film

Tiga Dara (1956) dan Sedikit yang Gue Pelajari Tentang Film Indonesia

tiga-dara.png

Sudah lama gue tidak mengulas film. Lebih tepatnya, sudah lama gue tidak niat mengulas film. Sebenernya, sudah lama gue tidak menulis di sini karena kesibukan ospeg sebulan, sebuah gagasan sok ide yang hanya ada satu di seluruh universitas di Indonesia. Udah ah jangan garem melulu hehehehehe.

Tapi di antara film-film lainnya yang gue tonton akhir-akhir ini, entah bagaimana Tiga Dara membuat gue kena sirep di kereta sepanjang perjalanan pulang. Gue merasa harus banget menulis tentang ini, terlebih lagi kisah yang ada di baliknya. Bukannya begadang buat nulis esai ospeg, gue malah nulis ginian. Ampun qaqa. Kalau gak langsung ditulis postingan ini akan mengabur jadi serpihan angan di alam pikir semata. *dadah-dadah sama draft review Siti dan Ikiru yang terbawa angin*

Sebelum Tiga Dara, gue mendengar tentang Ini Kisah Tiga Dara terlebih dahulu lewat postingan-postingan Instagram-nya Tara Basro dan Nia Dinata. Wah ada film baru, kayaknya seru. Ya Allah, cast-nya geulis-geulis pisan, maafkan hamba-Mu yang tidak selalu menepati shiratal mustaqim ini. Setelah itu, gue dengar bahwa ini remake film Tiga Dara jaman dulu yang disutradarai Usmar Ismail. Kemudian, baru muncul kabar bahwa film Tiga Dara yang asli mau direstorasi dan ditayangkan di bioskop. Saat itu gue gak begitu paham apa itu 4K atau mengapa film ini penting banget, karena cuma sempet baca selentingan-selentingan. Sebagai orang yang doyan nonton, gue hanya berpikir bahwa gue wajib banget nonton Tiga Dara. Gak ada ekspektasi, gak sempet riset, karena ospeg adalah is. Abisnya yha, eug biasa bela-belain cari torrent film jadul yang seed-nya dikit lagi ukurannya gede biar dikata edgi (gak deng), ketika ada kesempatan untuk nonton film Indonesia pada masa kejayaannya harus nonton, lah.

Rasa yang ditinggalkan film ini sederhana: menyenangkan. Mengingat film ini rilis pada zaman perang, mungkin Tiga Dara memang diproduksi sebagai sarana piknik rohani masyarakat. Dendangnya yang ternyata masih cocok dengan telinga masa kini, ditambah lagi akting teatrikal khas film jadul dalam film ini mengkatrol suasana hati banget.

Gue juga seneng, akhirnya gue bisa melihat estetika Indonesia tahun 1950an dengan segala keagungannya. Selama ini gue cuma tahu dari postcard vintage Djakarta Tempoe Doeloe ala-ala dan baju-bajunya Sari White Shoes. Y h a. Tapi seriusan, film-film yang ikonik pada zamannya merupakan kapsul waktu terbaik. Seperti Ikiru yang memberikan sedikit gambaran suasana Tokyo tahun 50an, atau Taxi Driver yang ngasih liat borok-boroknya New York tahun 70an kayak gimana. Akhirnya kita bisa ngeliat kondisi Jakarta pada tahun 1956 lepas dari sudut pandang politis yang didiktekan buku sejarah. Jakarta jaman dulu antah-berantah, men. Rata-rata penonton Jakartawan Kekinian tergelak ketika melihat adegan yang diambil di jalan raya dan berkomentar: “Jaman dulu gak ada macet, ya.” Gue ikut berkomentar demikian dan ikut tertawa, yha… you don’t say. Selain itu, sungghu aku jatuh cinta dengan fashion-nya yang unyu-unyu, apalagi Nenny yang baju-bajunya selalu on point.

Kejutan yang gak gue sangka, dengan segala kejadulannya, ternyata film ini masih relevan banget dengan keadaan sekarang. Sekarang masih banyak orang tua yang ngurusin banget jodoh anaknya. Drama keluarga yang itu-itu aja: nenek marahin bapak, adek ngejahilin kakak, gesekan antara kakak yang pendiam dan adik yang aktif bergaul, rebutan cowok. Receh-recehnya pun masih nyambung meskipun terpaut 60 tahun. Polemik tiga saudari yang ditampilkan mengingatkan gue dengan Schuyler sisters dari musikal Hamilton–se-universal itu ceritanya.

