film

Okja: Menguak Konspirasi yang Akan Mengejutkan Anda! Selengkapnya Di

Screenshot (262)

Sulit untuk menjelaskan premis Okja tanpa membuatnya terdengar seperti film yang sama sekali berbeda, tapi mari kita coba (lagi). Sebuah perusahaan yang dikepalai oleh Tilda Swinton mengklaim mereka menemukan jenis hewan baru, sesosok babi super ramah lingkungan. Mereka mengirim sejumlah babi tersebut ke peternak di seluruh dunia, dan menciptakan sayembara bagi peternak yang bisa membesarkan babi paling sehat sepuluh tahun kemudian. Tentu saja babi yang namanya dijadikan judul film ini lah yang meraih predikat tersebut. Mija, cucu peternak yang ikut tumbuh besar bersama Okja tidak rela melepaskan sahabatnya ke tangan para kapitalis. Ia pun memulai perjalanan nekat untuk mendapatkan Okja kembali.

Berbarengan dengan Mija, sebuah kelompok pecinta hewan  yang menamakan diri mereka ALF (Animal Liberation Front) turut mengejar Okja, tapi dengan alasan yang berbeda. Mereka berniat membongkar kebusukan perusahaan tersebut di balik citra baiknya.

okja.0

Screenshot (260)

Pertama, gue pengen ngomentarin cast ensemble-nya yang menyenangkan. Denger Tilda Swinton sama Jake Gyllenhaal aja udah pasti pengen nonton. Banyak aktor dan aktris yang ga terduga tapi boleh banget kayak Lily Collins, STEVEN YEUN, dan Paul Dano (more on that later!!). Bahkan Devon Bostick yang dulu gue naksir banget pas Diary of A Wimpy Kid tahu-tahu muncul padahal doi ga pernah muncul di mana-mana lagi sekarang. Seo-Hyun Ahn, pemeran Mija, meskipun pendatang baru  tapi peranannya mampu menampilkan emosi yang nyata di layar.

Dapat dibukukan di bawah kategori Konspirasi yang Akan Mengejutkan Anda, gue mafhum melihat nama Jon Ronson sebagai penulis skrip film ini bersama dengan Bong Joon-Ho. Waktu kelas 12 gue pernah minjem buku The Psychopath Test punya teman—selain karena sampulnya bagus, saat itu gue masih tertarik psikologi. Itu bukan jenis buku yang biasa gue baca, namun Jon Ronson dapat membuat penyelidikan konspirasi di balik konsep “psikopat” menjadi lebih menarik dengan humor absurdnya. Unsur konspirasi kental banget di film ini, apalagi di adegan akhir saat Mija masuk ke rumah jagal. Ketertarikan Ronson terhadap humor deadpan dan penempatan tokoh-tokoh nyaris fiksional dalam karyanya juga tampak dalam karakterisasi film ini. Lucy Mirando (Tilda Swinton), CEO yang berusaha mengkonstruksi keriangan janggal dengan dekorasi serba pink untuk menutupi kerapuhan dirinya. Johnny Wilcox (Jake Gyllenhaal) pemandu acara TV petualangan hewan yang kini sudah tidak laku dan baper karenanya. Ada pula geng ALF yang tampangnya kayak maling namun sebenarnya maling hatimu. Waduh.

Elemen-elemen chaotic ini hanya berhasil karena dipadu dengan apik oleh Bong Joon-Ho. Oke, di sini gue berisiko sok tau karena belum pernah nonton film arahan beliau yang lainnya. Tapi gue yakin siapa pun bisa merasakan keterpaduan ini. Bong Joon-Ho memproyeksikan kenyataan dengan caranya sendiri, seolah bola dunia dimiringkan nol koma sekian derajat untuk mengizinkan dosis absurdisme yang lebih besar. Mulai dari keteraturan kota Seoul sebelum diobrak-abrik Mija dan kawan-kawan; usaha para anak buah Tilda Swinton untuk merombak citra Mirando; sampai tingkah-polah squad ALF yang komikal. Anehnya, segala kekacauan ini masih bisa nyambung sama suasana zen di pegunungan rumah Mija yang straight out of film Ghibli. Okja yang berguling-guling manja di tengah hutan udah ga ada bedanya sama Totoro. Akulturasi antara kedua alam ini merupakan sesuatu yang belum pernah gue lihat sebelumnya, namun berhasil. Satu lagi poin penting adalah bagaimana film ini berkali-kali mengkhianati ekspektasi penonton dan keluar dari rumus yang sudah berulang kali dipakai di film-film sebelumnya.

