Sejarah panjang kemalasan saya, dan usaha menyalahkan teknologi atas hal tersebut

255565
Apa yang terjadi di balik layar?

Aku mulai menulis tulisan ini minggu lalu setelah mengerjakan artikel mengenai media sosial berkenaan dengan pemikiran McLuhan dan Postman selama nyaris delapan jam berturut-turut. Aku langsung “merasa” telah mencapai kesadaran medium penuh. Sembari mengerjakan artikel, aku merasa terusik setiap kali mendapati diri tengah membuka Instagram untuk hal-hal remeh seperti menjawab komentar. Lebih parah lagi ketika aku tak sadar saat melakukannya karena refleks keseharian.

Sebagai yang digadang-gadang sebagai generasi millenial, tak terpisahkan dengan internet, aku merasakan betul dampak hidup bersama dan di dalamnya: aku menjadi sulit berkonsentrasi. Kebanggaan terbesarku saat kelas 4 SD adalah berhasil menyelesaikan edisi terjemahan Harry Potter and the Order of the Phoenix setebal lebih dari 1000 halaman, hanya dalam dua hari. Aku ingat betul buku itu diberikan kepadaku sebagai hadiah ulang tahun, dan seluruh akhir pekan kuhabiskan bersandar pada bantal di kepala tempat tidur untuk membaca, hanya sesekali bangkit jika ingin pipis atau makan. Sebelas tahun kemudian, aku membelikan diriku buku Nausea (yang aku taksir sejak dulu karena sampulnya), dan sejak 17 September lalu hingga kini, aku belum beranjak dari halaman 21. Mengerikan juga kalau dipikir-pikir.

Sulit untuk memetakan di mana perubahan pola tersebut terjadi, karena ia terjadi melalui proses evolusi yang panjang. Menilik kembali masa laluku, aku mengenal internet dan media sosial Facebook sejak kelas 5 SD, dengan penggunaan yang dibatasi selama satu jam sehari. Sejak SMP, kurangnya pengawasan membuatku bebas menggunakan internet rumah kapan saja. Pada tahap ini, aku mulai jarang menulis blog, meskipun mungkin itu hanya karena faktor kemalasan saja. Aku baru mulai memakai smartphone saat masuk SMA. Sejak kapan potensi produktivitas itu direpresi menjadi sikap yang pasif, menerima informasi terfragmentasi tanpa konteks? Sejak kapan penggunaan media sosial jadi sesuatu yang kompulsif dan terus-menerus? Tentu perubahannya tidak instan, terbentuk sedikit demi sedikit karena kebiasaan dan eksposur terhadap media sosial yang begitu mudah diakses dalam genggaman.

255569
Tombol “like” yang kehilangan fungsinya

Apakah perubahan tersebut memang tak terelakkan? Media sosial sudah sedemikian terintegrasi dalam hidup kita, “bahasa” kita sehari-hari terpadatkan dalam post-post singkat dan trivial, berkomunikasi dalam likes, follow, views, unfollow, block. Namun bahasa tersebut tak cukup mengatasi banjirnya informasi yang terjadi dalam satu kali scroll dalam linimasa Instagram. Dalam waktu tiga menit saja, kamu sudah mendapatkan banyak informasi, tak semuanya bermanfaat. Sebagian perihal kehidupan sosial orang lain, yang terkadang tak berkaitan dengan kita. Sebagian lagi iklan produk dari berbagai akun olshop  yang kamu follow itu. Tentu banyak juga post berfaedah perihal acara diskusi, kampanye sosial, peristiwa kebudayaan yang akan penting kamu hadiri, post tentang orang-orang terdekatmu, maupun berita penting yang terjadi di seluruh dunia. Bukan masalah berfaedah/tidaknya, namun informasi-informasi sekadar lewat tersebut kita terima dalam jumlah masif, dalam jangka waktu terlalu singkat untuk memprosesnya secara utuh. Otak kita seakan multitasking, seperti laptop yang disuruh buka Adobe Premiere, Adobe AfterEffects, dan Adobe Audition pada saat yang bersamaan.

Tapi multitasking itu sendiri sudah menjadi normal dalam keseharian di era Internet. Itu salah satu kemampuan yang dicari-cari dalam lowongan pekerjaan. Tidak perlu dilatih, kebiasaan multitasking menyingkapkan diri dalam gestur kita sehari-hari. Misalnya saat buka instagram teman, lalu penasaran mengecek temannya dia, olshop yang dimilikinya, sampai orang yang jadi model di olshop itu. Saat membuka Wikipedia, kita suka keasyikan membaca artikel, dan mengklik hyperlink di istilah dalam artikel tersebut, sehingga kita berakhir dengan 10 tab dalam jendela browser kita.

Bahkan tendensi ini menghambatku bikin karya ilmiah, karena setiap mendapatkan sumber, aku akan mencoba mencari sumber lain yang tampaknya berhubungan melalui sitasi dalam paragraf tertentu, buku lain yang ditulis pengarang tersebut, dan pemikir-pemikir lain yang berhubungan dengan dia. Puji Internet dan Gen Lib, semuanya dapat kuakses dengan sentuhan touchpad saja. Yang menjadi masalah selanjutnya, aku bahkan tak dapat berkonsentrasi membaca satu sumber saja. Timbul kebosanan atau kegelisahan bahwa apa yang kucari takkan ada di sini, lalu aku berpindah ke sumber lainnya. Hal ini akan berjalan lama sampai aku bingung sebenernya apa yang mau dibicarakan dalam paper ini. Selama prosesor otak Anda kokoh, cara pengerjaan ini lumrah saja. Namun, yang sering terjadi kepadaku, banyaknya informasi yang masuk dengan cara membaca cepat paragraf-paragraf tersebut tak mampu kuproses secara menyeluruh, sehingga dalam beberapa waktu, aku akan kebingungan sendiri dengan apa yang kukerjakan.

Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death membicarakan fenomena banjir informasi yang dimunculkan telegraf, fotografi, dan televisi. Namun, cara pandangnya masih relevan bagi beberapa orang dalam melihat media internet masa kini. Dalam membicarakan fakta-fakta terfragmentasi yang diperoleh melalui televisi, ia berkomentar:

In one form or another, each of these supplies an answer to the question, “What am I to do with all these disconnected facts?” And in one form or another, the answer is the same: Why not use them for diversion? for entertainment? to amuse yourself, in a game? [1]

Menurut Postman, media-media elektronik baru mentransformasikan dunia menjadi sebentuk peek-a-boo world atau “dunia petak umpet”, di mana peristiwa-peristiwa acak dan inkoheren muncul sementara, kemudian berlalu. Bayangkan meme di Twitter yang populer untuk sementara, atau berita-berita di seluruh dunia yang begitu cepatnya datang dan pergi. Namun, selayaknya petak-umpet, permainan itu berdiri sendiri, dan menyenangkan [2]. Ini dapat menjelaskan adiksi terhadap media sosial yang dimiliki banyak orang hari ini. Hiburan dapat diakses dalam genggaman, membentuk sebuah kebiasaan yang kompulsif dan pada akhirnya mengubah pola pikir kita untuk selalu mencari hiburan.

Nonton Mr Robot di kelas Filsafat Ketuhanan.

Postman, seperti banyak ramalan abad 20 lainnya, berpandangan cukup negatif tentang media elektronik. “Ramalan” ini cukup akurat dalam beberapa aspek, namun ia belum menggunakan kacamata kekinian yang sesuai dalam melihat potensi-potensi media masa kini. Nyatanya, internet tidak membunuh kemanusiaan. Masih banyak orang yang berkarya, bersisian dengan kehadiran Instagram, bahkan berhasil menjadikan platform tersebut sebagai medium publikasi karya maupun aktivitas kebudayaan lainnya. Kesadaran pengguna media penting di sini agar tidak tertarik arus, dan juga pemahaman akan bahasa media itu sendiri [3].

Selebihnya, butuh disiplin, fokus, dan kreativitas untuk menciptakan. Jika memang aku merasa “terbunuh” dan terdemotivasi karenanya, kesimpulannya hanya satu: memang aku yang malas! Entah bagaimana cara mengobatinya. Entah bagaimana, batinku sambil membuka jendela Netflix dan melanjutkan serial The Defenders yang tadi sedang kutonton. Satu episode lagi, lah!

Catatan Sikil
[1] Postman, 2005, p. 76
[2] ibid, p. 77
[3] Dipetik dari kesimpulan pertemuan Roman Picisan bersama teman-teman di Forum Lenteng, saat membicarakan millenial dan teknologi. (13 November 2018)

Referensi
Postman, Neil. 2005. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Showbusiness. New York: Penguin Books.

Advertisements

Membedah Komodifikasi Rasial dalam Industri Perfilman Amerika Kontemporer

Abstrak

Dewasa ini, film-film hasil produksi Hollywood bertema minoritas gender, rasial, etnik, maupun orientasi seksual mulai marak di layar lebar. Mengingat hakikat film sebagai refleksi dari realita setiap zaman di mana ia berada, kesimpulan yang biasa muncul adalah nilai-nilai millenial yang lebih progresif dan berorientasi kepada keberagaman turut mempengaruhi nilai yang dipegang para pelaku film di Hollywood. Namun, perlu diingat bahwa dunia perfilman di Hollywood memiliki arus birokrasi dan pertimbangan ekonomi layaknya industri massal manapun. Bukan tidak mungkin bahwa pengangkatan minoritas, terutama minoritas rasial, ke dalam layar hanyalah usaha Hollywood mendapatkan keuntungan dari konsumen yang sadar secara politis.

Kata kunci: Hollywood, rasisme, keberagaman, kapitalisme, masyarakat konsumsi, Baudrillard

Artikel ini ditulis sebagai UAS mata kuliah Filsafat Sosial, dan dapat diakses di sini.


Level mager: ngupload artikel biar blog gak sepi-sepi amat.

mother!: kekacauan yang tak butuh penjelasan

d27e0d8e-1c9f-4c39-91ad-75311f505590.jpeg

Baru kelar nonton mother! kemaren bareng adek saya, dan kami berdua merasa pusing setelahnya. Sepusing itu sampai saya harus kembali menulis (sambil nulis aja aing masih pusing). Akhirnya! Akhir tahun ini adalah waktu luang pertama saya sejak semester ini dimulai. Kalo gak pusing saya gak bakal nulis, dan melakukan satu hal yang tak sempat saya lakukan selama enam bulan terakhir: mager-mageran nirfaedah. Terima kasih saya ucapkan kepada rektorat dan Darren Aronofsky.

Film ini bercerita tentang sepasang suami istri (Jennifer Lawrence & Javier Bardem) yang tinggal di sebuah rumah bergaya Victoria di tengah rawa-rawa antah-berantah. Sang suami adalah seorang penulis yang kurang sukses, sedangkan tak ada keterangan mengenai pekerjaan istrinya kecuali dia jago betul-betulin rumah, jadi saya simpulkan dia seorang arsitek atau tukang bangunan. Ternyata, rumah tersebut pernah hancur dalam suatu kebakaran sebelum sang suami bertemu istrinya, dan sang istri sangat tekun mengembalikan detail-detail rumah tersebut seperti sedia kala. Suatu hari, ketenangan mereka diusik oleh kedatangan orang asing yang mengaku tersesat dan hendak menginap di rumah mereka. Keganjilan yang dirasakan sang istri tidak diindahkan oleh sang suami, malahan ia terus membuka pintu terhadap petaka demi petaka yang mengguncang rumah tangga mereka, secara harfiah.

