Sejarah panjang kemalasan saya, dan usaha menyalahkan teknologi atas hal tersebut

255565
Apa yang terjadi di balik layar?

Aku mulai menulis tulisan ini minggu lalu setelah mengerjakan artikel mengenai media sosial berkenaan dengan pemikiran McLuhan dan Postman selama nyaris delapan jam berturut-turut. Aku langsung “merasa” telah mencapai kesadaran medium penuh. Sembari mengerjakan artikel, aku merasa terusik setiap kali mendapati diri tengah membuka Instagram untuk hal-hal remeh seperti menjawab komentar. Lebih parah lagi ketika aku tak sadar saat melakukannya karena refleks keseharian.

Sebagai yang digadang-gadang sebagai generasi millenial, tak terpisahkan dengan internet, aku merasakan betul dampak hidup bersama dan di dalamnya: aku menjadi sulit berkonsentrasi. Kebanggaan terbesarku saat kelas 4 SD adalah berhasil menyelesaikan edisi terjemahan Harry Potter and the Order of the Phoenix setebal lebih dari 1000 halaman, hanya dalam dua hari. Aku ingat betul buku itu diberikan kepadaku sebagai hadiah ulang tahun, dan seluruh akhir pekan kuhabiskan bersandar pada bantal di kepala tempat tidur untuk membaca, hanya sesekali bangkit jika ingin pipis atau makan. Sebelas tahun kemudian, aku membelikan diriku buku Nausea (yang aku taksir sejak dulu karena sampulnya), dan sejak 17 September lalu hingga kini, aku belum beranjak dari halaman 21. Mengerikan juga kalau dipikir-pikir.

Sulit untuk memetakan di mana perubahan pola tersebut terjadi, karena ia terjadi melalui proses evolusi yang panjang. Menilik kembali masa laluku, aku mengenal internet dan media sosial Facebook sejak kelas 5 SD, dengan penggunaan yang dibatasi selama satu jam sehari. Sejak SMP, kurangnya pengawasan membuatku bebas menggunakan internet rumah kapan saja. Pada tahap ini, aku mulai jarang menulis blog, meskipun mungkin itu hanya karena faktor kemalasan saja. Aku baru mulai memakai smartphone saat masuk SMA. Sejak kapan potensi produktivitas itu direpresi menjadi sikap yang pasif, menerima informasi terfragmentasi tanpa konteks? Sejak kapan penggunaan media sosial jadi sesuatu yang kompulsif dan terus-menerus? Tentu perubahannya tidak instan, terbentuk sedikit demi sedikit karena kebiasaan dan eksposur terhadap media sosial yang begitu mudah diakses dalam genggaman.

255569
Tombol “like” yang kehilangan fungsinya

Apakah perubahan tersebut memang tak terelakkan? Media sosial sudah sedemikian terintegrasi dalam hidup kita, “bahasa” kita sehari-hari terpadatkan dalam post-post singkat dan trivial, berkomunikasi dalam likes, follow, views, unfollow, block. Namun bahasa tersebut tak cukup mengatasi banjirnya informasi yang terjadi dalam satu kali scroll dalam linimasa Instagram. Dalam waktu tiga menit saja, kamu sudah mendapatkan banyak informasi, tak semuanya bermanfaat. Sebagian perihal kehidupan sosial orang lain, yang terkadang tak berkaitan dengan kita. Sebagian lagi iklan produk dari berbagai akun olshop  yang kamu follow itu. Tentu banyak juga post berfaedah perihal acara diskusi, kampanye sosial, peristiwa kebudayaan yang akan penting kamu hadiri, post tentang orang-orang terdekatmu, maupun berita penting yang terjadi di seluruh dunia. Bukan masalah berfaedah/tidaknya, namun informasi-informasi sekadar lewat tersebut kita terima dalam jumlah masif, dalam jangka waktu terlalu singkat untuk memprosesnya secara utuh. Otak kita seakan multitasking, seperti laptop yang disuruh buka Adobe Premiere, Adobe AfterEffects, dan Adobe Audition pada saat yang bersamaan.

Tapi multitasking itu sendiri sudah menjadi normal dalam keseharian di era Internet. Itu salah satu kemampuan yang dicari-cari dalam lowongan pekerjaan. Tidak perlu dilatih, kebiasaan multitasking menyingkapkan diri dalam gestur kita sehari-hari. Misalnya saat buka instagram teman, lalu penasaran mengecek temannya dia, olshop yang dimilikinya, sampai orang yang jadi model di olshop itu. Saat membuka Wikipedia, kita suka keasyikan membaca artikel, dan mengklik hyperlink di istilah dalam artikel tersebut, sehingga kita berakhir dengan 10 tab dalam jendela browser kita.