Paul_Dano_in_Okja

Dalam tiga hari terakhir gue sudah menonton film ini dua kali. Gue tidak kembali karena kisah persahabatan penuh haru antara Mija dan Okja, namun karena Paul Dano dan ALF—terutama karena Paul Dano. Sebelum ini gue pernah ketemu dengan beliau di Swiss Army Man sebagai lelaki menderita yang perlahan menemukan kebahagiaan ketika melepaskan diri dari tekanan sosial. Drama abis, dan acting-wise lebih sulit daripada perannya di Okja. Namun justru itu masalahnya. Di sini dia jadi Jay, bos komplotan yang kalem namun kokoh. Dua kali karakter ini melakukan hal-hal yang tidak terduga dari yang gue pikirkan, dan itu keren banget. Ia mampu merekatkan timnya dalam situasi krisis apa pun dengan suaranya yang lembut dan sorot matanya yang surgawi. Kalo lagi Idul Adha dia disamperin secara pribadi oleh Pak Haji untuk datang dan mengelus sapi yang ajalnya sudah di pelupuk agar mereka tenang. Jay di sini nggak ganteng instan seperti Poe Dameron di The Force Awakens. Namun untuk gue yang berada dalam kegelisahan permanen di mana pun dan kapan pun, manusia seperti beliau jadi atraktif. Paul Dano tolong pegang saya. Iya Pak, tolong jemput saya kalo mati biar keluarnya gampang. Fancast: Paul Dano as malaikat Izrail.

Okja_ALF-768x321

ALF juga seru sih, keberadaan mereka membuat film ini terasa kayak heist movie but with a pig… a pig heist movie. Penampakan pertama mereka kayak teroris tapi organisasi mereka punya kode etik yang sudah berjalan 40 tahun yang melarang mereka melakukan kekerasan terhadap hewan dan sesama manusia. Secara teori terdengar mulia. Secara praktis, konyol. Bayangin aja mereka ngelawan polisi dan sekuriti tapi ga boleh pake kekerasan, kalo perlu minta maaf. Tapi dalam beberapa momen, prinsip ini justru jadi mengharukan.  Mata ganti mata tidak membuat seseorang jadi lebih mulia dari lawannya. Tapi di sini ALF adalah perkumpulan yang mencoba untuk lebih baik dari orang-orang yang menggunakan kekerasan pada hewan dan itu keren. Tampak juga paralel antara ALF dengan hewan yang mereka bela, di mana hewan-hewan yang dizolimi manusia dan tidak bisa melawan. Meskipun ALF jadi comic relief yang menyenangkan, secara prinsip dan metaforis mereka leh uga. Persetan dengan  Kapitan Ameriki dan Gal Gadot produk Yahudi lah~

Film ini kabarnya bikin banyak orang jadi males makan daging karena melihat kenyataan di balik industri makanan. Ya memang ~keajaiban sinema~ bercampur dengan empati yang tinggi kalo pesennya beneran nyampe. Meskipun kalo besoknya dimasakin ibu ayam goreng tetep dimakan.  Ga papa sih. Entahlah, kalo gue rasanya bakal tetep makan daging dalam rangka melangsungkan rantai makanan  dan sejujurnya karena saya egois. Jangan dihujat ya.

2d3f5b62910e6925cc56ad24acb3a925.jpg

Buat gue, film ini bikin mikir betapa absurdnya menjadi orang yang bersahabat sama hewan tapi tetap makan daging. Yaa gimana yak, si Mija ini melihara Okja yang dia bela-belain kejar sampe ke New York tapi juga melihara ayam, yang kemungkinan untuk disuruh bertelur dan dipotong. Manusia boleh berargumen bahwa ayam yang mereka potong diperlakukan lebih (manusiawi? binatang-wi?) animal-friendly dibandingkan industri makanan yang digambarkan di Okja, tapi coba aja tanya sama ayamnya, memang beliau mau dibunuh untuk dimakan? Mengapa, misalnya, orang yang makan anjing dihujat, tapi orang makan steak di restoran biasa aja? Stratifikasi tak tertulis ini sebenarnya tidak masuk akal juga. Mungkin hewan-hewan domestik seperti anjing dan kucing diberi kedudukan spesial oleh manusia karena tampang mereka lucu dan “bisa dipelihara”. Tapi jika anda memelihara hewan ternak sebagai sahabat anda, akan tercipta ikatan emosional antara anda dan hewan tersebut sehingga anda takkan rela kalau hewan itu dipotong, seperti si Mija ini.

Jika anda terlahir sebagai hewan, nasib anda ditentukan oleh relasi kuasa yang anda miliki dengan manusia, bahkan terkadang anda tidak dapat melakukan apa pun untuk mengubahnya. Dan manusia-lah yang sering mengeluh bahwa hidup itu tidak adil.