Setelah kami nonton, ada acara diskusi bersama orang-orang yang terlibat proyek restorasi film Tiga Dara ini: Taufik Marhaban, Alex Sihar, dan Gery Simbolon. Padahal gue sama temen gue gak tahu ada diskusi, begitu juga penonton yang duduk di sebelah kita tadi, hehe. Kejutan lainnya. Justru dari tanya-jawab itu, gue menyadari nilai penting film ini.

Jadi, Tiga Dara adalah film Indonesia pertama yang direstorasi dalam format 4K. Di Asia, ini adalah film kedua… dan film pertamanya adalah… Seven Samurai-nya Akira Kurosawa. Anjir.

Proses restorasi film ini memakan waktu 18 bulan, dan gue gak bisa bayangin sesulit apa ngerjainnya. Ini seluloid-seluloid film yang rapuh di-scan frame by frame lalu dikoreksi satu per satu. Tentunya dana yang dikucurkan gak sedikit, gue lupa berapa persisnya dalam euro, tapi dalam rupiah, biaya yang dibutuhkan mencapai 3 miliar. Dana itu berasal dari badan perfilman Singapura dan World Cinema Foundation.

Mirisnya, justru lembaga-lembaga dalam negeri gak ada yang tertarik membiayai proyek ini (dalam diskusi dikatakan pemerintah pernah membantu pendanaan proyek film sebelumnya tapi gue lupa yang mana, antara Darah dan Doa atau Lewat Djam Malam, tapi jadinya distribusinya kurang luas karena gak boleh ditayangkan secara komersil). Yha, gimana ya. Mungkin kelewat idealis kalau membayangkan ada perusahaan yang dengan entengnya menggelontorkan dana 3 miliar, atau paling tidak, separuhnya saja untuk restorasi film item-putih yang belom tentu ada yang mau nonton. Belum tentu balik modal. Apa yang membuat orang mau ngeluarin duit sebanyak itu untuk restorasi film?

Hal ini sempat ditanyakan oleh seorang penonton saat sesi tanya jawab. Jawabannya adalah rasa cinta, karena love is the answer to everything (plis jangan salahin gue, ini jam 2 pagi). Restorasi film yang luar biasa sulit pun dilakukan karena orang-orang yang terlibat di dalamnya cinta dan paham makna sejarah yang dikandung dalam film itu. Badan film Singapura mau donasi karena Usmar Ismail juga membentuk sejarah film di negara mereka, sementara World Cinema Foundation memang didirikan untuk mendukung restorasi film-film di seluruh dunia. Gila juga kalau dipikir-pikir. Mungkin memang, tiga kualitas yang dibutuhkan demi dunia yang lebih baik: duit, sentimentalitas, dan pemahaman yang mendalam akan nilai sejarah. Ini premis yang baik sebagai motivasi agar gue bisa jadi orang kaya.

Para penanya dalam acara diskusi tersebut mendapatkan kaos Tiga Dara yang cakep bukan main. Gue pengen tanya tapi telat, padahal gue pengen banget kaosnya yaa robb,,, sejatinya anak kos selalu kekurangan sandang dan pangan. Gue cuma pengen nanya proyek selanjutnya (TAPI GUE BENERAN PENGEN TAHU). Tentu saja pertanyaan ini luar biasa klise, tahu-tahu ada aja orang yang nanyain. Kalau gak salah ada enam judul film yang sedang dipertimbangkan. Sempat disebut-sebut Apa Yang Kau Tjari, Palupi; Tjut Njak Dhien; dan salah satu filmnya Sjuman Djaja, namun gue kurang jelas juga menangkap apakah itu judul film yang sedang dipertimbangkan atau film yang ingin sekali mereka restorasi.

Keluar dari teater, gue merasa terbakar sekaligus tambah buta. Gue pengen mengenal lebih jauh tentang film-film klasik Indonesia, tapi susah banget aksesnya. Screening-screening pun terbatas. Tiga Dara adalah film klasik Indonesia pertama yang gue tonton, mana gue tahu dulu sinema kita punya masa emas seperti itu. Bahkan, Tiga Dara adalah film Usmar Ismail yang kesebelas. BANYAK AMAT. Dalam diskusi itu dikatakan, Tiga Dara adalah film Usmar Ismail pertama yang berubah menjadi agak komersil setelah sepuluh film lainnya bergaya arthouse.