Bahkan tendensi ini menghambatku bikin karya ilmiah, karena setiap mendapatkan sumber, aku akan mencoba mencari sumber lain yang tampaknya berhubungan melalui sitasi dalam paragraf tertentu, buku lain yang ditulis pengarang tersebut, dan pemikir-pemikir lain yang berhubungan dengan dia. Puji Internet dan Gen Lib, semuanya dapat kuakses dengan sentuhan touchpad saja. Yang menjadi masalah selanjutnya, aku bahkan tak dapat berkonsentrasi membaca satu sumber saja. Timbul kebosanan atau kegelisahan bahwa apa yang kucari takkan ada di sini, lalu aku berpindah ke sumber lainnya. Hal ini akan berjalan lama sampai aku bingung sebenernya apa yang mau dibicarakan dalam paper ini. Selama prosesor otak Anda kokoh, cara pengerjaan ini lumrah saja. Namun, yang sering terjadi kepadaku, banyaknya informasi yang masuk dengan cara membaca cepat paragraf-paragraf tersebut tak mampu kuproses secara menyeluruh, sehingga dalam beberapa waktu, aku akan kebingungan sendiri dengan apa yang kukerjakan.

Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death membicarakan fenomena banjir informasi yang dimunculkan telegraf, fotografi, dan televisi. Namun, cara pandangnya masih relevan bagi beberapa orang dalam melihat media internet masa kini. Dalam membicarakan fakta-fakta terfragmentasi yang diperoleh melalui televisi, ia berkomentar:

In one form or another, each of these supplies an answer to the question, “What am I to do with all these disconnected facts?” And in one form or another, the answer is the same: Why not use them for diversion? for entertainment? to amuse yourself, in a game? [1]

Menurut Postman, media-media elektronik baru mentransformasikan dunia menjadi sebentuk peek-a-boo world atau “dunia petak umpet”, di mana peristiwa-peristiwa acak dan inkoheren muncul sementara, kemudian berlalu. Bayangkan meme di Twitter yang populer untuk sementara, atau berita-berita di seluruh dunia yang begitu cepatnya datang dan pergi. Namun, selayaknya petak-umpet, permainan itu berdiri sendiri, dan menyenangkan [2]. Ini dapat menjelaskan adiksi terhadap media sosial yang dimiliki banyak orang hari ini. Hiburan dapat diakses dalam genggaman, membentuk sebuah kebiasaan yang kompulsif dan pada akhirnya mengubah pola pikir kita untuk selalu mencari hiburan.

Nonton Mr Robot di kelas Filsafat Ketuhanan.

Postman, seperti banyak ramalan abad 20 lainnya, berpandangan cukup negatif tentang media elektronik. “Ramalan” ini cukup akurat dalam beberapa aspek, namun ia belum menggunakan kacamata kekinian yang sesuai dalam melihat potensi-potensi media masa kini. Nyatanya, internet tidak membunuh kemanusiaan. Masih banyak orang yang berkarya, bersisian dengan kehadiran Instagram, bahkan berhasil menjadikan platform tersebut sebagai medium publikasi karya maupun aktivitas kebudayaan lainnya. Kesadaran pengguna media penting di sini agar tidak tertarik arus, dan juga pemahaman akan bahasa media itu sendiri [3].

Selebihnya, butuh disiplin, fokus, dan kreativitas untuk menciptakan. Jika memang aku merasa “terbunuh” dan terdemotivasi karenanya, kesimpulannya hanya satu: memang aku yang malas! Entah bagaimana cara mengobatinya. Entah bagaimana, batinku sambil membuka jendela Netflix dan melanjutkan serial The Defenders yang tadi sedang kutonton. Satu episode lagi, lah!

Catatan Sikil
[1] Postman, 2005, p. 76
[2] ibid, p. 77
[3] Dipetik dari kesimpulan pertemuan Roman Picisan bersama teman-teman di Forum Lenteng, saat membicarakan millenial dan teknologi. (13 November 2018)

Referensi
Postman, Neil. 2005. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Showbusiness. New York: Penguin Books.

Advertisements

Pak Ahok, Tolong Ajarin Saya Kung-Fu!

Sesungguhnya gue lagi bete. Sudah semingguan, mungkin lebih, berlangsungnya kebetean ini. Meskipun sulit, gue akan berusaha menjelaskan penyebabnya dalam tulisan ini. Mungkin tulisan ini ujung-ujungnya hanya jadi curcol semata karena gak menyelesaikan kepelikan apa pun yang sedang dihadapi bangsa kita. Gue cuma pengen berbagi apa yang gue rasakan sekarang, kegelisahan yang mendalam di hari kesaktian pancasila.

Bayangkan diri lo dalam posisi hidup normal, tak terganggu dalam hal apa pun. Pada suatu hari, lo hidup seperti biasa. Makan, mandi, ngomong sama orang, melakukan tugas lo. Kemudian, lo melakukan sebuah kesalahan, seperti layaknya manusia biasa. Lo sendiri gak bisa mengukur apakah kesalahan itu besar atau kecil; yang pasti itu fatal, karena mendadak orang beramai-ramai menghujat lo di media sosial. Ga cuma sebatas mengomentari, namun sampai mengutuk-ngutuk, menyumpahi kematian lo, dan hal-hal lainnya yang sebenernya gak terkait sama sekali sama kesalahan yang lo perbuat: keluarga, etnis, agama lo.