DDeMgD2WAAAsGk8

Gapapa, pengen aja naro gambar ini di sini hehe~

Standard
film

Arrival (2016): Bahas bahasa dalam fiksi ilmiah

Ketika 12 UFO mendatangi titik-titik acak di muka bumi, ahli linguistik Louise Banks (Amy Adams) yang sedang bergumul dengan masa lalunya, direkrut militer yang diwakili Colonel Weber (Forest Whitaker) untuk mencari tahu tujuan mereka datang ke Bumi. Bekerja dengan ilmuwan Ian Donnelly (Jeremy Renner), Louise berusaha mendekati mereka, “menyamakan frekuensi” demi kelancaran komunikasi. Karena komunikasi adala koentji. Tujuan kedatangan para makhluk tersebut akan mengubah diri Louise dan masa depan kemanusiaan.

maxresdefault.jpg

Arrival sedikit mengingatkan gue kepada Interstellar. Kedua film ini pada dasarnya merupakan catatan kasih antara orang tua dengan anaknya, yang kebetulan latarnya adalah eksplorasi luar angkasa dan the unknown. Namun perbedaan yang mencolok adalah, pada Arrival, pengembangan plot film tidak hanya dikembalikan ke resolusi emosional Love Conquers All™ . Film ini merupakan perjalanan yang mengubah hidup tokoh utama kita, namun dengan cara yang masih sesuai dengan kerangka logika dalam film. Karena merupakan perjalanan pribadi, mungkin film ini tidak menyorot banyak soal aftermath dari kedatangan para alien tersebut, beda dengan Interstellar yang masih memberi gambaran masa depan setelah eksplorasi Cooper dkk.

Arrival diangkat dari sebuah cerita pendek, The Story of Your Life oleh Ted Chiang. Gue udah sempet download dan baca, setelah nonton filmnya. Setelah nonton filmnya yang menggelegar, mungkin sudut pandang saat membaca cerita sedikit dipersempit, karena cerita pendeknya kurang memberi perhatian kepada latar suasana kekacauan global dan militer yang sedang terjadi. Tapi bagi yang memang ingin mengulik lebih dalam hubungan pribadi Louise dan penjelasan dari teori-teori linguistik dan fisika dari Arrival, cerita ini sangat direkomendasikan. Memang tidak mudah untuk memahami semua ini. Namun begitu juga dengan hidup. (lah, apaan)

arrival-movie-amy-adams (1).jpg

Sebuah wawancara dengan ahli linguistik betulan (spoilery) kurang lebih menyatakan bahwa Arrival landasan teori-nya cukup solid, meskipun hipotesis tersebut dikembangkan ke arah pengandaian yang terlalu jauh dan determinis. Tapi yha bukankah pertanyaan “what if” yang tak berakhir itulah yang menghidupkan jiwa dari suatu film? Secara keseluruhan, teori-teori linguistik yang mendasari film ini menarik banget buat gue. Ketika tim bahasa harus menyampaikan pertanyaan tujuan para alien datang ke bumi, pertanyaan itu dikupas habis menjadi inti-inti yang harus dipahami pihak alien tersebut agar bisa memahami pertanyaan itu secara keseluruhan. Gila, bahasa sebagai konsep itu sangat rumit—manusia bisa memahami begitu banyak hal sampai bisa berkonversasi verbal dan non-verbal seperti sekarang. Situasi menjadi filosofis ketika kita harus menggali, apa yang bikin kita bisa memahami sesuatu, dan bagaimana cara mentransfer pemahaman itu ke orang lain.

Pendekatan bahasa yang halus ini jarang sekali diangkat oleh film-film sci-fi bertema serupa. Mungkin itu juga yang bisa membuat Arrival lebih mudah dipahami dan relatif lebih dekat dengan penonton. Seluruh konsep film ini bergantung kepada subjek humaniora yang “melekatkan manusia dan peradaban, namun menjadi senjata pertama yang dikeluarkan dalam kondisi konflik”—kalimat yang dikutip Ian Donnelly dari pengantar buku Louise Banks. Penjejalan teori ruang-waktu dan teknologi futuristik canggih, jika tidak dieksekusi dengan baik bukan hanya membuat penonton awam kebingungan, tapi juga bosan.

57f1a3_6ee78ec56256476db4e3bee40cfaa78c-mv2.png

Dalam film-film sci-fi, teknologi umumnya digunakan dengan tujuan eksploitasi. Manusia sudah mengacaukan planet bumi, jadi, saatnya kita cari planet baru untuk dikacaukan! Oh, kita belum pernah melihat makhluk ini sebelumnya, ayo kita tangkap dalam tabung kaca lalu kita teliti. Kalau gak ya digambarkan sebaliknya—orang yang dikejar-kejar alien jahat. Sementara, bahasa dikenal sebagai cara berdiplomasi yang paling damai. Apalagi dalam situasi ini, ketika pihak manusia hanya berusaha mencoba mengetahui maksud pihak alien (paling tidak para tim ilmuwannya, sementara para petinggi militer udah ketar-ketir, dan Cina sama Rusia udah mau ngebom aja–cara paling Amerika untuk mendeskripsikan kedua negara tersebut). Dalam situasi ini manusia dan alien setara, keduanya sama-sama pihak luar yang berusaha mencari landasan yang sama, sekalipun pengetahuan dan cara berbahasa pihak alien lebih kompleks daripada manusia. Tapi kedua pihak ini saling mendekati dengan itikad yang nampaknya baik, dan secara pribadi ini membuat gue sedikit tersenyum saat menontonnya. At least this time humanity doesn’t mess up that bad. Kembali lagi kepada hakikat bahasa, yaitu konsep yang digunakan untuk membangun konsep, menjalin hubungan dan pengertian terhadap pihak lain. Topik bahasa perlu lebih banyak disorot, karena itulah yang membuat manusia semakin manusiawi.

