan kebingungan sendiri dengan apa yang kukerjakan.

Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death membicarakan fenomena banjir informasi yang dimunculkan telegraf, fotografi, dan televisi. Namun, cara pandangnya masih relevan bagi beberapa orang dalam melihat media internet masa kini. Dalam membicarakan fakta-fakta terfragmentasi yang diperoleh melalui televisi, ia berkomentar:

In one form or another, each of these supplies an answer to the question, “What am I to do with all these disconnected facts?” And in one form or another, the answer is the same: Why not use them for diversion? for entertainment? to amuse yourself, in a game? [1]

Menurut Postman, media-media elektronik baru mentransformasikan dunia menjadi sebentuk peek-a-boo world atau “dunia petak umpet”, di mana peristiwa-peristiwa acak dan inkoheren muncul sementara, kemudian berlalu. Bayangkan meme di Twitter yang populer untuk sementara, atau berita-berita di seluruh dunia yang begitu cepatnya datang dan pergi. Namun, selayaknya petak-umpet, permainan itu berdiri sendiri, dan menyenangkan [2]. Ini dapat menjelaskan adiksi terhadap media sosial yang dimiliki banyak orang hari ini. Hiburan dapat diakses dalam genggaman, membentuk sebuah kebiasaan yang kompulsif dan pada akhirnya mengubah pola pikir kita untuk selalu mencari hiburan.

Nonton Mr Robot di kelas Filsafat Ketuhanan.

Postman, seperti banyak ramalan abad 20 lainnya, berpandangan cukup negatif tentang media elektronik. “Ramalan” ini cukup akurat dalam beberapa aspek, namun ia belum menggunakan kacamata kekinian yang sesuai dalam melihat potensi-potensi media masa kini. Nyatanya, internet tidak membunuh kemanusiaan. Masih banyak orang yang berkarya, bersisian dengan kehadiran Instagram, bahkan berhasil menjadikan platform tersebut sebagai medium publikasi karya maupun aktivitas kebudayaan lainnya. Kesadaran pengguna media penting di sini agar tidak tertarik arus, dan juga pemahaman akan bahasa media itu sendiri [3].

Selebihnya, butuh disiplin, fokus, dan kreativitas untuk menciptakan. Jika memang aku merasa “terbunuh” dan terdemotivasi karenanya, kesimpulannya hanya satu: memang aku yang malas! Entah bagaimana cara mengobatinya. Entah bagaimana, batinku sambil membuka jendela Netflix dan melanjutkan serial The Defenders yang tadi sedang kutonton. Satu episode lagi, lah!

Catatan Sikil
[1] Postman, 2005, p. 76
[2] ibid, p. 77
[3] Dipetik dari kesimpulan pertemuan Roman Picisan bersama teman-teman di Forum Lenteng, saat membicarakan millenial dan teknologi. (13 November 2018)

Referensi
Postman, Neil. 2005. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Showbusiness. New York: Penguin Books.

Membedah Komodifikasi Rasial dalam Industri Perfilman Amerika Kontemporer

Abstrak

Dewasa ini, film-film hasil produksi Hollywood bertema minoritas gender, rasial, etnik, maupun orientasi seksual mulai marak di layar lebar. Mengingat hakikat film sebagai refleksi dari realita setiap zaman di mana ia berada, kesimpulan yang biasa muncul adalah nilai-nilai millenial yang lebih progresif dan berorientasi kepada keberagaman turut mempengaruhi nilai yang dipegang para pelaku film di Hollywood. Namun, perlu diingat bahwa dunia perfilman di Hollywood memiliki arus birokrasi dan pertimbangan ekonomi layaknya industri massal manapun. Bukan tidak mungkin bahwa pengangkatan minoritas, terutama minoritas rasial, ke dalam layar hanyalah usaha Hollywood mendapatkan keuntungan dari konsumen yang sadar secara politis.

Kata kunci: Hollywood, rasisme, keberagaman, kapitalisme, masyarakat konsumsi, Baudrillard

Artikel ini ditulis sebagai UAS mata kuliah Filsafat Sosial, dan dapat diakses di sini.