Selanjutnya ya, satu hal mengarah ke hal lainnya. Kita semua menyaksikan tahun lalu, bagaimana ribuan orang bener-bener turun ke jalan dan menolak keberadaan Ahok; udah gak jelas lagi kenapa dia tidak diinginkan, entah karena kesalahannya, identitas beliau sebagai minoritas, bercampur dengan bensin-bensin politik yang membuat kasusnya lebih besar dari yang seharusnya. Alasan lo adalah membela Tuhan, tapi apakah Tuhan rela dibela dengan cara caci-maki, kekerasan,  dan pemutusan tali silaturahmi yang diputuskan oleh umat-Nya? Bahkan beberapa masjid tidak bersedia untuk memandikan jemaah yang memilih Ahok. Ada banyak alasan mengapa hal tersebut tidak seharusnya terjadi, dan rasanya gue udah terlalu lelah untuk menjelaskannya lebih jauh.

Penindakan oleh pasal penistaan agama. Pasal 156 yang sebenarnya pasal karet, karena tidak menjelaskan seperti apa “penodaan” agama yang dimaksud. Sejauh apa sesuatu dapat dibilang menodakan agama dan sesuatu dapat dibilang hanya kritik belaka? Apakah hanya tergantung pendapat mayoritas, yang jauh dari berkualifikasi untuk menentukan sesuatu yang bersifat tidak duniawi? Bukankah itu tergantung pendapat Tuhan yang memiliki agama tersebut? Kalaupun memang seseorang berhak dihukum atas penistaan yang mereka lakukan, bukankah itu hak Tuhan untuk menghukum mereka, bukan sesama manusia yang tentunya juga tak luput dari kesalahan?

Ahok pun akhirnya dipenjara. Bukan karena proses peradilan yang semestinya, namun karena tekanan massa. Tak urung beberapa orang menyamakan Ahok dengan Socrates, filsuf era Yunani kuno yang dihukum mati karena menyadarkan banyak orang untuk mulai berpikir kritis, dan dianggap mengganggu kemapanan penguasa. Para pendukungnya menyatakan Ahok kalah terhormat. Lilin-lilin dinyalakan, lagu nasional dinyanyikan. Dukungan simbolik, perlawanan dalam diam.

Tapi yang benar-benar menyadarkan gue adalah hal serupa yang terjadi kepada seorang kawan. Hanya karena sebuah kesalahan, ia menjadi target amarah dari banyak orang. Mereka mengaku menghujat dalam usaha membela sesosok entitas mahaagung, namun perilaku mereka berlawanan sekali dengan apa yang mereka bela. Hal ini dibicarakan terus-menerus selama seminggu. Memang apa yang ia terima tidak sebanding dengan cobaan kepada Ahok, namun ketika lo mengenal orangnya, rasanya semua hujatan yang ditujukan kepadanya seperti disorot kaca pembesar. Semuanya jadi personal. Ada beban mental, perasaan terancam, dan pikiran-pikiran lainnya yang ga seharusnya jadi beban seseorang, apalagi dalam minggu UAS.

Pada akhirnya, semua berakhir dengan damai. Masalah selesai. Senada dengan “kekalahan terhormat” yang ditanggung Ahok. Toh beliau masih kuat, bertahan, agaknya lumayan hepi di penjara karena mulai belajar kung-fu dan tidur cukup. Tapi pada akhirnya, ada konsekuensi yang harus kita bayar bersama-sama. Ada pihak tidak bertanggung jawab yang telah merusak riwayat pribadi dan nama mereka. Progress yang diprakarsai Ahok berisiko terhambat, atau terhentikan sama sekali. Dalam level personal, mungkin pribadi seseorang yang telah terekspos caci-maki borok-borok kemanusiaan akan berubah, dalam cara apa pun. Mungkin ada luka yang takkan sembuh. Keyakinan mendalam bahwa sejatinya kemanusiaan sudah punah. Mungkin mereka juga bertambah kuat. Gue pribadi tidak suka menyebut peristiwa ini “blessing in disguise”, meskipun pernyataan tersebut ada benarnya, namun kedengaran terlalu post-factum. “Semua ada hikmahnya”, seakan-akan hanya itulah yang bisa kita lakukan. Kita tidak bisa membalas atau memenjarakan orang yang ramai-ramai menjerit “Bunuh Ahok!!!!”. Kita tidak bisa membuat orang lain berpikir sesuai dengan cara kita. Apa yang kita sebut logis dan masuk akal agaknya merupakan versi yang sama sekali berbeda dari logisnya mereka.

Terus kita bisa ngapain?

Jujur, itulah yang gue tanyakan terus-menerus.

Gue pernah membaca twit yang kurang lebih berkata “Jika yang waras selalu mengalah, dunia akan dipimpin orang gila.” Itulah yang gue rasakan sekarang. Ada pihak yang memiliki keinginan, yang sebenarnya tidak begitu masuk akal. Jika keinginan tersebut tidak diikuti, pihak tersebut akan melancarkan serangan penuh kekerasan yang membuat kita semua resah. Kita terpaksa mengalah, karena jika tidak, artinya kita cari mati, memulai perang. Kita seperti diperalat, dan tidak berdaya melawan mereka yang terus menyebarkan pesan-pesan intoleransi.