Dalam mengulas film, emang seringnya gue lebih suka ngebahas substansi daripada bungkusan (sebenernya karena gak ngerti-ngerti amat soal teknis). Tapi bungkusan yang satu ini tidak usah diragukan lagi. Denis Villeneuve once again delivers. Seperti plotnya yang sistematis, cara berceritanya juga. Scoringnya Johann Johannsen menghadirkan dengungan-dengungan khas sci-fi dalam ketegangan yang baru. Shot demi shot sangat menyenangkan untuk ditonton. Meskipun film berlatar waktu di tengah-tengah kekalutan global terhadap berita invasi alien, kamera di tangan Bradford Young menciptakan suasana intim, nyaris romantis, melalui kamera yang tak bergerak dan warna-warna netral dalam adegan di benak Louise maupun saat ia berusaha menjalin komunikasi dengan para alien. Dan aerial shot yang itu (!!!!) mengingatkan gue kepada Sicario dan seberapa menyesalnya gue gak nonton itu filem di bioskop. Paling tidak, sekarang rasa sesal itu sedikit terobati. Sedikit.

Arrival-2016-Amy-Adams-Movie-Wallpaper-19-1920x788.jpg

Setelah agen FBI yang ikut terjun dalam penyelidikan kartel narkoba perbatasan dalam film Sicario, Villeneuve kembali menempatkan karakter perempuan dalam kendali di sebuah situasi yang asing baginya. Ada dua sisi karakter Louise Banks dalam film ini. Secara profesional, ia adalah seorang ahli linguistik yang sangat berkapasitas dalam lahan studinya, dan otomatis mempunyai aura otoritatif yang jelas. Namun segala keraguan dan kekalutannya nampak dalam jeda-jeda panjang saat ia seorang diri: pergulatannya dengan masa lalu, syok yang dirasakannya saat dicemplungkan ke dalam lingkungan kerja asing, subyek penelitian yang sangat berpengaruh terhadap dirinya secara personal, semua dialaminya dalam situasi darurat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.  Namun justru sisi personal inilah yang memberinya keberanian untuk mengambil keputusan-keputusan besar dalam waktu singkat. Kompleksitas ini harus diungkapkan tanpa banyak dialog, dan menurut gue Amy Adams sudah sangat berhasil dalam hal ini. Chemistry-nya dengan Jeremy Renner juga pas, meskipun Renner kembali dipenjarakan typecast om-om tim hore yang sedikit humoris. Tapi hal ini juga tidak berpengaruh apa-apa ke plot.

Namun, film ini mungkin tidak cocok bagi semua orang. Bukan hanya orang-orang yang keluar dari teater sambil ngomong keras-keras bahwa mereka gak ngerti filmnya, atau ekspektasi bahwa film ini akan menjadi perjalanan luar angkasa seperti Interstellar. Tidak semua orang setuju dengan pesan-pesan determinis Arrival untuk “merangkul takdir”. Penutupnya yang mungkin terkesan sedikit gantung bagi beberapa orang, karena ya pada akhirnya ini adalah perjalanan pribadi Louise yang scope-nya memang tidak begitu besar. Tapi hal-hal ini tidak menjadi masalah bagi gue.

Kekurangan pada film ini adalah kurang disampaikannya proses-proses sebelum mencapai tujuan mereka. Waktu timnya Banks ngajarin bahasa Inggris kepada para alien misalnya, dari yang dasar banget menuju pemahaman kalimat tanya yang kompleks dan multitafsir, gak ada indikator waktu berapa lama atau seberapa sulit mengajarkan mereka kata-kata tersebut. But then I would be nitpicking. Gue sangat menikmati film ini sebagai keseluruhan. Selain subyeknya luas dan masih meninggalkan ruang untuk spekulasi, Arrival digarap dengan sangat apik. Ini bukan cuma film yang digadang-gadang orang sebagai “film yang bikin mikir”, namun jika menyasar batin yang tepat, film ini bisa jadi bahan kontemplasi, memberikan kesadaran baru sebagai manusia yang hidup pada detik ini.

Standard
film

Cek Toko Sebelah (2016)

Pengen nangos melihat jeda enam bulan yang tercoreng di blog ini.  Maaf gue gak konsisten, karena nama blognya aja je suis mager, yang berarti hal-hal seperti ini pasti akan terjadi (jadi minta maaf gak sih?). Anyway, masa bodo jika orang bilang tahun baru itu selebrasi kosong, kini gue punya alasan untuk menarik diri sendiri keluar dari lubang kemageran–entah akan berhasil atau tidak. Dalam rangka pemenuhan resolusi, here we go.