Jujur itu yang bikin gue penasaran, film arthouse Indonesia tahun 50-an itu gimana jadinya? Bagaimana dengan sineas lainnya yang ikut berkarya dari tahun 1950-1960? Sebelumnya gue gak pernah kepikiran soal film-film Indonesia lama yang menghilang entah ke mana. Tapi setelah mengikuti jalannya diskusi, gue merasa sedikit iri dengan negara-negara lain yang paham dengan nilai sejarah dalam perfilman mereka. Dunia bisa mengenal film-film klasik Amerika dan Jepang. Meskipun sudah lewat jauh dari masanya, film-film karya Alfred Hitchcock, Stanley Kubrick, atau Akira Kurosawa bisa punya cult followers di mana-mana. Sementara film klasik Indonesia, di negaranya sendiri aja gak banyak orang yang tahu.

Bagaimana gue menutup post ini yha, dengan harapan dan doa demi masa depan perfilman Indonesia yang lebih baik? Ya, gue cuma pengen lebih banyak orang yang nonton Tiga Dara aja. Orang butuh tahu kalau jaman dulu tuh ada film yang kece kayak gini. Orang butuh tahu kalau jaman dulu ada juga yang pacaran, gak semuanya ta’aruf~~ Selain itu, dengan nonton Tiga Dara lo bisa mendukung proyek-proyek restorasi film selanjutnya dan menggali lebih banyak film-film Indonesia bagus yang terkubur dalam kumparan seluloid yang rusak dan tak terjangkau.

Ceritanya 11/12 sama AADC, sumpah.

Maju terus perfilman Indonesia!

Gue mau tidur.

Standard
nyinyir

Perkara Selebgram yang Kemarin

Hm. Jadi, selebgram yang kemaren.

[insert ketawa sitkom palsu]

Gue pengen ngomongin video Awkarin yang terbaru. Video itu lumayan menggugah filsuf tertidur dalam diri gue, karena kepikiran terus sampai besoknya. Agaknya video ini rada ~shocking~ karena banyak temen gue yang gak pernah kenal beliau ikutan nonton karena penasaran… dan tentu saja… supaya bisa ikut komentar layaknya netizen yang baik dan benar. Udah banyak orang yang bikin postingan LINE tentang ini, tapi kali ini sengaja gue bikin post blog biasa biar kayak orang bener.

Gue sudah mengikuti Awkarin sejak beberapa waktu lalu, karena iseng nonton videonya di suatu malam puasa yang laknat. Yang menarik dari polemik Karin ini adalah, dia diserang dari dua arah. Arah pertama, orang-orang konservatif yang mikir kalau dia ini perusak moral bangsa, dengan rokok, alkohol, PDA, dan kata-kata kasarnya. Percayalah, moral bangsa ini sudah rusak tanpa adanya Karin. Bisa jadi kebalikannya, Karin ini adalah produk so-called moral bangsa yang sudah rusak. Mungkin dia terekspos budaya kehidupan malam, ngerokok, dan pasang foto ciuman di Instagram karena itu yang dianggap keren oleh remaja jaman sekarang, dan orang tuanya terlalu permisif untuk membentuk Filter Budaya Asing™ dalam diri Karin. Opsi ketiga: it doesn’t matter!!! Caranya berpakaian dan gimana dia berkata-kata bukan urusan Anda. Gak pernah ada dalam vlognya adegan dia memperlakukan orang asing atau fansnya secara tidak sopan.

“Tapi, siapa yang tahu di dunia nyatanya dia kayak gimana?”

Nah, tepat sekali! Kalau Anda gak kenal, gak usah sok-sok mengomentari moral!

Golongan kedua adalah remaja yang mikir dia sok iye dan caper, orang-orang intelek yang mikir dia shallow, dan SJW yang menemukan mangsa empuk mereka. Semuanya reasonable, dan semuanya benar. Gue juga akan masuk ke golongan ini sih, kalau gue gak punya selera humor atau Toleransi Tinggi. Gue tidak berminat menghujat orang. Lebih baik kita jadikan meme saja.

Sekarang, video terbarunya. Menurut mba Karin video ini Bukan Vlog™, yang basically isinya cuma surprise party Gaga (yang bahkan udah bukan pacar Karin lagi at the moment… schedi) dan Karin nangis-nangis di kamera sementara Sarah di sebelahnya berusaha Menjadi Berguna dengan nawarin tisu dan nimbrung gitu deh.