Sekilas, film ini memiliki kemiripan dengan Black Swan, film Aronofsky sebelumnya, mulai dari subjek perempuan yang selalu bergulat dengan tekanan-tekanan dari sekitar mereka. Selain itu, kaburnya batas antara kenyataan dan imajinasi si tokoh memberikan ruang bagi kedua film ini untuk menggila dalam surealitasnya. Namun, saat surrealitas Black Swan berupa keindahan chaos dalam order, di film ini Aronofsky sepertinya sudah bodo amat. Berbagai macam keanehan dihadirkan dalam third act film, awalnya keanehan yang absurd dan komikal, sampai bikin mual dan marah. Kegilaan ini tak serta-merta muncul. Dari awal film, terasa kegelisahan yang merayap di balik situasi rumah tangga yang tampak tenang. Perasaan ini berlanjut, dan intensitasnya semakin meningkat. Sepanjang film saya berpikir, “Kenapa rasanya ada yang gak beres, ya.” Di akhir film pun saya simpulkan, mungkin otaknya Aronofsky yang gak beres. Tapi, saya sangat hargai itu. Dalam film, ada saatnya rasa lebih utama daripada makna, dan butuh sensitivitas tinggi bagi filmmaker untuk memunculkan pengalaman yang ganjil ini.

Dalam beberapa adegan, diperlihatkan karakter Jennifer Lawrence yang gelisah, lantas bergegas ke kamar dan meminum air yang dicampur sejumput bubuk kuning. Sebotol bubuk kuning disimpan di dalam botol di lemari obat, tempat obat penenang disimpan pada film Barat umumnya. Adegan ini mengingatkan saya kepada mitos tentang Van Gogh yang entah benar atau tidak, bahwa ia seringkali meminum cat warna kuning karena ingin merasakan kebahagiaan yang dilihatnya dalam warna kuning. Dengan latar belakang karakter sebagai arsitek, hal ini agak masuk akal dan cukup menyedihkan.  Saya pun mengembangkan interpretasi saya sendiri, bahwa kisah ini adalah derita seorang perempuan yang terus-menerus terhimpit laki-laki dan ego mereka. Menurut saya, cerita ini bisa menemukan arahnya dengan metafora itu. Namun, Aronofsky dan Lawrence sendiri mengungkapkan bahwa film ini dimaksudkan menjadi metafora Alkitab.

Intinya, film ini bekerja lebih baik ketika penonton diizinkan menafsirkannya. Pada akhirnya, membuat film adalah membuat misteri. Jangan sampai ketika film berakhir lantas misteri ikut bubaran. Jika film ini dimaksudkan jadi metafora Alkitab, intensinya agak pretensius dan moralis, sehingga sulit untuk menganggapnya serius. Saya juga sedikit banyak paham mengapa banyak orang yang tidak menyukai film ini. Selain hal-hal tadi, film ini juga meletakkan adegan pelecehan terhadap perempuan sebagai bagian dari metafora itu, tanpa memberikan perhatian terhadap isu yang benar-benar terjadi. Agak kesel juga nontonnya, tapi ya gimana. Emang ini film wajib ditonton sebenarnya, minimal sekali, supaya ngerasain aja nonton film yang bikin kesel. Jangan keselnya gara-gara nonton AADC2 atau Dilan doang.

Perasaan yang Datang Ketika Liburan Terlalu Lama #1

questioning-film-nasional_hlgh

Seusai menonton Apa Jang Kau Tjari, Palupi di Kinosaurus.  “Yang di luar dijaga agar jangan sampai masuk, dan yang di dalam dijaga agar jangan sampai keluar. Pesta ini berlangsung hingga besok.” Shot terakhir, Palupi menggedor-gedor pagar, putus asa. Siapa sangka perjalanan mencari kebahagiaan bisa memerangkap seseorang sedemikian rupa? Aku tidak sempat menulis resensi lengkap dari film ini karena pada saat itu sedang berlomba dengan tenggat waktu (siapa pula yang melewatkan konser Efek Rumah Kaca karena tuntutan korporat? Mudah sekali berpura-pura ikhlas di depan orang banyak, tapi dalam hati sebenarnya masih menyesal). Tapi film ini rasanya menghantuiku. Palupi mengira ia bisa menemukan kebahagiaan dalam dunia selebriti yang artifisial, dan tidak semua orang setuju dengannya. Namun, dalam nafas yang sama kita semua adalah Palupi—dalam perjalanan mencari, dengan cara kita sendiri-sendiri.

“Apa yang kau cari?” Tidak semua orang mau mengakui apa yang mereka cari. Hakikat kebahagiaan di masa kini sedikit membingungkan, apalagi dengan budaya media sosial. Orang-orang memamerkan kebahagiaan mereka di Instagram, entah dengan niat pamer atau berbagi rasa syukur, dan memang tidak ada yang salah dengan itu. Pada saat yang sama, ada ilusi bahwa kebahagiaan itu bukan untuk “dicari”. Banyak orang yang merasa kekurangan dan tidak tahu cara mengisi lubang dalam diri mereka, makanya budaya traveling, plugging off, buku-buku self-help, dan kursus yoga sedang laris-larisnya. Usaha-usaha ini dipinggirkan dengan narasi yang seolah berkata “sudahlah, hidup tak selamanya harus mengejar kebahagiaan. Pada akhirnya toh kebahagiaan hanyalah kepalsuan. Mari kita menderita bersama-sama.” Aneh, ketika kita diharapkan sudah bahagia—atau paling tidak cukup—sejak awal, namun usaha-usaha untuk mencari kebahagiaan tersebut malah dicibir oleh mereka yang tidak suka melihat kita lebih berbahagia daripada mereka. Atau ya, tidak semua orang mampu atau tahu cara untuk berbahagia. Konflik yang menarik.