ehh.jpg

Film ini bisa dibilang angin segar, ketika disandingkan dengan film-film humor yang dibuat para stand-up comedian lokal lainnya. Gue jarang banget nonton film produksi komika karena rilisnya selalu barengan sama film-film lain yang gue prioritaskan. Cuma pernah nonton Comic 8 di TV waktu libur lebaran, yang gue hadapi tanpa ekspektasi dan hasilnya tetep berantakan, tapi menghibur. Dulu gue suka banget nonton Stand Up Comedy Indonesia yang tayang di Kompas TV, at least 2-3 season pertama. Acara itu penggemblengan yang bagus banget untuk mengembangkan kualitas set-up yang bisa cerdas dan mengena, bukan hanya receh. Berkembanglah bibit-bibit cemerlang. Namun begitu dilepas ke dunia luar, gak semuanya bisa mempertahankan kualitas tersebut. Kemal Palevi misalnya, yang dulu bit-bit dia didaulat para juri sebagai komedi absurd yang cerdas, sekarang jadi apaan? Beberapa komika turut serta bermain dalam film komedi receh ofensif bikinan PH ecek-ecek, yang hanya gue ingat sayup-sayup dari trailer yang pernah diputar di teater sebelum film mulai. Judulnya aja gue gak inget. Bahkan Raditya Dika yang sebenarnya cerdas dan kritis kini sudah berserah diri kepada selera pasar, dari vlog-vlog-nya dan bahasan karyanya yang melulu soal cinta dan jomblo (mengacu kepada film-film beliau sebelum Hangout. Saat review ini ditulis, gue belom nonton Hangout, dan kemungkinan akan). Ernest Prakasa adalah salah satu dari segelintir alumni euforia stand up comedy ini yang masih menggunakan suaranya untuk ngomongin hal-hal berfaedah, seperti pilihan politiknya dan realita etnis Tionghoa di Indonesia.

Karena serangan stroke, Koh Afu (Kin Wah Chew) memutuskan untuk segera mewariskan usaha toko keluarga kepada putra keduanya, Erwin (Ernest Prakasa). Padahal Erwin sedang mulus-mulusnya memanjat karir di perusahaan multinasional tempat ia bekerja.  Sementara putra pertama, Johan (Dion Wiyoko) kecewa karena dianggap kurang mampu bertanggung jawab dalam mengelola toko tersebut. Mereka pun berusaha menangani masalah ini bersama-sama, mengartikan kembali makna keluarga bagi mereka semua.

Premis yang simpel, bahkan usang, karena brother rivalry trope yang ukan hal baru lagi. Tapi ada sesuatu yang membuat film ini begitu hidup. Ada semacam jiwa yang terus dijaga dari awal hingga akhir melalui suasana yang dibangun. Interaksi keluarga yang terjadi dari awal sampai tengah film sangat canggung, seperti dibayang-bayangi masalah yang tak pernah dibicarakan. Suasana ini jadi kontras banget ketika dibenturkan dengan para pemeran pendukung yang semuanya ngelucu.

Salah satu cara menjaga konsistensi suasana adalah membuat setiap interaksi antar tokoh punya makna. Bahkan tokoh-tokoh pendukung yang basically cuma saling lempar bit stand-up pun penting, karena mereka bisa menyusun latar yang nyata. Setiap bit yang bikin penonton ketawa bisa mendekatkan penonton kepada film secara emosional. Sehingga ketika layar diguncang, penonton ikut terjatuh dan emosional.

Pemain-pemain utamanya juga seru. Chemistry-nya satu sama lain bagus. Kin Wah Chew sebagai sosok bapak dengan segala ketidaksempurnaannya bikin hati gue meleleh. Suka banget juga sama duo Dion Wiyoko-Adinia Wirasti dan subtle acting mereka. Dalam acara kumpul keluarga, Johan dan Ayu itu kayak pasangan yang canggung berada di sana karena merasa lowkey ga diinginkan. It’s a real show-not-tell situation, kita gak banyak diberi informasi dari awal, tapi posisi dan keinginan mereka sudah ditanamkan dari awal. Giselle punya presence yang kuat sebagai nci-nci material girl, karakter yang sebenernya kurang jelas tujuannya kecuali untuk memajukan plot, tapi yha, dia berhasil ngasih performance yang bagus dengan materi yang apa adanya. Sayangnya mereka yang bersinar justru sedikit menutupi Ernest, yang emang basic-nya bukan acting.

Sebagai drama komedi yang aspek komedinya banyak diadaptasi dari bit-bit stand-up comedy, film ini berisiko. Banyak bit yang memang lucu, tapi gak sedikit juga yang jadi garing. Dan dalam beberapa momen, film ini terasa seperti gado-gado. Ernest mencoba memasukkan pesan-pesan anti kekerasan seksual melalui tokoh Anita yang selalu diobjektifikasi oleh bosnya, namun dengan menaruh karakter Anita yang hanya menjadi plot device tanpa kehendak yang seolah “diselamatkan” oleh tokoh-tokoh lainnya, justru di sanalah objektifikasi yang sesungguhnya terjadi. Dia tetap menjadi eye candy buat tokoh-tokoh laki-laki lainnya. Ya apalah, menurut gue ga berkelas banget kalo lo masih masukin adegan cowok-cowok melotot ngeliat yang tumpeh-tumpeh dan menyebutnya komedi.