Gue nonton video ini pertama kali karena ingin saja, kedua kali nonton karena ingin membuat diskursus. Tapi di tontonan kedua, ada bagian yang didelete. Pengakuan Karin kalo dia pake kunci jawaban karena malam sebelum UN dia gak belajar… karena main melulu sama pacarnya (sekarang mantan)… hhhhhh. Lalu, dia bilang tadinya pengen masuk FKUI tapi dia melepas impiannya supaya ada waktu buat pacaran. Hhhhhh. Gue bingung mau bilang apa tadinya, apalagi Karin terkenal dengan motto ‘nakal boleh, bego jangan’. Bro… itu… bego banget. Aku merasa dikhianati. Gue tau dia shallow, tapi gak se-shallow itu, mengorbankan masa depan demi cowo sampah yang berani-beraninya minta putus karena bosen sama lo.

Tapi pada akhirnya, ini kasus yang memang sudah umum. Mindset ini sama dengan orang-orang lain, yang misalnya gak ngambil pendidikan di luar negeri karena gak dibolehin pacarnya, padahal sebelum kuliah juga udah putus (ini beneran kejadian, btw). Atau orang yang gak kuliah karena mau kawin. Semuanya sama-sama bego, tapi Karin sendiri yang dihujat orang karena dia sendiri yang ngaku. Plus reputasinya sebagai ‘perusak moral bangsa’ dan ‘remaja shallow masa kini’ bikin orang tambah seneng ngehujat, yakin deh.

Pada saat yang sama, kalau ditonton baik-baik, video pengakuan Karin bisa bikin kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa Awkarin itu cuma persona. Segala photoshoot dan endorsing itu, pada akhirnya, cuma bisnis, tapi di balik itu ada Karin remaja seangkatan gue yang baru akan masuk kuliah yang dibully khalayak.

Lo boleh bilang Karin attention whore atau apalah dengan mempublikasikan kehidupan pribadinya seperti ini. Mungkin dia emang caper berat, and that’s okay honestly, siapa yang gak caper hari gini, di mana likes Instagram menjadi semacam indikator popularitas? Apa tujuan manusia punya sosmed sekarang, ngepost blog, ngetwit? Semuanya ingin mendapatkan umpan balik. Bangga ketika di-retweet, senang ketika dikomentari influencer. Kita semua caper, hanya saja bentuknya berbeda. Biarkanlah doi berekspresi, gak usah ditanggapin serius. Lebih baik kita jadikan meme supaya dapet banyak ritwit, hehehehehehehe.

Jujur, gue gak peduli Karin itu orangnya kayak gimana. Ya, mungkin dia emang caper dan banyak drama. Mungkin dia bego karena kebanyakan mikirin cowo sampe lupa mikirin masa depan. Tapi, menampilkan diri di muka umum punya konsekuensi. Meskipun gak jaim, Karin selalu menampilkan diri sebagai cewe cool ala-ala Amy Dunne—seksi, cakep, punya kehidupan malam yang bebas, dan harus gampang deket sama cowok juga biar ga keliatan uptight hehehehehe. Mengkurasi hidupnya, sebagaimana ia mengkurasi feed Instagram-nya, demi ketenaran dan uang. Orang bakalan banyak yang hujat dia, itu pasti. Mungkin dia memang belum siap terkenal. Mungkin dia hanya manusia biasa yang ternyata tida tahan tubir.

Mungkin kita bisa belajar satu-dua hal dari Awkarin. Kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia ngelepasin universitas targetnya demi lelaki fana racun dunia, tai, nyesel kan lu sekarang? Kenapa popularitas jadi penting sekali di jaman sekarang, padahal udah tau anak-anak eksis kayak gitu pergaulannya toxic dan gak pernah ngurusin yang penting?

Kadang kita terlalu sibuk melihat yang gemerlap, sampai melupakan yang penting. Itulah gunanya batasan. Harus ada yang membatasi sampai mana foya-foya bisa dianggap sehat. Ada batas sejauh mana lo boleh mengorbankan kepentingan demi pacar. Ada batas sejauh mana lo patut mengumbar perasaan lo ke publik. Ada batas sejauh mana lo menjadikan seseorang sebagai panutan lo, dan lo nggak perlu menyangkal kesalahan yang ia perbuat, karena itu bukan tugas lo. Terimalah fakta bahwa idola lo juga manusia. Ada pula saatnya lo bisa memutuskan untuk nekat dan menerima konsekuensi yang ada, ketika lo siap.