Sudahlah, aku sebenarnya tidak ambil pusing juga. Soal-menyoal ini hanya cukup menarik untuk diamati. Seorang teman pernah bertanya “kok lo kayaknya enak banget, santai aja gitu kayak gak ada beban.” Seperti komentar orang-orang pada umumnya, tentu kesan ini tidak sepenuhnya betul. Aku gampang banget stres kalau ada tekanan. Tetapi, seiring dengan waktu, semakin mudah memisahkan antara diri kita dan rupa-rupa beliung kehidupan. Semakin mudah untuk memperhatikan yang penting-penting saja. Namun pada akhirnya, mengutip Sarah Gibson yang kini udah jadi anak FH, “ingat, roda itu berputar.”  Mungkin suatu hari akan datang episode breakdown yang baru perihal sepele, dan aku akan menemukan diriku terpuruk di dasar. Jika saat itu datang, mungkin aku cuma bisa pasrah dan menikmati kehampaan tersebut. Pilihan dan pencarian memang hal yang pribadi, namun memilih untuk tidak mencari juga sebuah pilihan.


Proyek iseng-iseng mendokumentasikan apa yang saya rasakan selama liburan 3 bulan menjamur, sambil menghindari kewajiban menulis yang sebenarnya. Tapi serius nih, kalau memang ada orang restorasi film yang membaca tulisan ini, tolong Apa Jang Kau Tjari, Palupi? untuk proyek restorasi film Indonesia selanjutnya. Semua orang harus bisa nonton film ini. Saya dukung!

Okja: Menguak Konspirasi yang Akan Mengejutkan Anda! Selengkapnya Di

Screenshot (262)

Sulit untuk menjelaskan premis Okja tanpa membuatnya terdengar seperti film yang sama sekali berbeda, tapi mari kita coba (lagi). Sebuah perusahaan yang dikepalai oleh Tilda Swinton mengklaim mereka menemukan jenis hewan baru, sesosok babi super ramah lingkungan. Mereka mengirim sejumlah babi tersebut ke peternak di seluruh dunia, dan menciptakan sayembara bagi peternak yang bisa membesarkan babi paling sehat sepuluh tahun kemudian. Tentu saja babi yang namanya dijadikan judul film ini lah yang meraih predikat tersebut. Mija, cucu peternak yang ikut tumbuh besar bersama Okja tidak rela melepaskan sahabatnya ke tangan para kapitalis. Ia pun memulai perjalanan nekat untuk mendapatkan Okja kembali.

Berbarengan dengan Mija, sebuah kelompok pecinta hewan  yang menamakan diri mereka ALF (Animal Liberation Front) turut mengejar Okja, tapi dengan alasan yang berbeda. Mereka berniat membongkar kebusukan perusahaan tersebut di balik citra baiknya.

okja.0

Screenshot (260)

Pertama, gue pengen ngomentarin cast ensemble-nya yang menyenangkan. Denger Tilda Swinton sama Jake Gyllenhaal aja udah pasti pengen nonton. Banyak aktor dan aktris yang ga terduga tapi boleh banget kayak Lily Collins, STEVEN YEUN, dan Paul Dano (more on that later!!). Bahkan Devon Bostick yang dulu gue naksir banget pas Diary of A Wimpy Kid tahu-tahu muncul padahal doi ga pernah muncul di mana-mana lagi sekarang. Seo-Hyun Ahn, pemeran Mija, meskipun pendatang baru  tapi peranannya mampu menampilkan emosi yang nyata di layar.

Dapat dibukukan di bawah kategori Konspirasi yang Akan Mengejutkan Anda, gue mafhum melihat nama Jon Ronson sebagai penulis skrip film ini bersama dengan Bong Joon-Ho. Waktu kelas 12 gue pernah minjem buku The Psychopath Test punya teman—selain karena sampulnya bagus, saat itu gue masih tertarik psikologi. Itu bukan jenis buku yang biasa gue baca, namun Jon Ronson dapat membuat penyelidikan konspirasi di balik konsep “psikopat” menjadi lebih menarik dengan humor absurdnya. Unsur konspirasi kental banget di film ini, apalagi di adegan akhir saat Mija masuk ke rumah jagal. Ketertarikan Ronson terhadap humor deadpan dan penempatan tokoh-tokoh nyaris fiksional dalam karyanya juga tampak dalam karakterisasi film ini. Lucy Mirando (Tilda Swinton), CEO yang berusaha mengkonstruksi keriangan janggal dengan dekorasi serba pink untuk menutupi kerapuhan dirinya. Johnny Wilcox (Jake Gyllenhaal) pemandu acara TV petualangan hewan yang kini sudah tidak laku dan baper karenanya. Ada pula geng ALF yang tampangnya kayak maling namun sebenarnya maling hatimu. Waduh.

Elemen-elemen chaotic ini hanya berhasil karena dipadu dengan apik oleh Bong Joon-Ho. Oke, di sini gue berisiko sok tau karena belum pernah nonton film arahan beliau yang lainnya. Tapi gue yakin siapa pun bisa merasakan keterpaduan ini. Bong Joon-Ho memproyeksikan kenyataan dengan caranya sendiri, seolah bola dunia dimiringkan nol koma sekian derajat untuk mengizinkan dosis absurdisme yang lebih besar. Mulai dari keteraturan kota Seoul sebelum diobrak-abrik Mija dan kawan-kawan; usaha para anak buah Tilda Swinton untuk merombak citra Mirando; sampai tingkah-polah squad ALF yang komikal. Anehnya, segala kekacauan ini masih bisa nyambung sama suasana zen di pegunungan rumah Mija yang straight out of film Ghibli. Okja yang berguling-guling manja di tengah hutan udah ga ada bedanya sama Totoro. Akulturasi antara kedua alam ini merupakan sesuatu yang belum pernah gue lihat sebelumnya, namun berhasil. Satu lagi poin penting adalah bagaimana film ini berkali-kali mengkhianati ekspektasi penonton dan keluar dari rumus yang sudah berulang kali dipakai di film-film sebelumnya.