Sebenarnya gue merasa tidak ada gunanya membuat tulisan ini. Makanya gue cuma bilang ini curcol semata. Masalahnya, gue yakin yang bisa memahami inti dari tulisan ini cuma golongan orang-orang rasional yang pastinya gak bakal teriak-teriak “bunuh Ahok” di tengah jalan atau menganjing-anjingkan orang yang berbuat salah di media sosial. Tapi orang-orang yang rasional gak butuh tulisan ini. Yang butuh dibikin paham adalah orang-orang bersumbu pendek yang cepat menghakimi. Tapi kita tidak bisa membuat mereka memahami kita, karena intoleransi adalah intoleransi.

Gue merasa seperti menghadapi jalan buntu. Seperti ada yang memecahkan gelembung “aman” gue yang cuma kuliah-makan-ngerumpi-nugas-nonton film, dan kini gue merasa dikelilingi oleh ancaman terhadap rasa kemanusiaan kita. Bahkan kini, sepertinya mulut gue takkan pernah berhenti mencetuskan, “Kok orang bisa ya, sejahat itu. Gak pake mikir. Gak masuk akal.” Gue sempet pusing banget karena masalah ini, sulit untuk mencerna perbedaan drastis antara situasi ideal yang saling menghargai, kesadaran atas rasa kemanusiaan yang kolektif; dan situasi yang ada sekarang. Ketika lo belajar Logika dan jenis-jenis kesesatan pikir, lo udah punya bayangan ideal bagaimana seseorang harus bertindak; rasional, dari A ke B, B ke C, C ke D, dan asumsi bahwa mereka punya kesadaran penuh bagaimana perbuatan mereka bisa berefek ke yang lain. Di semester-semester selanjutnya gue masih akan belajar Etika, bagaimana prinsip baik dan buruk dilihat dari berbagai sudut pandang filosofis. Lah, buat apa gue belajar Logika kalo dalam kenyataan masih banyak orang yang tidak rasional maupun konsisten dalam perkataan dan perbuatan mereka? Buat apa gue belajar Etika, kalau baik dan buruk sudah kabur, dan orang akan melakukan apa pun atas dasar kebencian?

Ada titik di mana gue udah bener-bener capek sampe gue nangis karena hal ini. Nangis sambil pengen ketawa. Lucu, betapa sesuatu yang hanya bisa kita lihat di TV, baca di media sosial, dan dengar dari omongan orang bisa mempengaruhi gue segitunya. Gue tidak disakiti secara langsung dan personal, namun gue merasa disakiti. Apakah tingkat empati gue sudah setinggi itu, sehingga bisa merasa satu dengan kemanusiaan: kumpulan orang-orang yang gak gue kenal sama sekali, mereka yang terluka dan terlecehkan? Apakah keadaan kita memang seburuk itu? Apakah mungkin gue cuma orang yang baperan?

Pada saat-saat gelap seperti ini bokap gue selalu hadir. Ia bilang bahwa ada dua jalan keluar yang mungkin untuk masalah ini. Yang pertama, jangka pendek, yaitu tindakan tegas dari hukum dan otoritas; yang jujur tidak bisa kita andalkan sepenuhnya, karena lihat saja apa yang mereka lakukan kepada Ahok. Mungkin kita butuh banyak figur otoritas yang berani dan bersih seperti Ahok, karena jika beliau berdiri sendirian ia akan tumbang. Untuk bisa mencapai keadaan tersebut, butuh solusi kedua yang bersifat jangka panjang, yaitu pendidikan. Mungkin klise. Tapi jika kita menanamkan kebiasaan-kebiasaan kecil mulai dari berpikir kritis sampai kebebasan berimajinasi dan berpendapat, mungkin kita bisa memunculkan generasi-generasi yang bisa menggunakan otaknya sedikit. Paling tidak, mereka yang cukup paham untuk gak main kekerasan, hakim sendiri, mampu bertenggang rasa dan bisa berempati kepada orang lain sebagai sesama manusia.

Sumpah, gue takut. Gak cuma takut sama kondisi negara ini, dan apa yang menanti di masa depan. Gue takut gue gak berani mengambil langkah yang dibutuhkan pada waktunya, gue takut gue akan kembali kepada kenyamanan gue dan kembali menjadi mayoritas yang diam. Gue takut cuma berani ngomong doang. Tapi paling tidak gue sudah menyuarakan rasa takut gue.

Maka, selamat hari lahir Pancasila, yang telat sehari. Jika gue mau “mengambil hikmah” dari semua peristiwa belakangan, mungkin kita semua jadi lebih memaknai Pancasila kali ini sebagai sesuatu yang lebih darurat dan perlu dilindungi. Kita tidak pernah tahu makna sesuatu sampai ia direnggut dari kita, ungkapan itu memang benar dalam kasus ini. Mungkin. Semoga tidak hanya slogan atau foto editan Picsart yang dipajang di Instagram biar hits.  Ga cuma foto yang dipajang di depan kelas, tak pernah disentuh sementara foto presiden di sebelahnya terus berganti. Semoga bisa bener-bener jadi sesuatu. Gue pengen banget kita semua berhenti menjaga keberagaman demi formalitas semata, namun karena kesadaran internal bahwa pada akhirnya kita semua sama-sama manusia.