Gue rasa kita gak bisa menyalahkan orang lain yang tidak memiliki batasan, maupun keberanian untuk melompati batasan tersebut. Pantas mereka tersesat di tengah dunia yang ingar-bingar.

Standard
books

The White Tiger: berawal dari pencarian Eka Kurniawan KW.

cvr9781416562603_9781416562603_hr

Saya menemukan The White Tiger karya Aravind Adiga saat tengah berkelana di Big Bad Wolf Fair, Mei lalu. Aduh. Hari itu rasanya saya ngebolang ke BSD seperti transit ke galaksi lain. Di galaksi itu, ada tempat parkir sedih yang terlantar di tengah-tengah ketiadaan, BUKU IMPOR DIJUAL 45 REBU, orang belanja buku pake kereta dorong abis sejuta, poster John Cena segede dosa dijual 170.000 (ada yang beli pula), dan orang kaya belanja sushi di Aeon seperti ibu saya belanja nugget buat sarapan.

Kebetulan (alhamdulilah) hari itu saya hanya membawa uang sekadarnya. Selain The White Tiger, saya hanya membeli Lord of the Flies dan Americanah. Semuanya 160.000. 160.000 bagi tiga tuh kira-kira 50 ribuan. Anjir. Gak nyesel juga sih, karena seandainya saya bawa duit banyak ujung-ujungnya bakal laper mata gak berfaedah. Satu-satunya penyesalan hanya karena belum sempat menelisik bagian nonfiksi. Teman-teman saya banyak yang dapat coffee table book kece yang biasanya gopean, hanya seharga seratus ribu.

Intinya, di pesta buku ini, sulit untuk mencari buku yang Anda inginkan secara spesifik. Ngana udah dikasih murah masih aja banyak tingkah. Tapi, justru itu cara terbaik untuk menemui buku kesukaanmu selanjutnya. Beda rasanya dengan membaca review di internet lalu memburu buku tertentu yang sudah pasti sesuai harapan. Saya suka berpura-pura takdir mempertemukan diri saya dengan buku acak yang akhirnya saya bawa pulang. Begitulah rasanya. Selain Americanah dan Lord of the Flies yang memang saya incar dari dulu, saya tak tahu buku mana yang harus saya beli untuk menunaikan slot ketiga. Saya ingin sesuatu yang baru, namun semua yang baru tampak terlalu asing. Akhirnya, saya memilih The White Tiger karena menurut sampulnya, si penulis memenangkan Man Booker Prize tahun 2008. Siapa tahu ketemu penulis yang senada Eka Kurniawan.

You ask ‘Are you a man or a demon?’ Neither, I say. I have woken up, and the rest of you are sleeping, and that is the only difference between us.

Buku ini memang terasa asing pada awalnya. Sinopsisnya aneh pula: kisah sukses seorang supir yang kemudian menjadi enterpreneur, anjir, kayak Merry Riana? Tapi, baiklah–begitu membuka halaman pertama, saya langsung terisap. Tutur kata Balram Halwai tak urung mengingatkan saya kepada suara sudut pandang pertama di novel Salman Rushdie dan Andrea Hirata. Cerita mengucur begitu saja, dengan kesederhanaan tokoh utama yang berasal dari keluarga miskin di sisi gelap negaranya. Tetapi si Balram ini selalu terdengar sotoy; ingin meyakinkan pembaca bahwa ia orang penting, revolusioner, dan Apa Yang Terjadi Selanjutnya Akan Mengejutkan Anda! Senada dengan suara Ikal dan Saleem Sinai. Mungkin paralel dengan protagonis tetralogi Laskar Pelangi ini yang membuat saya merasa terikat dengan buku tersebut, mengingat Laskar Pelangi adalah salah satu novel ((berat)) pertama yang pernah saya baca.

Hal lain yang membuat buku ini terasa akrab adalah penggambaran India yang sedikit mencerminkan Indonesia. India diceritakan tanpa pretensi di sini, dari mulut seseorang yang miskin, berasal dari kasta rendahan, dan putus sekolah. Dalam cerita, sebuah partai sosialis sedang berkuasa dalam waktu yang lama (!!!). Mereka terus memenangkan pemilu, padahal suara rakyat sudah tak berlaku lagi karena di desa-desa penduduk tak dapat kesempatan untuk memilih. Layanan masyarakat tak berlaku karena semuanya dijadiin duit sama pemerintah. Lagi-lagi, rakyat kecil menjadi korban di tengah permainan orang-orang besar. Terdengar akrab? Oh ya, ada juga adegan macet yang entah kenapa bikin saya girang banget karena deskripsinya berwarna sekali dan sama banget kayak yang di Thamrin.