Paul_Dano_in_Okja

Dalam tiga hari terakhir gue sudah menonton film ini dua kali. Gue tidak kembali karena kisah persahabatan penuh haru antara Mija dan Okja, namun karena Paul Dano dan ALF—terutama karena Paul Dano. Sebelum ini gue pernah ketemu dengan beliau di Swiss Army Man sebagai lelaki menderita yang perlahan menemukan kebahagiaan ketika melepaskan diri dari tekanan sosial. Drama abis, dan acting-wise lebih sulit daripada perannya di Okja. Namun justru itu masalahnya. Di sini dia jadi Jay, bos komplotan yang kalem namun kokoh. Dua kali karakter ini melakukan hal-hal yang tidak terduga dari yang gue pikirkan, dan itu keren banget. Ia mampu merekatkan timnya dalam situasi krisis apa pun dengan suaranya yang lembut dan sorot matanya yang surgawi. Kalo lagi Idul Adha dia disamperin secara pribadi oleh Pak Haji untuk datang dan mengelus sapi yang ajalnya sudah di pelupuk agar mereka tenang. Jay di sini nggak ganteng instan seperti Poe Dameron di The Force Awakens. Namun untuk gue yang berada dalam kegelisahan permanen di mana pun dan kapan pun, manusia seperti beliau jadi atraktif. Paul Dano tolong pegang saya. Iya Pak, tolong jemput saya kalo mati biar keluarnya gampang. Fancast: Paul Dano as malaikat Izrail.

Okja_ALF-768x321

ALF juga seru sih, keberadaan mereka membuat film ini terasa kayak heist movie but with a pig… a pig heist movie. Penampakan pertama mereka kayak teroris tapi organisasi mereka punya kode etik yang sudah berjalan 40 tahun yang melarang mereka melakukan kekerasan terhadap hewan dan sesama manusia. Secara teori terdengar mulia. Secara praktis, konyol. Bayangin aja mereka ngelawan polisi dan sekuriti tapi ga boleh pake kekerasan, kalo perlu minta maaf. Tapi dalam beberapa momen, prinsip ini justru jadi mengharukan.  Mata ganti mata tidak membuat seseorang jadi lebih mulia dari lawannya. Tapi di sini ALF adalah perkumpulan yang mencoba untuk lebih baik dari orang-orang yang menggunakan kekerasan pada hewan dan itu keren. Tampak juga paralel antara ALF dengan hewan yang mereka bela, di mana hewan-hewan yang dizolimi manusia dan tidak bisa melawan. Meskipun ALF jadi comic relief yang menyenangkan, secara prinsip dan metaforis mereka leh uga. Persetan dengan  Kapitan Ameriki dan Gal Gadot produk Yahudi lah~

Film ini kabarnya bikin banyak orang jadi males makan daging karena melihat kenyataan di balik industri makanan. Ya memang ~keajaiban sinema~ bercampur dengan empati yang tinggi kalo pesennya beneran nyampe. Meskipun kalo besoknya dimasakin ibu ayam goreng tetep dimakan.  Ga papa sih. Entahlah, kalo gue rasanya bakal tetep makan daging dalam rangka melangsungkan rantai makanan  dan sejujurnya karena saya egois. Jangan dihujat ya.

2d3f5b62910e6925cc56ad24acb3a925.jpg

Buat gue, film ini bikin mikir betapa absurdnya menjadi orang yang bersahabat sama hewan tapi tetap makan daging. Yaa gimana yak, si Mija ini melihara Okja yang dia bela-belain kejar sampe ke New York tapi juga melihara ayam, yang kemungkinan untuk disuruh bertelur dan dipotong. Manusia boleh berargumen bahwa ayam yang mereka potong diperlakukan lebih (manusiawi? binatang-wi?) animal-friendly dibandingkan industri makanan yang digambarkan di Okja, tapi coba aja tanya sama ayamnya, memang beliau mau dibunuh untuk dimakan? Mengapa, misalnya, orang yang makan anjing dihujat, tapi orang makan steak di restoran biasa aja? Stratifikasi tak tertulis ini sebenarnya tidak masuk akal juga. Mungkin hewan-hewan domestik seperti anjing dan kucing diberi kedudukan spesial oleh manusia karena tampang mereka lucu dan “bisa dipelihara”. Tapi jika anda memelihara hewan ternak sebagai sahabat anda, akan tercipta ikatan emosional antara anda dan hewan tersebut sehingga anda takkan rela kalau hewan itu dipotong, seperti si Mija ini.

Jika anda terlahir sebagai hewan, nasib anda ditentukan oleh relasi kuasa yang anda miliki dengan manusia, bahkan terkadang anda tidak dapat melakukan apa pun untuk mengubahnya. Dan manusia-lah yang sering mengeluh bahwa hidup itu tidak adil.

DDeMgD2WAAAsGk8

Gapapa, pengen aja naro gambar ini di sini hehe~

Pak Ahok, Tolong Ajarin Saya Kung-Fu!

Sesungguhnya gue lagi bete. Sudah semingguan, mungkin lebih, berlangsungnya kebetean ini. Meskipun sulit, gue akan berusaha menjelaskan penyebabnya dalam tulisan ini. Mungkin tulisan ini ujung-ujungnya hanya jadi curcol semata karena gak menyelesaikan kepelikan apa pun yang sedang dihadapi bangsa kita. Gue cuma pengen berbagi apa yang gue rasakan sekarang, kegelisahan yang mendalam di hari kesaktian pancasila.

Bayangkan diri lo dalam posisi hidup normal, tak terganggu dalam hal apa pun. Pada suatu hari, lo hidup seperti biasa. Makan, mandi, ngomong sama orang, melakukan tugas lo. Kemudian, lo melakukan sebuah kesalahan, seperti layaknya manusia biasa. Lo sendiri gak bisa mengukur apakah kesalahan itu besar atau kecil; yang pasti itu fatal, karena mendadak orang beramai-ramai menghujat lo di media sosial. Ga cuma sebatas mengomentari, namun sampai mengutuk-ngutuk, menyumpahi kematian lo, dan hal-hal lainnya yang sebenernya gak terkait sama sekali sama kesalahan yang lo perbuat: keluarga, etnis, agama lo.