Perihal Keterasingan

Sejak SD dalam pelajaran IPS siswa-siswa seantero negeri selalu didoktrin bahwa manusia adalah makhluk sosial. Buku-buku cetak tersebut selalu mengagungkan kerja bakti, gotong-royong, permainan-permainan tradisional yang membutuhkan kontak langsung dengan tetangga-tetangga sebaya, dan lain-lain. Nilai-nilai tersebut memang dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat, tapi apakah hidup kita selalu bermasyarakat? Apakah kita tidak punya momen-momen privat ketika kita memilih diam dan mendengarkan batin kita masing-masing? Apakah semua orang diharapkan untuk selalu aktif dan energik dalam semua bentuk interaksi sosial—tak peduli dia ekstrovert atau introvert?

Contoh yang sederhana, penempatan konotasi buruk dalam kata “individualistis”. Hal ini sering digunakan dalam pendidikan karakter ala-ala, bersanding dengan kata kunci “pengaruh budaya Barat” dan “kehidupan perkotaan”. Tidak ada salahnya menjadi seorang individualis—mungkin kita merasa lebih nyaman dengan diri sendiri. Seorang individualis bisa mengenali dirinya dengan baik; dari minat, tujuan hidup, dan metode kerja yang cocok dengan dirinya. Jika demikian, bisa jadi seorang individualis lebih prinsipil dalam situasi-situasi tertentu dan punya empati terhadap orang lain. Bahkan, beberapa pemikiran terbesar lahir dalam perenungan diri, di antaranya Rene Descartes dengan cogito ergo sum, dan Isaac Newton dengan gaya gravitasi. Kemudian, ledekan santai “ansos” yang dari penggunaan katanya saja sudah salah kaprah karena perilaku antisosial (berontak terhadap masyarakat, agresif, “berbahaya”) berbeda dengan asosial (tidak suka bergaul). Kalau misalnya asosial, kenapa? Bisa jadi lingkungannya yang tidak cocok atau kurang peka dalam menerima yang bersangkutan, atau mungkin mereka saja yang suka menyendiri.

Gue sendiri mengalami sendiri periode kesendirian yang tidak gue inginkan semasa SMA. Ada semacam culture shock saat pindah dari SMP negeri ke SMA swasta Katolik, dan ternyata teman-teman sekelas yang gue kenal di awal sudah memiliki peer group masing-masing yang kurang cocok sama gue. Lama kelamaan gue pun lebih nyaman menyendiri, namun dalam keadaan itu pun gue masih tertekan. Gue pengen bisa punya inside joke dengan teman-teman, bisa ketawa-ketawa dengan bebas dan merasakan kebahagiaan semu seperti yang gue saksikan setiap harinya. Masalah baru pun bertambah karena gue merasa beberapa orang membicarakan gue karena kebiasaan menyendiri yang dianggap tidak lumrah tersebut, entah spekulasi ini benar atau tidak. Bahkan teman-teman yang ramah pun biasa menyapa gue dengan “loh, kok sendirian aja?” Kembali lagi: konotasi negatif dalam kata “sendirian”.

Setelah lepas dari semua itu, gue menyadari bahwa perasaan terasing dan tertekan yang gue alami merupakan produk dari lingkungan dan diri yang kurang matang. Gue kurang mampu menebalkan muka dan fokus pada tujuan diri; sementara lingkungan sosial gue pada masa ini memang kurang nyambung, dan ini bukan salah siapa-siapa. Di akhir SMA pun gue akhirnya memiliki peer group yang menyenangkan, yang cukup membantu gue berkoneksi dengan teman-teman lainnya. Namun hal ini tidak menghapus kesulitan yang telah gue alami selama dua tahun pertama, yang kini hanya bisa gue refleksikan sebagai salah satu fase menarik dari hidup.

Berbeda dengan lingkungan sosial gue saat ini, yang bisa gue nilai sehat dan terbuka. Gue merasa bisa diterima oleh peer group dengan pikiran yang jauh lebih maju. Bukan berarti sekarang gue tidak membutuhkan waktu sendiri. Dalam posisi sekarang gue justru merasa lebih leluasa untuk menyendiri. Di satu sisi, gue mulai melepas diri dari pandangan orang lain dan lebih fokus kepada bagaimana cara mengembangkan minat dan potensi yang gue miliki; di sisi lain, gue tahu teman-teman akan menghargai keputusan saya untuk menyepi. Posisi yang ideal, di mana gue masih bisa menikmati keheningan dan menggali potensi diri tanpa kehilangan keyakinan bahwa gue tidak benar-benar sendirian. Ibaratnya seperti kemampuan untuk tidur lelap karena ada jaminan bahwa kita akan terbangun lagi.