Namun, tema utama buku ini adalah penjajahan yang dilakukan masyarakat kelas atas India terhadap bangsanya sendiri, atau yang disebut Balram sebagai teori Kandang Ayam. Menurut beliau, orang miskin di India kebanyakan menjadi pembantu yang seumur hidup sudah terdidik untuk manut perintah majikannya. Itulah mengapa tingkat kejahatan yang dilakukan pembantu di India rendah. Seorang majikan bisa memercayakan sejumlah besar uang kepada supirnya, dan mengharapkan uangnya kembali utuh. Tak ada yang berani memberontak. Mirip dengan kebudayaan Jawa yang katanya nrimo. Apakah Balram akan menjadi orang pertama yang akan memutuskan untuk keluar dari kandang miliknya?

Tidak salah buku ini mendapat penghargaan Man Booker Prize karena kekejamannya. Ada interview menarik dengan Aravind Adiga yang mengupas alasannya menulis buku ini, meskipun ia hidup sebagai orang India kelas atas, dan bagaimana buku ini membuatnya dikecam di negaranya sendiri.

Ini bukan buku berat. Semuanya diceritakan dengan gaya khas humor India yang menertawakan penderitaan mereka. Satu poin keakraban lagi, mirip dengan humor khas orang Jawa. Adiga adalah pencerita yang piawai. Ia pandai menarik-ulur ceritanya, diawali dengan tempo ringan-ringan bahagia, tapi bagian kedua ceritanya berbalik arah jadi thriller psikologis grim-dark penuh kegilaan yang bikin merinding. Seperti harimau putih yang menurut legenda India hanya muncul sekali dalam satu generasi, The White Tiger adalah potret kejujuran langka yang harus dirayakan.

Standard
hidup

Perihal Tip-Ex

2016-05-23 08.36.50 1.jpg

Foto yang gak nyambung sama teksnya, biar kekinian.

Tercetus begitu saja. Entah kenapa.

Mungkin karena MC prom night yang menanyakan pertanyaan klasik sedunia kepada anak yang memenangkan penghargaan Terbaper malam itu: “Kuliah di mana?” Setelah dijawab, disusul satu pertanyaan lagi, “jurusan apa?”

(Belakangan, saya juga memenangkan penghargaan Ter Suka Tidur dan disuruh maju ke depan. Tapi itu lain cerita.)

Tapi saat itu, saya sedang menyantap ronde kedua potato cheese dengan damai berkat lokasi duduk strategis kami di dekat area makanan. Timbul pertanyaan, “Kenapa ya, anak-anak angkatan kita gak ada yang masuk FIB? Sastra, gitu?”

Teman-teman saya, yang tampak lebih kinclong dari biasanya dengan gincu dan gaun mereka yang kelap-kelip kalo kena lampu HP, langsung tersenyum. Jenis senyuman yang terbit ketika mendengar teman sekelas Anda mencetus “Apaan tuh, seratus ribu dipake buat makan di Pepper Lunch aja gak bisa.”

“Karena… mereka punya orang tua, Din.”

“Kalo mereka ngambil sastra, orang tua mereka udah siap pegang Kartu Keluarga di tangan kiri, tip-ex di tangan kanan.”

Diam-diam saya membayangkan diri jadi mereka. Betapa orang tua mereka akan berharap bisa men-tip-ex eksistensi manusia setelah si anak mengumumkan ingin masuk jurusan Filsafat.

Baru sadar, saya termasuk beruntung karena memiliki orang tua hippie yang mendukung jurusan apapun yang saya inginkan. Ibu saya bilang, jurusan apapun yang kita pilih, lapangan pekerjaan akan selalu ada. Sementara ayah saya bermain di level yang lebih tinggi: “Emangnya, kamu harus kerja?”