Pada akhirnya, Cek Toko Sebelah memang perlu ditonton dengan ekspektasi serendah mungkin, karena sebagus apa pun suasana yang dibangun, ini tetep film komedi Indonesia dengan segala batasannya. Temanya memang sedikit usang, namun eksekusinya bagus, dan gue tetap merasakan sedikit kehangatan di hati setelah lampu teater menyala dan credits berjalan di akhir film.

Standard
film

Tiga Dara (1956) dan Sedikit yang Gue Pelajari Tentang Film Indonesia

tiga-dara.png

Sudah lama gue tidak mengulas film. Lebih tepatnya, sudah lama gue tidak niat mengulas film. Sebenernya, sudah lama gue tidak menulis di sini karena kesibukan ospeg sebulan, sebuah gagasan sok ide yang hanya ada satu di seluruh universitas di Indonesia. Udah ah jangan garem melulu hehehehehe.

Tapi di antara film-film lainnya yang gue tonton akhir-akhir ini, entah bagaimana Tiga Dara membuat gue kena sirep di kereta sepanjang perjalanan pulang. Gue merasa harus banget menulis tentang ini, terlebih lagi kisah yang ada di baliknya. Bukannya begadang buat nulis esai ospeg, gue malah nulis ginian. Ampun qaqa. Kalau gak langsung ditulis postingan ini akan mengabur jadi serpihan angan di alam pikir semata. *dadah-dadah sama draft review Siti dan Ikiru yang terbawa angin*

Sebelum Tiga Dara, gue mendengar tentang Ini Kisah Tiga Dara terlebih dahulu lewat postingan-postingan Instagram-nya Tara Basro dan Nia Dinata. Wah ada film baru, kayaknya seru. Ya Allah, cast-nya geulis-geulis pisan, maafkan hamba-Mu yang tidak selalu menepati shiratal mustaqim ini. Setelah itu, gue dengar bahwa ini remake film Tiga Dara jaman dulu yang disutradarai Usmar Ismail. Kemudian, baru muncul kabar bahwa film Tiga Dara yang asli mau direstorasi dan ditayangkan di bioskop. Saat itu gue gak begitu paham apa itu 4K atau mengapa film ini penting banget, karena cuma sempet baca selentingan-selentingan. Sebagai orang yang doyan nonton, gue hanya berpikir bahwa gue wajib banget nonton Tiga Dara. Gak ada ekspektasi, gak sempet riset, karena ospeg adalah is. Abisnya yha, eug biasa bela-belain cari torrent film jadul yang seed-nya dikit lagi ukurannya gede biar dikata edgi (gak deng), ketika ada kesempatan untuk nonton film Indonesia pada masa kejayaannya harus nonton, lah.

Rasa yang ditinggalkan film ini sederhana: menyenangkan. Mengingat film ini rilis pada zaman perang, mungkin Tiga Dara memang diproduksi sebagai sarana piknik rohani masyarakat. Dendangnya yang ternyata masih cocok dengan telinga masa kini, ditambah lagi akting teatrikal khas film jadul dalam film ini mengkatrol suasana hati banget.

Gue juga seneng, akhirnya gue bisa melihat estetika Indonesia tahun 1950an dengan segala keagungannya. Selama ini gue cuma tahu dari postcard vintage Djakarta Tempoe Doeloe ala-ala dan baju-bajunya Sari White Shoes. Y h a. Tapi seriusan, film-film yang ikonik pada zamannya merupakan kapsul waktu terbaik. Seperti Ikiru yang memberikan sedikit gambaran suasana Tokyo tahun 50an, atau Taxi Driver yang ngasih liat borok-boroknya New York tahun 70an kayak gimana. Akhirnya kita bisa ngeliat kondisi Jakarta pada tahun 1956 lepas dari sudut pandang politis yang didiktekan buku sejarah. Jakarta jaman dulu antah-berantah, men. Rata-rata penonton Jakartawan Kekinian tergelak ketika melihat adegan yang diambil di jalan raya dan berkomentar: “Jaman dulu gak ada macet, ya.” Gue ikut berkomentar demikian dan ikut tertawa, yha… you don’t say. Selain itu, sungghu aku jatuh cinta dengan fashion-nya yang unyu-unyu, apalagi Nenny yang baju-bajunya selalu on point.

Kejutan yang gak gue sangka, dengan segala kejadulannya, ternyata film ini masih relevan banget dengan keadaan sekarang. Sekarang masih banyak orang tua yang ngurusin banget jodoh anaknya. Drama keluarga yang itu-itu aja: nenek marahin bapak, adek ngejahilin kakak, gesekan antara kakak yang pendiam dan adik yang aktif bergaul, rebutan cowok. Receh-recehnya pun masih nyambung meskipun terpaut 60 tahun. Polemik tiga saudari yang ditampilkan mengingatkan gue dengan Schuyler sisters dari musikal Hamilton–se-universal itu ceritanya.