Selanjutnya ya, satu hal mengarah ke hal lainnya. Kita semua menyaksikan tahun lalu, bagaimana ribuan orang bener-bener turun ke jalan dan menolak keberadaan Ahok; udah gak jelas lagi kenapa dia tidak diinginkan, entah karena kesalahannya, identitas beliau sebagai minoritas, bercampur dengan bensin-bensin politik yang membuat kasusnya lebih besar dari yang seharusnya. Alasan lo adalah membela Tuhan, tapi apakah Tuhan rela dibela dengan cara caci-maki, kekerasan,  dan pemutusan tali silaturahmi yang diputuskan oleh umat-Nya? Bahkan beberapa masjid tidak bersedia untuk memandikan jemaah yang memilih Ahok. Ada banyak alasan mengapa hal tersebut tidak seharusnya terjadi, dan rasanya gue udah terlalu lelah untuk menjelaskannya lebih jauh.

Penindakan oleh pasal penistaan agama. Pasal 156 yang sebenarnya pasal karet, karena tidak menjelaskan seperti apa “penodaan” agama yang dimaksud. Sejauh apa sesuatu dapat dibilang menodakan agama dan sesuatu dapat dibilang hanya kritik belaka? Apakah hanya tergantung pendapat mayoritas, yang jauh dari berkualifikasi untuk menentukan sesuatu yang bersifat tidak duniawi? Bukankah itu tergantung pendapat Tuhan yang memiliki agama tersebut? Kalaupun memang seseorang berhak dihukum atas penistaan yang mereka lakukan, bukankah itu hak Tuhan untuk menghukum mereka, bukan sesama manusia yang tentunya juga tak luput dari kesalahan?

Ahok pun akhirnya dipenjara. Bukan karena proses peradilan yang semestinya, namun karena tekanan massa. Tak urung beberapa orang menyamakan Ahok dengan Socrates, filsuf era Yunani kuno yang dihukum mati karena menyadarkan banyak orang untuk mulai berpikir kritis, dan dianggap mengganggu kemapanan penguasa. Para pendukungnya menyatakan Ahok kalah terhormat. Lilin-lilin dinyalakan, lagu nasional dinyanyikan. Dukungan simbolik, perlawanan dalam diam.

Tapi yang benar-benar menyadarkan gue adalah hal serupa yang terjadi kepada seorang kawan. Hanya karena sebuah kesalahan, ia menjadi target amarah dari banyak orang. Mereka mengaku menghujat dalam usaha membela sesosok entitas mahaagung, namun perilaku mereka berlawanan sekali dengan apa yang mereka bela. Hal ini dibicarakan terus-menerus selama seminggu. Memang apa yang ia terima tidak sebanding dengan cobaan kepada Ahok, namun ketika lo mengenal orangnya, rasanya semua hujatan yang ditujukan kepadanya seperti disorot kaca pembesar. Semuanya jadi personal. Ada beban mental, perasaan terancam, dan pikiran-pikiran lainnya yang ga seharusnya jadi beban seseorang, apalagi dalam minggu UAS.

Pada akhirnya, semua berakhir dengan damai. Masalah selesai. Senada dengan “kekalahan terhormat” yang ditanggung Ahok. Toh beliau masih kuat, bertahan, agaknya lumayan hepi di penjara karena mulai belajar kung-fu dan tidur cukup. Tapi pada akhirnya, ada konsekuensi yang harus kita bayar bersama-sama. Ada pihak tidak bertanggung jawab yang telah merusak riwayat pribadi dan nama mereka. Progress yang diprakarsai Ahok berisiko terhambat, atau terhentikan sama sekali. Dalam level personal, mungkin pribadi seseorang yang telah terekspos caci-maki borok-borok kemanusiaan akan berubah, dalam cara apa pun. Mungkin ada luka yang takkan sembuh. Keyakinan mendalam bahwa sejatinya kemanusiaan sudah punah. Mungkin mereka juga bertambah kuat. Gue pribadi tidak suka menyebut peristiwa ini “blessing in disguise”, meskipun pernyataan tersebut ada benarnya, namun kedengaran terlalu post-factum. “Semua ada hikmahnya”, seakan-akan hanya itulah yang bisa kita lakukan. Kita tidak bisa membalas atau memenjarakan orang yang ramai-ramai menjerit “Bunuh Ahok!!!!”. Kita tidak bisa membuat orang lain berpikir sesuai dengan cara kita. Apa yang kita sebut logis dan masuk akal agaknya merupakan versi yang sama sekali berbeda dari logisnya mereka.

Terus kita bisa ngapain?

Jujur, itulah yang gue tanyakan terus-menerus.

Gue pernah membaca twit yang kurang lebih berkata “Jika yang waras selalu mengalah, dunia akan dipimpin orang gila.” Itulah yang gue rasakan sekarang. Ada pihak yang memiliki keinginan, yang sebenarnya tidak begitu masuk akal. Jika keinginan tersebut tidak diikuti, pihak tersebut akan melancarkan serangan penuh kekerasan yang membuat kita semua resah. Kita terpaksa mengalah, karena jika tidak, artinya kita cari mati, memulai perang. Kita seperti diperalat, dan tidak berdaya melawan mereka yang terus menyebarkan pesan-pesan intoleransi.

Sebenarnya gue merasa tidak ada gunanya membuat tulisan ini. Makanya gue cuma bilang ini curcol semata. Masalahnya, gue yakin yang bisa memahami inti dari tulisan ini cuma golongan orang-orang rasional yang pastinya gak bakal teriak-teriak “bunuh Ahok” di tengah jalan atau menganjing-anjingkan orang yang berbuat salah di media sosial. Tapi orang-orang yang rasional gak butuh tulisan ini. Yang butuh dibikin paham adalah orang-orang bersumbu pendek yang cepat menghakimi. Tapi kita tidak bisa membuat mereka memahami kita, karena intoleransi adalah intoleransi.