Namun tidak semua orang seberuntung gue. Beberapa orang yang gue kenal masih terjebak di lingkungan sosial yang tidak sehat, bahkan setelah mereka kuliah: tidak cocok dengan peer group mereka, atau dijauhi karena dianggap aneh. Malahan masih ada saja yang saling membicarakan di belakang atau terikat dengan peer group dengan budaya “asal solid”, yang menciptakan kecenderungan konformis dan menghapuskan originalitas individu mereka. Jika dikaitkan dengan Karl Marx, yang memaknai “pengasingan” sebagai terasingnya individu dari jati diri mereka karena terikat dengan sistem, ini menciptakan paradoks tersendiri. Masalah yang lebih besar dari pengasingan yang sukarela adalah keterasingan yang tidak disadari.

Satu lagi contoh yang sangat menyentil adalah sebuah adegan dalam Ada Apa Dengan Cinta, di mana Rangga mengatakan bahwa Cinta tidak punya pendirian karena selalu mengikuti kegemaran teman-temannya. Meskipun dari awal film sudah ditegaskan bahwa Cinta sebagai pemimpin geng selalu menjadi penggiring opini peer group-nya, ada momen-momen keterasingan yang ia alami saat bersama kawan-kawannya. Ia terikat dengan peran yang diharapkan darinya sebagai sosialita sekolah, yaitu hubungannya dengan Borne, meskipun ia tidak cocok sama sekali dengannya. Cinta pun berusaha menyembunyikan perasaannya terhadap Rangga karena ia takut dihakimi teman-temannya. Padahal hanya dengan Rangga ia bisa bebas merasa nyaman dan menjadi diri sendiri. Jika demikian, mana yang sebenarnya lebih terasing: Rangga atau Cinta?

Pada akhirnya, apa makna keterasingan itu sendiri? Terlepas dari dikotomi penyendiri/populer; introvert/ekstrovert, siapapun bisa menjadi terasing: entah terasing dari masyarakat atau terasing dari dirinya sendiri. Disadari atau tidak. Namun pilihan untuk menyendiri tidak otomatis membuat kita terasing.  Sering kali keterasingan ini timbul dari individu atau lingkungan sosial yang kurang dewasa dalam bersikap, sehingga memunculkan tekanan dan keresahan di kedua belah pihak. Namun, sampai hari ini gue masih suka merasa gelisah sewaktu-waktu, apakah kehidupan sosial yang sehat ini membuat gue terlalu nyaman dan kehilangan orisinalitas diri?


Diadaptasi dari tugas Filsafat Manusia, tulisan yang ditugaskan sebagai pengantar ke materi Keterasingan (alienation and estrangement). Karena saya lagi males nulis lagi. Meskipun keseluruhan post ini tidak sepenuhnya cocok sama definisi keterasingan secara teori sih. Yak, siap.

Perihal Kecoa

Sayup-sayup dalam ingatan, entah itu di SD, SMP, atau SMA, pernah ada kecoa berkeliaran di lantai dan semua orang kontan naik ke atas kursi dan meja. Saya ikut-ikutan saja karena panik. Merenungkan kembali kejadian tersebut, timbul pertanyaan, apakah merupakan rahasia umum bahwa naik ke atas meja merupakan cara yang efektif untuk menghalau kecoa; sama halnya dengan membaca ayat kursi jika melihat penampakan setan? Apakah orang yang pertama kali naik ke atas meja memang tahu bahwa kecoa tidak bisa naik ke atas meja karena dia pernah baca fakta tersebut di akun instagram Dagelan? Atau justru ia tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa kecoa bisa naik ke atas meja dan berak di wajahnya, jika kecoa itu benar-benar dendam kesumat terhadap dirinya?

Saya juga tidak mengerti kenapa anekdot soal kecoa sering muncul dalam percakapan, meskipun kecoanya sendiri tidak hadir. Misalnya: “kadang gue bingung kenapa Tuhan menciptakan kecoa.” Atau: “kalo kecoa biasa, gue masih berani. Tapi kalo kecoa terbang…” lalu kalimat tersebut diikuti tawa senasib sepenanggungan dari semua orang. Tanpa sadar dengan mengangkat  kecoa dalam percakapan ngalor-ngidul ini kita sudah mengabadikan kecoa menjadi bagian dalam hidup kita. Sedikit janggal, karena kecoa yang dalam kesehariannya dianggap hama  justru menjadi penting karena sering dibicarakan. Sama seperti, contohnya, Awkarin yang sering dihina-hina orang, namun hinaan itu justru mengukuhkan popularitasnya sebagai figur publik.

