mother!: kekacauan yang tak butuh penjelasan

d27e0d8e-1c9f-4c39-91ad-75311f505590.jpeg

Baru kelar nonton mother! kemaren bareng adek saya, dan kami berdua merasa pusing setelahnya. Sepusing itu sampai saya harus kembali menulis (sambil nulis aja aing masih pusing). Akhirnya! Akhir tahun ini adalah waktu luang pertama saya sejak semester ini dimulai. Kalo gak pusing saya gak bakal nulis, dan melakukan satu hal yang tak sempat saya lakukan selama enam bulan terakhir: mager-mageran nirfaedah. Terima kasih saya ucapkan kepada rektorat dan Darren Aronofsky.

Film ini bercerita tentang sepasang suami istri (Jennifer Lawrence & Javier Bardem) yang tinggal di sebuah rumah bergaya Victoria di tengah rawa-rawa antah-berantah. Sang suami adalah seorang penulis yang kurang sukses, sedangkan tak ada keterangan mengenai pekerjaan istrinya kecuali dia jago betul-betulin rumah, jadi saya simpulkan dia seorang arsitek atau tukang bangunan. Ternyata, rumah tersebut pernah hancur dalam suatu kebakaran sebelum sang suami bertemu istrinya, dan sang istri sangat tekun mengembalikan detail-detail rumah tersebut seperti sedia kala. Suatu hari, ketenangan mereka diusik oleh kedatangan orang asing yang mengaku tersesat dan hendak menginap di rumah mereka. Keganjilan yang dirasakan sang istri tidak diindahkan oleh sang suami, malahan ia terus membuka pintu terhadap petaka demi petaka yang mengguncang rumah tangga mereka, secara harfiah.

Sekilas, film ini memiliki kemiripan dengan Black Swan, film Aronofsky sebelumnya, mulai dari subjek perempuan yang selalu bergulat dengan tekanan-tekanan dari sekitar mereka. Selain itu, kaburnya batas antara kenyataan dan imajinasi si tokoh memberikan ruang bagi kedua film ini untuk menggila dalam surealitasnya. Namun, saat surrealitas Black Swan berupa keindahan chaos dalam order, di film ini Aronofsky sepertinya sudah bodo amat. Berbagai macam keanehan dihadirkan dalam third act film, awalnya keanehan yang absurd dan komikal, sampai bikin mual dan marah. Kegilaan ini tak serta-merta muncul. Dari awal film, terasa kegelisahan yang merayap di balik situasi rumah tangga yang tampak tenang. Perasaan ini berlanjut, dan intensitasnya semakin meningkat. Sepanjang film saya berpikir, “Kenapa rasanya ada yang gak beres, ya.” Di akhir film pun saya simpulkan, mungkin otaknya Aronofsky yang gak beres. Tapi, saya sangat hargai itu. Dalam film, ada saatnya rasa lebih utama daripada makna, dan butuh sensitivitas tinggi bagi filmmaker untuk memunculkan pengalaman yang ganjil ini.

Dalam beberapa adegan, diperlihatkan karakter Jennifer Lawrence yang gelisah, lantas bergegas ke kamar dan meminum air yang dicampur sejumput bubuk kuning. Sebotol bubuk kuning disimpan di dalam botol di lemari obat, tempat obat penenang disimpan pada film Barat umumnya. Adegan ini mengingatkan saya kepada mitos tentang Van Gogh yang entah benar atau tidak, bahwa ia seringkali meminum cat warna kuning karena ingin merasakan kebahagiaan yang dilihatnya dalam warna kuning. Dengan latar belakang karakter sebagai arsitek, hal ini agak masuk akal dan cukup menyedihkan.  Saya pun mengembangkan interpretasi saya sendiri, bahwa kisah ini adalah derita seorang perempuan yang terus-menerus terhimpit laki-laki dan ego mereka. Menurut saya, cerita ini bisa menemukan arahnya dengan metafora itu. Namun, Aronofsky dan Lawrence sendiri mengungkapkan bahwa film ini dimaksudkan menjadi metafora Alkitab.

Intinya, film ini bekerja lebih baik ketika penonton diizinkan menafsirkannya. Pada akhirnya, membuat film adalah membuat misteri. Jangan sampai ketika film berakhir lantas misteri ikut bubaran. Jika film ini dimaksudkan jadi metafora Alkitab, intensinya agak pretensius dan moralis, sehingga sulit untuk menganggapnya serius. Saya juga sedikit banyak paham mengapa banyak orang yang tidak menyukai film ini. Selain hal-hal tadi, film ini juga meletakkan adegan pelecehan terhadap perempuan sebagai bagian dari metafora itu, tanpa memberikan perhatian terhadap isu yang benar-benar terjadi. Agak kesel juga nontonnya, tapi ya gimana. Emang ini film wajib ditonton sebenarnya, minimal sekali, supaya ngerasain aja nonton film yang bikin kesel. Jangan keselnya gara-gara nonton AADC2 atau Dilan doang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s