Gue merasa seperti menghadapi jalan buntu. Seperti ada yang memecahkan gelembung “aman” gue yang cuma kuliah-makan-ngerumpi-nugas-nonton film, dan kini gue merasa dikelilingi oleh ancaman terhadap rasa kemanusiaan kita. Bahkan kini, sepertinya mulut gue takkan pernah berhenti mencetuskan, “Kok orang bisa ya, sejahat itu. Gak pake mikir. Gak masuk akal.” Gue sempet pusing banget karena masalah ini, sulit untuk mencerna perbedaan drastis antara situasi ideal yang saling menghargai, kesadaran atas rasa kemanusiaan yang kolektif; dan situasi yang ada sekarang. Ketika lo belajar Logika dan jenis-jenis kesesatan pikir, lo udah punya bayangan ideal bagaimana seseorang harus bertindak; rasional, dari A ke B, B ke C, C ke D, dan asumsi bahwa mereka punya kesadaran penuh bagaimana perbuatan mereka bisa berefek ke yang lain. Di semester-semester selanjutnya gue masih akan belajar Etika, bagaimana prinsip baik dan buruk dilihat dari berbagai sudut pandang filosofis. Lah, buat apa gue belajar Logika kalo dalam kenyataan masih banyak orang yang tidak rasional maupun konsisten dalam perkataan dan perbuatan mereka? Buat apa gue belajar Etika, kalau baik dan buruk sudah kabur, dan orang akan melakukan apa pun atas dasar kebencian?

Ada titik di mana gue udah bener-bener capek sampe gue nangis karena hal ini. Nangis sambil pengen ketawa. Lucu, betapa sesuatu yang hanya bisa kita lihat di TV, baca di media sosial, dan dengar dari omongan orang bisa mempengaruhi gue segitunya. Gue tidak disakiti secara langsung dan personal, namun gue merasa disakiti. Apakah tingkat empati gue sudah setinggi itu, sehingga bisa merasa satu dengan kemanusiaan: kumpulan orang-orang yang gak gue kenal sama sekali, mereka yang terluka dan terlecehkan? Apakah keadaan kita memang seburuk itu? Apakah mungkin gue cuma orang yang baperan?

Pada saat-saat gelap seperti ini bokap gue selalu hadir. Ia bilang bahwa ada dua jalan keluar yang mungkin untuk masalah ini. Yang pertama, jangka pendek, yaitu tindakan tegas dari hukum dan otoritas; yang jujur tidak bisa kita andalkan sepenuhnya, karena lihat saja apa yang mereka lakukan kepada Ahok. Mungkin kita butuh banyak figur otoritas yang berani dan bersih seperti Ahok, karena jika beliau berdiri sendirian ia akan tumbang. Untuk bisa mencapai keadaan tersebut, butuh solusi kedua yang bersifat jangka panjang, yaitu pendidikan. Mungkin klise. Tapi jika kita menanamkan kebiasaan-kebiasaan kecil mulai dari berpikir kritis sampai kebebasan berimajinasi dan berpendapat, mungkin kita bisa memunculkan generasi-generasi yang bisa menggunakan otaknya sedikit. Paling tidak, mereka yang cukup paham untuk gak main kekerasan, hakim sendiri, mampu bertenggang rasa dan bisa berempati kepada orang lain sebagai sesama manusia.

Sumpah, gue takut. Gak cuma takut sama kondisi negara ini, dan apa yang menanti di masa depan. Gue takut gue gak berani mengambil langkah yang dibutuhkan pada waktunya, gue takut gue akan kembali kepada kenyamanan gue dan kembali menjadi mayoritas yang diam. Gue takut cuma berani ngomong doang. Tapi paling tidak gue sudah menyuarakan rasa takut gue.

Maka, selamat hari lahir Pancasila, yang telat sehari. Jika gue mau “mengambil hikmah” dari semua peristiwa belakangan, mungkin kita semua jadi lebih memaknai Pancasila kali ini sebagai sesuatu yang lebih darurat dan perlu dilindungi. Kita tidak pernah tahu makna sesuatu sampai ia direnggut dari kita, ungkapan itu memang benar dalam kasus ini. Mungkin. Semoga tidak hanya slogan atau foto editan Picsart yang dipajang di Instagram biar hits.  Ga cuma foto yang dipajang di depan kelas, tak pernah disentuh sementara foto presiden di sebelahnya terus berganti. Semoga bisa bener-bener jadi sesuatu. Gue pengen banget kita semua berhenti menjaga keberagaman demi formalitas semata, namun karena kesadaran internal bahwa pada akhirnya kita semua sama-sama manusia.

Perihal Keterasingan

Sejak SD dalam pelajaran IPS siswa-siswa seantero negeri selalu didoktrin bahwa manusia adalah makhluk sosial. Buku-buku cetak tersebut selalu mengagungkan kerja bakti, gotong-royong, permainan-permainan tradisional yang membutuhkan kontak langsung dengan tetangga-tetangga sebaya, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut memang dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat, tapi apakah hidup kita selalu bermasyarakat? Apakah kita tidak punya momen-momen privat ketika kita memilih diam dan mendengarkan batin kita masing-masing? Apakah semua orang diharapkan untuk selalu aktif dan energik dalam semua bentuk interaksi sosial—tak peduli dia ekstrovert atau introvert?

Contoh yang sederhana, penempatan konotasi buruk dalam kata “individualistis”. Hal ini sering digunakan dalam pendidikan karakter ala-ala, bersanding dengan kata kunci “pengaruh budaya Barat” dan “kehidupan perkotaan”. Tidak ada salahnya menjadi seorang individualis—mungkin kita merasa lebih nyaman dengan diri sendiri. Seorang individualis bisa mengenali dirinya dengan baik; dari minat, tujuan hidup, dan metode kerja yang cocok dengan dirinya. Jika demikian, bisa jadi seorang individualis lebih prinsipil dalam situasi-situasi tertentu dan punya empati terhadap orang lain. Bahkan, beberapa pemikiran terbesar lahir dalam perenungan diri, di antaranya Rene Descartes dengan cogito ergo sum, dan Isaac Newton dengan gaya gravitasi. Kemudian, ledekan santai “ansos” yang dari penggunaan katanya saja sudah salah kaprah karena perilaku antisosial (berontak terhadap masyarakat, agresif, “berbahaya”) berbeda dengan asosial (tidak suka bergaul). Kalau misalnya asosial, kenapa? Bisa jadi lingkungannya yang tidak cocok atau kurang peka dalam menerima yang bersangkutan, atau mungkin mereka saja yang suka menyendiri.