Tanpa disadari, pengukuhan popularitas kecoa mengubah status hewan ini dari hama menjadi pemicu histeria massal. Sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tapi dihebohkan masyarakat. Tentu ini tidak seharusnya terjadi, karena kecoa sebagai hama tidak muncul tanpa sebab. Pada umumnya kemunculan kecoa disebabkan oleh lingkungan yang kotor, lembab, dan ventilasi yang tidak berjalan lancar. Seharusnya orang tidak hanya berteriak-teriak panik kalau ada kecoa, namun melakukan sesuatu untuk mencegah munculnya kecoa tersebut, seperti membersihkan lingkungan. Dalam hal ini, kecoa bukan masalah utama, melainkan sebuah indikator akan adanya masalah. Hal serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, contohnya kemunculan semacan “genre” trashy hip music jaman sekarang yang di antaranya digawangi Awkarin (udah bosen belom??), Young Lex, Kemal Palevi dihebohin dan dijadikan meme oleh para khalayak netizen. Begitu fokusnya kita ngetawain video Bad Ass di kelas sampai kita tidak menyadari bahwa ini merupakan fenomena dari keadaan kita sekarang; di mana nilai karya diabaikan, dan menjadi kurang penting dibandingkan popularitas karya tersebut. Seperti lirik lagu Anjay yang ditembangkan Kemal Palevi: “Nanti anjay dijadiin meme / Memenya anjay”. Terjadi perubahan pola pikir yang berkiblat ke viralitas. Ini belum tentu merupakan masalah, tapi kembali lagi, kadang hal ini luput dari pandangan kita.

Pada akhirnya, mungkin memang ini yang dilakukan banyak orang, termasuk saya. Kita teralihkan oleh banyaknya hal yang terjadi di sekitar kita pada saat yang bersamaan, sampai kita lupa akan keadaan yang mendasari gejala kasatmata tersebut. Mungkin sudah saatnya kita mengurangi histeria kita, mengevaluasi keadaan, dan mulai mengajukan sebuah pertanyaan: mengapa kecoa ini bisa ada?


Gue kembali di sela kerasnya hidup berumahtangga dengan 23 SKS. Ga sempet nonton banyak film lagi, apalagi ngereview karena udah keburu lelah dan males, maafkeun. Review Istirahatlah Kata-Kata dan La La Land gak pernah diselesain juga meskipun suka banget sama keduanya, karena gue merasa bete dengan review gue yang rasanya kaga ada bagus-bagusnya. Untuk sementara blog ini akan dihias dengan tugas-tugas Filsafat Manusia yang rada absurd: tugas yang ini disuruh menulis tentang kecoa dan disangkutkan dengan materi Kepercayaan. Selanjutnya ngebahas Hidup dengan H besar dan yang selanjutnya sedang gue susun adalah tentang pengasingan diri.

Di mana pun kalian berada wahai pembacaku yang noneksisten, semoga hidup kalian lagi enak, atau kalian lagi menderita demi tujuan yang baik. Berbahagialah. Sementara itu, boleh dicek review Arrival gue yang sudah didekorasi dengan uwawa-uwiwi ilmiah agar cukup luchu untuk dimuat di Deadpool UI.

Perkara Selebgram yang Kemarin

Hm. Jadi, selebgram yang kemaren.

[insert ketawa sitkom palsu]

Gue pengen ngomongin video Awkarin yang terbaru. Video itu lumayan menggugah filsuf tertidur dalam diri gue, karena kepikiran terus sampai besoknya. Agaknya video ini rada ~shocking~ karena banyak temen gue yang gak pernah kenal beliau ikutan nonton karena penasaran… dan tentu saja… supaya bisa ikut komentar layaknya netizen yang baik dan benar. Udah banyak orang yang bikin postingan LINE tentang ini, tapi kali ini sengaja gue bikin post blog biasa biar kayak orang bener.

Gue sudah mengikuti Awkarin sejak beberapa waktu lalu, karena iseng nonton videonya di suatu malam puasa yang laknat. Yang menarik dari polemik Karin ini adalah, dia diserang dari dua arah. Arah pertama, orang-orang konservatif yang mikir kalau dia ini perusak moral bangsa, dengan rokok, alkohol, PDA, dan kata-kata kasarnya. Percayalah, moral bangsa ini sudah rusak tanpa adanya Karin. Bisa jadi kebalikannya, Karin ini adalah produk so-called moral bangsa yang sudah rusak. Mungkin dia terekspos budaya kehidupan malam, ngerokok, dan pasang foto ciuman di Instagram karena itu yang dianggap keren oleh remaja jaman sekarang, dan orang tuanya terlalu permisif untuk membentuk Filter Budaya Asing™ dalam diri Karin. Opsi ketiga: it doesn’t matter!!! Caranya berpakaian dan gimana dia berkata-kata bukan urusan Anda. Gak pernah ada dalam vlognya adegan dia memperlakukan orang asing atau fansnya secara tidak sopan.

“Tapi, siapa yang tahu di dunia nyatanya dia kayak gimana?”

Nah, tepat sekali! Kalau Anda gak kenal, gak usah sok-sok mengomentari moral!

Golongan kedua adalah remaja yang mikir dia sok iye dan caper, orang-orang intelek yang mikir dia shallow, dan SJW yang menemukan mangsa empuk mereka. Semuanya reasonable, dan semuanya benar. Gue juga akan masuk ke golongan ini sih, kalau gue gak punya selera humor atau Toleransi Tinggi. Gue tidak berminat menghujat orang. Lebih baik kita jadikan meme saja.