Level mager: ngupload artikel biar blog gak sepi-sepi amat.

mother!: kekacauan yang tak butuh penjelasan

d27e0d8e-1c9f-4c39-91ad-75311f505590.jpeg

Baru kelar nonton mother! kemaren bareng adek saya, dan kami berdua merasa pusing setelahnya. Sepusing itu sampai saya harus kembali menulis (sambil nulis aja aing masih pusing). Akhirnya! Akhir tahun ini adalah waktu luang pertama saya sejak semester ini dimulai. Kalo gak pusing saya gak bakal nulis, dan melakukan satu hal yang tak sempat saya lakukan selama enam bulan terakhir: mager-mageran nirfaedah. Terima kasih saya ucapkan kepada rektorat dan Darren Aronofsky.

Film ini bercerita tentang sepasang suami istri (Jennifer Lawrence & Javier Bardem) yang tinggal di sebuah rumah bergaya Victoria di tengah rawa-rawa antah-berantah. Sang suami adalah seorang penulis yang kurang sukses, sedangkan tak ada keterangan mengenai pekerjaan istrinya kecuali dia jago betul-betulin rumah, jadi saya simpulkan dia seorang arsitek atau tukang bangunan. Ternyata, rumah tersebut pernah hancur dalam suatu kebakaran sebelum sang suami bertemu istrinya, dan sang istri sangat tekun mengembalikan detail-detail rumah tersebut seperti sedia kala. Suatu hari, ketenangan mereka diusik oleh kedatangan orang asing yang mengaku tersesat dan hendak menginap di rumah mereka. Keganjilan yang dirasakan sang istri tidak diindahkan oleh sang suami, malahan ia terus membuka pintu terhadap petaka demi petaka yang mengguncang rumah tangga mereka, secara harfiah.

Sekilas, film ini memiliki kemiripan dengan Black Swan, film Aronofsky sebelumnya, mulai dari subjek perempuan yang selalu bergulat dengan tekanan-tekanan dari sekitar mereka. Selain itu, kaburnya batas antara kenyataan dan imajinasi si tokoh memberikan ruang bagi kedua film ini untuk menggila dalam surealitasnya. Namun, saat surrealitas Black Swan berupa keindahan chaos dalam order, di film ini Aronofsky sepertinya sudah bodo amat. Berbagai macam keanehan dihadirkan dalam third act film, awalnya keanehan yang absurd dan komikal, sampai bikin mual dan marah. Kegilaan ini tak serta-merta muncul. Dari awal film, terasa kegelisahan yang merayap di balik situasi rumah tangga yang tampak tenang. Perasaan ini berlanjut, dan intensitasnya semakin meningkat. Sepanjang film saya berpikir, “Kenapa rasanya ada yang gak beres, ya.” Di akhir film pun saya simpulkan, mungkin otaknya Aronofsky yang gak beres. Tapi, saya sangat hargai itu. Dalam film, ada saatnya rasa lebih utama daripada makna, dan butuh sensitivitas tinggi bagi filmmaker untuk memunculkan pengalaman yang ganjil ini.

Dalam beberapa adegan, diperlihatkan karakter Jennifer Lawrence yang gelisah, lantas bergegas ke kamar dan meminum air yang dicampur sejumput bubuk kuning. Sebotol bubuk kuning disimpan di dalam botol di lemari obat, tempat obat penenang disimpan pada film Barat umumnya. Adegan ini mengingatkan saya kepada mitos tentang Van Gogh yang entah benar atau tidak, bahwa ia seringkali meminum cat warna kuning karena ingin merasakan kebahagiaan yang dilihatnya dalam warna kuning. Dengan latar belakang karakter sebagai arsitek, hal ini agak masuk akal dan cukup menyedihkan.  Saya pun mengembangkan interpretasi saya sendiri, bahwa kisah ini adalah derita seorang perempuan yang terus-menerus terhimpit laki-laki dan ego mereka. Menurut saya, cerita ini bisa menemukan arahnya dengan metafora itu. Namun, Aronofsky dan Lawrence sendiri mengungkapkan bahwa film ini dimaksudkan menjadi metafora Alkitab.

Intinya, film ini bekerja lebih baik ketika penonton diizinkan menafsirkannya. Pada akhirnya, membuat film adalah membuat misteri. Jangan sampai ketika film berakhir lantas misteri ikut bubaran. Jika film ini dimaksudkan jadi metafora Alkitab, intensinya agak pretensius dan moralis, sehingga sulit untuk menganggapnya serius. Saya juga sedikit banyak paham mengapa banyak orang yang tidak menyukai film ini. Selain hal-hal tadi, film ini juga meletakkan adegan pelecehan terhadap perempuan sebagai bagian dari metafora itu, tanpa memberikan perhatian terhadap isu yang benar-benar terjadi. Agak kesel juga nontonnya, tapi ya gimana. Emang ini film wajib ditonton sebenarnya, minimal sekali, supaya ngerasain aja nonton film yang bikin kesel. Jangan keselnya gara-gara nonton AADC2 atau Dilan doang.