Gue sendiri mengalami sendiri periode kesendirian yang tidak gue inginkan semasa SMA. Ada semacam culture shock saat pindah dari SMP negeri ke SMA swasta Katolik, dan ternyata teman-teman sekelas yang gue kenal di awal sudah memiliki peer group masing-masing yang kurang cocok sama gue. Lama kelamaan gue pun lebih nyaman menyendiri, namun dalam keadaan itu pun gue masih tertekan. Gue pengen bisa punya inside joke dengan teman-teman, bisa ketawa-ketawa dengan bebas dan merasakan kebahagiaan semu seperti yang gue saksikan setiap harinya. Masalah baru pun bertambah karena gue merasa beberapa orang membicarakan gue karena kebiasaan menyendiri yang dianggap tidak lumrah tersebut, entah spekulasi ini benar atau tidak. Bahkan teman-teman yang ramah pun biasa menyapa gue dengan “loh, kok sendirian aja?” Kembali lagi: konotasi negatif dalam kata “sendirian”.

Setelah lepas dari semua itu, gue menyadari bahwa perasaan terasing dan tertekan yang gue alami merupakan produk dari lingkungan dan diri yang kurang matang. Gue kurang mampu menebalkan muka dan fokus pada tujuan diri; sementara lingkungan sosial gue pada masa ini memang kurang nyambung, dan ini bukan salah siapa-siapa. Di akhir SMA pun gue akhirnya memiliki peer group yang menyenangkan, yang cukup membantu gue berkoneksi dengan teman-teman lainnya. Namun hal ini tidak menghapus kesulitan yang telah gue alami selama dua tahun pertama, yang kini hanya bisa gue refleksikan sebagai salah satu fase menarik dari hidup.

Berbeda dengan lingkungan sosial gue saat ini, yang bisa gue nilai sehat dan terbuka. Gue merasa bisa diterima oleh peer group dengan pikiran yang jauh lebih maju. Bukan berarti sekarang gue tidak membutuhkan waktu sendiri. Dalam posisi sekarang gue justru merasa lebih leluasa untuk menyendiri. Di satu sisi, gue mulai melepas diri dari pandangan orang lain dan lebih fokus kepada bagaimana cara mengembangkan minat dan potensi yang gue miliki; di sisi lain, gue tahu teman-teman akan menghargai keputusan saya untuk menyepi. Posisi yang ideal, di mana gue masih bisa menikmati keheningan dan menggali potensi diri tanpa kehilangan keyakinan bahwa gue tidak benar-benar sendirian. Ibaratnya seperti kemampuan untuk tidur lelap karena ada jaminan bahwa kita akan terbangun lagi.

Namun tidak semua orang seberuntung gue. Beberapa orang yang gue kenal masih terjebak di lingkungan sosial yang tidak sehat, bahkan setelah mereka kuliah: tidak cocok dengan peer group mereka, atau dijauhi karena dianggap aneh. Malahan masih ada saja yang saling membicarakan di belakang atau terikat dengan peer group dengan budaya “asal solid”, yang menciptakan kecenderungan konformis dan menghapuskan originalitas individu mereka. Jika dikaitkan dengan Karl Marx, yang memaknai “pengasingan” sebagai terasingnya individu dari jati diri mereka karena terikat dengan sistem, ini menciptakan paradoks tersendiri. Masalah yang lebih besar dari pengasingan yang sukarela adalah keterasingan yang tidak disadari.

Satu lagi contoh yang sangat menyentil adalah sebuah adegan dalam Ada Apa Dengan Cinta, di mana Rangga mengatakan bahwa Cinta tidak punya pendirian karena selalu mengikuti kegemaran teman-temannya. Meskipun dari awal film sudah ditegaskan bahwa Cinta sebagai pemimpin geng selalu menjadi penggiring opini peer group-nya, ada momen-momen keterasingan yang ia alami saat bersama kawan-kawannya. Ia terikat dengan peran yang diharapkan darinya sebagai sosialita sekolah, yaitu hubungannya dengan Borne, meskipun ia tidak cocok sama sekali dengannya. Cinta pun berusaha menyembunyikan perasaannya terhadap Rangga karena ia takut dihakimi teman-temannya. Padahal hanya dengan Rangga ia bisa bebas merasa nyaman dan menjadi diri sendiri. Jika demikian, mana yang sebenarnya lebih terasing: Rangga atau Cinta?

Pada akhirnya, apa makna keterasingan itu sendiri? Terlepas dari dikotomi penyendiri/populer; introvert/ekstrovert, siapapun bisa menjadi terasing: entah terasing dari masyarakat atau terasing dari dirinya sendiri. Disadari atau tidak. Namun pilihan untuk menyendiri tidak otomatis membuat kita terasing.  Sering kali keterasingan ini timbul dari individu atau lingkungan sosial yang kurang dewasa dalam bersikap, sehingga memunculkan tekanan dan keresahan di kedua belah pihak. Namun, sampai hari ini gue masih suka merasa gelisah sewaktu-waktu, apakah kehidupan sosial yang sehat ini membuat gue terlalu nyaman dan kehilangan orisinalitas diri?


Diadaptasi dari tugas Filsafat Manusia, tulisan yang ditugaskan sebagai pengantar ke materi Keterasingan (alienation and estrangement). Karena saya lagi males nulis lagi. Meskipun keseluruhan post ini tidak sepenuhnya cocok sama definisi keterasingan secara teori sih. Yak, siap.