Sekarang, video terbarunya. Menurut mba Karin video ini Bukan Vlog™, yang basically isinya cuma surprise party Gaga (yang bahkan udah bukan pacar Karin lagi at the moment… schedi) dan Karin nangis-nangis di kamera sementara Sarah di sebelahnya berusaha Menjadi Berguna dengan nawarin tisu dan nimbrung gitu deh.

Gue nonton video ini pertama kali karena ingin saja, kedua kali nonton karena ingin membuat diskursus. Tapi di tontonan kedua, ada bagian yang didelete. Pengakuan Karin kalo dia pake kunci jawaban karena malam sebelum UN dia gak belajar… karena main melulu sama pacarnya (sekarang mantan)… hhhhhh. Lalu, dia bilang tadinya pengen masuk FKUI tapi dia melepas impiannya supaya ada waktu buat pacaran. Hhhhhh. Gue bingung mau bilang apa tadinya, apalagi Karin terkenal dengan motto ‘nakal boleh, bego jangan’. Bro… itu… bego banget. Aku merasa dikhianati. Gue tau dia shallow, tapi gak se-shallow itu, mengorbankan masa depan demi cowo sampah yang berani-beraninya minta putus karena bosen sama lo.

Tapi pada akhirnya, ini kasus yang memang sudah umum. Mindset ini sama dengan orang-orang lain, yang misalnya gak ngambil pendidikan di luar negeri karena gak dibolehin pacarnya, padahal sebelum kuliah juga udah putus (ini beneran kejadian, btw). Atau orang yang gak kuliah karena mau kawin. Semuanya sama-sama bego, tapi Karin sendiri yang dihujat orang karena dia sendiri yang ngaku. Plus reputasinya sebagai ‘perusak moral bangsa’ dan ‘remaja shallow masa kini’ bikin orang tambah seneng ngehujat, yakin deh.

Pada saat yang sama, kalau ditonton baik-baik, video pengakuan Karin bisa bikin kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa Awkarin itu cuma persona. Segala photoshoot dan endorsing itu, pada akhirnya, cuma bisnis, tapi di balik itu ada Karin remaja seangkatan gue yang baru akan masuk kuliah yang dibully khalayak.

Lo boleh bilang Karin attention whore atau apalah dengan mempublikasikan kehidupan pribadinya seperti ini. Mungkin dia emang caper berat, and that’s okay honestly, siapa yang gak caper hari gini, di mana likes Instagram menjadi semacam indikator popularitas? Apa tujuan manusia punya sosmed sekarang, ngepost blog, ngetwit? Semuanya ingin mendapatkan umpan balik. Bangga ketika di-retweet, senang ketika dikomentari influencer. Kita semua caper, hanya saja bentuknya berbeda. Biarkanlah doi berekspresi, gak usah ditanggapin serius. Lebih baik kita jadikan meme supaya dapet banyak ritwit, hehehehehehehe.

Jujur, gue gak peduli Karin itu orangnya kayak gimana. Ya, mungkin dia emang caper dan banyak drama. Mungkin dia bego karena kebanyakan mikirin cowo sampe lupa mikirin masa depan. Tapi, menampilkan diri di muka umum punya konsekuensi. Meskipun gak jaim, Karin selalu menampilkan diri sebagai cewe cool ala-ala Amy Dunne—seksi, cakep, punya kehidupan malam yang bebas, dan harus gampang deket sama cowok juga biar ga keliatan uptight hehehehehe. Mengkurasi hidupnya, sebagaimana ia mengkurasi feed Instagram-nya, demi ketenaran dan uang. Orang bakalan banyak yang hujat dia, itu pasti. Mungkin dia memang belum siap terkenal. Mungkin dia hanya manusia biasa yang ternyata tida tahan tubir.

Mungkin kita bisa belajar satu-dua hal dari Awkarin. Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia ngelepasin universitas targetnya demi lelaki fana racun dunia, tai, nyesel kan lu sekarang? Kenapa popularitas jadi penting sekali di jaman sekarang, padahal udah tau anak-anak eksis kayak gitu pergaulannya toxic dan gak pernah ngurusin yang penting?

Kadang kita terlalu sibuk melihat yang gemerlap, sampai melupakan yang penting. Itulah gunanya batasan. Harus ada yang membatasi sampai mana foya-foya bisa dianggap sehat. Ada batas sejauh mana lo boleh mengorbankan kepentingan demi pacar. Ada batas sejauh mana lo patut mengumbar perasaan lo ke publik. Ada batas sejauh mana lo menjadikan seseorang sebagai panutan lo, dan lo nggak perlu menyangkal kesalahan yang ia perbuat, karena itu bukan tugas lo. Terimalah fakta bahwa idola lo juga manusia. Ada pula saatnya lo bisa memutuskan untuk nekat dan menerima konsekuensi yang ada, ketika lo siap.

Gue rasa kita gak bisa menyalahkan orang lain yang tidak memiliki batasan, maupun keberanian untuk melompati batasan tersebut. Pantas mereka tersesat di tengah dunia yang ingar-bingar.