Setelah kami nonton, ada acara diskusi bersama orang-orang yang terlibat proyek restorasi film Tiga Dara ini: Taufik Marhaban, Alex Sihar, dan Gery Simbolon. Padahal gue sama temen gue gak tahu ada diskusi, begitu juga penonton yang duduk di sebelah kita tadi, hehe. Kejutan lainnya. Justru dari tanya-jawab itu, gue menyadari nilai penting film ini.

Jadi, Tiga Dara adalah film Indonesia pertama yang direstorasi dalam format 4K. Di Asia, ini adalah film kedua… dan film pertamanya adalah… Seven Samurai-nya Akira Kurosawa. Anjir.

Proses restorasi film ini memakan waktu 18 bulan, dan gue gak bisa bayangin sesulit apa ngerjainnya. Ini seluloid-seluloid film yang rapuh di-scan frame by frame lalu dikoreksi satu per satu. Tentunya dana yang dikucurkan gak sedikit, gue lupa berapa persisnya dalam euro, tapi dalam rupiah, biaya yang dibutuhkan mencapai 3 miliar. Dana itu berasal dari badan perfilman Singapura dan World Cinema Foundation.

Mirisnya, justru lembaga-lembaga dalam negeri gak ada yang tertarik membiayai proyek ini (dalam diskusi dikatakan pemerintah pernah membantu pendanaan proyek film sebelumnya tapi gue lupa yang mana, antara Darah dan Doa atau Lewat Djam Malam, tapi jadinya distribusinya kurang luas karena gak boleh ditayangkan secara komersil). Yha, gimana ya. Mungkin kelewat idealis kalau membayangkan ada perusahaan yang dengan entengnya menggelontorkan dana 3 miliar, atau paling tidak, separuhnya saja untuk restorasi film item-putih yang belom tentu ada yang mau nonton. Belum tentu balik modal. Apa yang membuat orang mau ngeluarin duit sebanyak itu untuk restorasi film?

Hal ini sempat ditanyakan oleh seorang penonton saat sesi tanya jawab. Jawabannya adalah rasa cinta, karena love is the answer to everything (plis jangan salahin gue, ini jam 2 pagi). Restorasi film yang luar biasa sulit pun dilakukan karena orang-orang yang terlibat di dalamnya cinta dan paham makna sejarah yang dikandung dalam film itu. Badan film Singapura mau donasi karena Usmar Ismail juga membentuk sejarah film di negara mereka, sementara World Cinema Foundation memang didirikan untuk mendukung restorasi film-film di seluruh dunia. Gila juga kalau dipikir-pikir. Mungkin memang, tiga kualitas yang dibutuhkan demi dunia yang lebih baik: duit, sentimentalitas, dan pemahaman yang mendalam akan nilai sejarah. Ini premis yang baik sebagai motivasi agar gue bisa jadi orang kaya.

Para penanya dalam acara diskusi tersebut mendapatkan kaos Tiga Dara yang cakep bukan main. Gue pengen tanya tapi telat, padahal gue pengen banget kaosnya yaa robb,,, sejatinya anak kos selalu kekurangan sandang dan pangan. Gue cuma pengen nanya proyek selanjutnya (TAPI GUE BENERAN PENGEN TAHU). Tentu saja pertanyaan ini luar biasa klise, tahu-tahu ada aja orang yang nanyain. Kalau gak salah ada enam judul film yang sedang dipertimbangkan. Sempat disebut-sebut Apa Yang Kau Tjari, Palupi; Tjut Njak Dhien; dan salah satu filmnya Sjuman Djaja, namun gue kurang jelas juga menangkap apakah itu judul film yang sedang dipertimbangkan atau film yang ingin sekali mereka restorasi.

Keluar dari teater, gue merasa terbakar sekaligus tambah buta. Gue pengen mengenal lebih jauh tentang film-film klasik Indonesia, tapi susah banget aksesnya. Screening-screening pun terbatas. Tiga Dara adalah film klasik Indonesia pertama yang gue tonton, mana gue tahu dulu sinema kita punya masa emas seperti itu. Bahkan, Tiga Dara adalah film Usmar Ismail yang kesebelas. BANYAK AMAT. Dalam diskusi itu dikatakan, Tiga Dara adalah film Usmar Ismail pertama yang berubah menjadi agak komersil setelah sepuluh film lainnya bergaya arthouse.

Jujur itu yang bikin gue penasaran, film arthouse Indonesia tahun 50-an itu gimana jadinya? Bagaimana dengan sineas lainnya yang ikut berkarya dari tahun 1950-1960? Sebelumnya gue gak pernah kepikiran soal film-film Indonesia lama yang menghilang entah ke mana. Tapi setelah mengikuti jalannya diskusi, gue merasa sedikit iri dengan negara-negara lain yang paham dengan nilai sejarah dalam perfilman mereka. Dunia bisa mengenal film-film klasik Amerika dan Jepang. Meskipun sudah lewat jauh dari masanya, film-film karya Alfred Hitchcock, Stanley Kubrick, atau Akira Kurosawa bisa punya cult followers di mana-mana. Sementara film klasik Indonesia, di negaranya sendiri aja gak banyak orang yang tahu.