Perasaan yang Datang Ketika Liburan Terlalu Lama #1

questioning-film-nasional_hlgh

Seusai menonton Apa Jang Kau Tjari, Palupi di Kinosaurus.  “Yang di luar dijaga agar jangan sampai masuk, dan yang di dalam dijaga agar jangan sampai keluar. Pesta ini berlangsung hingga besok.” Shot terakhir, Palupi menggedor-gedor pagar, putus asa. Siapa sangka perjalanan mencari kebahagiaan bisa memerangkap seseorang sedemikian rupa? Aku tidak sempat menulis resensi lengkap dari film ini karena pada saat itu sedang berlomba dengan tenggat waktu (siapa pula yang melewatkan konser Efek Rumah Kaca karena tuntutan korporat? Mudah sekali berpura-pura ikhlas di depan orang banyak, tapi dalam hati sebenarnya masih menyesal). Tapi film ini rasanya menghantuiku. Palupi mengira ia bisa menemukan kebahagiaan dalam dunia selebriti yang artifisial, dan tidak semua orang setuju dengannya. Namun, dalam nafas yang sama kita semua adalah Palupi—dalam perjalanan mencari, dengan cara kita sendiri-sendiri.

“Apa yang kau cari?” Tidak semua orang mau mengakui apa yang mereka cari. Hakikat kebahagiaan di masa kini sedikit membingungkan, apalagi dengan budaya media sosial. Orang-orang memamerkan kebahagiaan mereka di Instagram, entah dengan niat pamer atau berbagi rasa syukur, dan memang tidak ada yang salah dengan itu. Pada saat yang sama, ada ilusi bahwa kebahagiaan itu bukan untuk “dicari”. Banyak orang yang merasa kekurangan dan tidak tahu cara mengisi lubang dalam diri mereka, makanya budaya traveling, plugging off, buku-buku self-help, dan kursus yoga sedang laris-larisnya. Usaha-usaha ini dipinggirkan dengan narasi yang seolah berkata “sudahlah, hidup tak selamanya harus mengejar kebahagiaan. Pada akhirnya toh kebahagiaan hanyalah kepalsuan. Mari kita menderita bersama-sama.” Aneh, ketika kita diharapkan sudah bahagia—atau paling tidak cukup—sejak awal, namun usaha-usaha untuk mencari kebahagiaan tersebut malah dicibir oleh mereka yang tidak suka melihat kita lebih berbahagia daripada mereka. Atau ya, tidak semua orang mampu atau tahu cara untuk berbahagia. Konflik yang menarik.

Sudahlah, aku sebenarnya tidak ambil pusing juga. Soal-menyoal ini hanya cukup menarik untuk diamati. Seorang teman pernah bertanya “kok lo kayaknya enak banget, santai aja gitu kayak gak ada beban.” Seperti komentar orang-orang pada umumnya, tentu kesan ini tidak sepenuhnya betul. Aku gampang banget stres kalau ada tekanan. Tetapi, seiring dengan waktu, semakin mudah memisahkan antara diri kita dan rupa-rupa beliung kehidupan. Semakin mudah untuk memperhatikan yang penting-penting saja. Namun pada akhirnya, mengutip Sarah Gibson yang kini udah jadi anak FH, “ingat, roda itu berputar.”  Mungkin suatu hari akan datang episode breakdown yang baru perihal sepele, dan aku akan menemukan diriku terpuruk di dasar. Jika saat itu datang, mungkin aku cuma bisa pasrah dan menikmati kehampaan tersebut. Pilihan dan pencarian memang hal yang pribadi, namun memilih untuk tidak mencari juga sebuah pilihan.


Proyek iseng-iseng mendokumentasikan apa yang saya rasakan selama liburan 3 bulan menjamur, sambil menghindari kewajiban menulis yang sebenarnya. Tapi serius nih, kalau memang ada orang restorasi film yang membaca tulisan ini, tolong Apa Jang Kau Tjari, Palupi? untuk proyek restorasi film Indonesia selanjutnya. Semua orang harus bisa nonton film ini. Saya dukung!