Sejak awal kelas 12, pilihan jurusan saya selalu berubah-ubah. Awalnya mau psikologi. Alasan pertama karena merasa harus memilih jurusan yang ((berilmu)), kedua karena ingin mencari pembenaran atas kondisi mental yang rasanya gak pernah beres. Ibu saya memandang keputusan ini sebelah mata, karena menurutnya berurusan dengan kondisi psikis manusia seperti keasyikan membongkar kereta mainan untuk mengetahui caranya bekerja, lalu kebingungan dan tanpa sadar berakhir mempreteli isi kepala sendiri. Sampai sekarang korelasinya belum ketemu. Sama seperti korelasi antara Memilih Jurusan Filsafat dan Masuk Neraka. Meskipun tidak memegang tip-ex, kata-kata Ibunda sungguh meresahkan. Saya bersedia melihat kemungkinan di jurusan-jurusan lain. Hingga akhirnya mengalami sendiri fenomena galau jurusan yang tadinya saya kira hanya semacam urban legend kekinian.

Komunikasi sepertinya cocok dengan minat saya di bidang jurnalistik, film, dan tulis-menulis. Tapi entah kenapa rasanya ada kepingan yang tak lengkap. Tentu hal ini akan ditolak mentah-mentah oleh anak-anak Komunikasi, tapi di kepala saya jurusan Komunikasi hanya akan melulu belajar public speaking. Aduh, gimana ya. Saya bukan orang paling komunikatif yang akan Anda kenal. Bawel, mungkin, tapi itupun hanya pepesan kosong. Yang lebih sering adalah saya puasa ngomong atau berkomunikasi dalam wujud spam like Receh Bukan Jayus dan sticker Kemono My House. Saat merenungi hal ini, timbul kesadaran bahwa bidang-bidang yang saya minati semuanya berhubungan dengan komunikasi.

Mendadak saya panik. Tanpa diminta, benak saya memutar ulang ingatan tangan yang gemetar saat mengajukan diri bicara di kelas untuk membela Jokowi. Saat harus mengarahkan belasan anak kelas sepuluh yang menjadi figuran di film saya dan hanya didengarkan sambil lalu. Rasanya pengen disintegrasi. Gara-gara ini, berhari-hari saya mengutuk diri sendiri, sampai hilang selera untuk menonton film. Manusia kalau tak becus komunikasi baiknya jadi kentang saja.

Dikuasai inferiority complex, akhirnya saya kembali ke Sastra Inggris. Sejak kecil, mimpi saya adalah kuliah di bidang sastra. Menurut logika yang baru segitu adanya, suka baca = masuk Sastra. Kenapa Inggris? Karena saya kehabisan akal. Kini manusia dikepung bahasa Inggris. Anak Melayu lebih fasih angst-venting daripada bergalau. Subtitle Indonesia tak ada lagi yang menghiraukan. Menulis dalam bahasa Inggris membuat dada busung, merasa bangga sekali membayangkan review Letterboxd saya bakal dibaca orang bule gabut puluhan ribu kilometer di luar sana.

Untuk menentukan urutan SNMPTN, saya memerlukan waktu seminggu lebih. Rata-rata teman-teman saya langsung memasukkan data. Sementara saya, yang percaya bahwa penundaan adalah bentuk seni, membiarkan formulir online itu membusuk di ruang antara maya sambil mengevaluasi pilihan hidup yang telah saya buat selama tujuh belas tahun terakhir.

Saat itulah saya menyadari… three fundamental truths at the exact same time~~~~

  1. Dengan nilai Bahasa Inggris saya yang hampir selalu sembilan tiap tahunnya, Sastra Inggris pasti tembus. Apalagi dengan teman seangkatan yang semuanya budak tip-ex, tak ada yang minat masuk FIB. Saya merasa pantas disambit atas kesombongan ini, tapi begitulah adanya.
  2. Saya belum betul-betul yakin mau masuk Sastra Inggris. Awalnya Filsafat ada di pilihan kedua. Mendadak otak mencipta jeda tanpa diminta… anjir, kuliah Filsafat kayak gimana ya?
  3. Pengakuan: jargon “stable job” yang dielu-elukan semua orang mendorong saya main aman. Suka sastra + jaminan kerja menjadi penerjemah atau wartawan Jakarta Post sepertinya pilihan tepat. Ah, sial. Jika saya memilih Sastra Inggris, saya bisa menyesal tidak memilih Filsafat, jurusan misterius yang gak jelas belajarnya apa. Ini… menarik! Kalau tidak, saya bisa mati penasaran!