Bagaimana gue menutup post ini yha, dengan harapan dan doa demi masa depan perfilman Indonesia yang lebih baik? Ya, gue cuma pengen lebih banyak orang yang nonton Tiga Dara aja. Orang butuh tahu kalau jaman dulu tuh ada film yang kece kayak gini. Orang butuh tahu kalau jaman dulu ada juga yang pacaran, gak semuanya ta’aruf~~ Selain itu, dengan nonton Tiga Dara lo bisa mendukung proyek-proyek restorasi film selanjutnya dan menggali lebih banyak film-film Indonesia bagus yang terkubur dalam kumparan seluloid yang rusak dan tak terjangkau.

Ceritanya 11/12 sama AADC, sumpah.

Maju terus perfilman Indonesia!

Gue mau tidur.

Standard
film

A Copy of My Mind: paying the price of the truth.

150918091442_a_copy_of_my_mind_2_640x360_acopyofmymind_nocredit.jpg

So, the long-awaited A Copy of My Mind.

Anyone who has seen the movie would find themselves reliving it silently; during the drive home, gazing at the endless rows of honking cars, your everyday view now seen from a whole new light. They would find themselves staring into empty space thinking about Alek and Sari, a sincere reminder that there will always be a fleeting moment of joy and love amidst the choking haze of Jakarta.

Lat and I was walking home from Plaza Semanggi, and we fell into silence. Even hours after the credits rolled, the movie still wasn’t over for me. Walking down the sidewalk, I felt like Sari, deep in confusion and loneliness, once again trying to make sense of the whirling city. Nothing has changed, but like Sari nearing the end of the movie, something stirred inside me, it was as if my life would never be the same again.

Of course this all seem exaggerated, and I know a week from now I will be dying to delete this whole post. But it just proves of how powerful Joko Anwar’s projection of the love story between this two people that gets tangled in the middle of the big guys’ race to power. It’s not fiction; it’s a mirror that chokes up a piece of truth and I guess that’s why it lingers in our mind for so long. Glodok, Metromini, Indomie, Pasar Benhil (GUE TINGGAL DI BENHIL BAHKAN YAA ROBB), cheap facial salons, and our particular fondness for piracy, the exposure to these elements keeps this movie grounded. And who can forget the chaotic enthusiasm of last year’s election? The movie was intended to be a time capsule of the life in Jakarta in that exact time, and it succeeded.

Hands up for Tara Basro and Chicco Jerikho’s flawlessly natural acting (also for still being fabulous while sweating profusely under no layer of makeup). Their chemistry is undeniable. I love how it’s not your ordinary Love at First Sight story. Alek and Sari’s encounter happened when Sari complained about Alex’s sloppy work of subtitling, and, okay, I have to admit it sounds like a fanfiction AU prompt, but it glides perfectly from there. Just enough room for your love affair fantasy while keeping it all real.

(I’m quite a skeptic for love at first sight, probably one of the reasons why I didn’t enjoy Carol as much as I should have)

Film-2015-A-Copy-of-My-Mind-003.jpg

The plot builds slowly–maybe too slowly for some audiences, but I personally think that this is how it should be. We all glide through our monotonous routine so quickly, and it fades just as fast and suddenly you’re floating with nowhere to go. Sari and Alek, two face of the same coin, represents this very feeling. Sari and her repetitive life of having things the way it should be but never quite getting what she wants. Alek being the nowhere man with no identity, no dreams, doing illegal jobs and gambling to survive the hard life. Tell me if I’m starting to get carried away, but I think the slow pace represents these holes in your life that appears when you forget what you’re actually fighting for. You’re transforming into one of those passerby, people who sits on the bus staring out of the window wearily, tired, alone. And then there’s Bude (picking up Lat’s theory on this), forgotten, but always existing in the background like the rest of Jakartans struggling in poverty.

There are too many layers to it all to cut through, so this film might need a second viewing to be understood fully. This film exposes a lot of issues–poverty, social discrepancy, the struggle of surviving in Jakarta, how politics divide people, and the blurry image of what everyone thinks true love should be–through small, cut-up details spilled all over the movie like small easter eggs on a superhero movie; exciting to find and to contemplate over.

The end took everyone’s breath away, and no one in the theater moved after the credits rolled, still trying to process everything. But if there’s anything I learned from the movie is that the truth does not come cheap. The truth comes with a price that Sari and Alek had to pay dearly, just like how twelve million people of Jakarta had to pay for a big change that was bound to happen. Indeed, A Copy of My Mind–a piece of raw honesty, is terribly expensive. We all saw Joko Anwar’s tweets and the behind the scenes on how the cast and the crew struggled to make this film happen with such small budget at hand. I can’t imagine any other way this movie would be made if not with great dedication and love, the need to tell a truthful picture of the city that never sleeps; a naked depiction of the dreams and struggle of the people of Jakarta.

Standard