Nama saya patut di-tip-ex dari daftar Camaba Filsafat Suatu Universitas 2016 karena yang nomor 3 gak ada logis-logisnya sama sekali. Guru BTA yang jurusan Sasindo aja masih ikut matkul Filsafat. Kursus dan bacaan filsafat di internet juga banyak. Tapi kebodohan di detik-detik terakhir itu telah mengantarkan saya ke posisi ini: akhirnya melungsurkan buku-buku latihan SBMPTN kepada Lat karena dia lebih membutuhkannya, dan menyalurkan stres dan engsayeti saya ke hal-hal lain yang lebih bermanfaat untuk dipusingin. Yang paling penting, saya tidak jadi mati sebelum waktunya. Terkadang hidup memberi kejutan-kejutan kecil dengan caranya sendiri.

Reaksi orang-orang pun tak kalah menarik.

Para kenalan yang hanya pengen basa-basi cukup menimpali: “Wah, keren.”

Kebanyakan tante-tante (dan, entah mengapa, dua teman sebaya dan satu sepupu yang kebetulan semuanya laki-laki) cukup perhitungan: “Nanti kerjanya ngapain?”

“Kayak Dian Sastro, dong!” – Kakak BTA, kalo gak salah.

Teman-teman yang konservatif reaksinya tertebak: “Wah, hati-hati ya. Hehehehe.”

Yang saya syukuri, orang-orang terdekat saya girang banget. Salah satu teman nista di sekolah bilang saya bisa jadi konsultan terus dapet duit banyak. Iya. Ibu bangga karena bisa mendirikan dinasti turun-temurun di Universitas Itu dan mendapatkan bahan pamer untuk beberapa bulan ke depan. Sementara Bapak bangga karena dinasti hipster-nya berlanjut. Eyang bilang ini pilihan yang cocok, karena saya doyan bengong.

Saya masih merasa diri saya bego. Kebegoan inheren yang terus menelurkan insiden-insiden bego selama masa pendaftaran camaba yang gak tahu kapan berakhirnya. Namun untuk saat ini, biarkanlah saya merasa pintar. Paling tidak, saya satu jurusan dengan Eka Kurniawan.

Standard
films

Kenapa Orang Bisa Nangis Nonton AADC: Sebuah Analisis

5721b0d5b548d565878199.jpg

Mengapa saya merasa harus banget menulis tentang AADC 2?

(yaela pake saya)

Bukan review beneran sih, saya cuma merasa sangat emotionally invested dengan film ini. Saat para ~~generasi millenial~~ berbondong-bondong menyaksikan film pertamanya di bioskop, saya baca aja belom becus. Saya mengenal AADC dari pemutarannya di TV yang hanya terjadi setahun sekali di setiap libur lebaran. Itupun tanpa pernah melihat adegan ciuman bandara yang legendaris karena selalu kena sensor stasiun TV.

Saya baru melihat adegan ciuman itu semalam sebelum menonton AADC 2. Nonton di yutub dulu biar nyambung. Tak disangka-sangka, saya menangis. Lebih parah dari waktu mutusin mantan. Sampe sesenggukan, dan kalau nggak ditabok adik saya, udah kejer. Jujur, saya memang baper dari sananya, tapi sudah lama saya gak merasa seterikat itu sama suatu film.

Kenapa orang bisa nangis nonton AADC?

Plotnya klise: cewek hits penasaran sama cowok misterius. Awalnya berantem, lama-lama suka. Ya udah, gitu doang.

Kekuatan AADC terletak pada storytelling-nya. Bagaimana cara meyakinkan penonton kalau Rangga dan Cinta itu bener-bener sayang banget satu sama lain, padahal mereka baru kenal sebentar? Dari gestur-gestur kecil khas orang jatuh cinta yang ditonjolkan sepanjang film. Yang klise tapi ngena itu lirik-lirikan; Rangga liat Cinta, Cinta-nya nggak liat, tapi begitu Rangga berpaling, Cinta-nya yang ngeliatin dia. Senyum-senyum simpul manusia mabuk kepayang. Tatapan mata mereka terang-benderang bagaikan lampu neon Las Vegas ngajak kawin. Gerakan-gerakan kecil ini lebih merasuk dibandingkan pernyataan cinta gamblang yang hanya terjadi dua kali di akhir film: pas Cinta dikonfrontasi gengnya, dan adegan bandara.

Dari sisi emosional, AADC juga kuat banget. Relatable, dengan kadar fantasi yang cukup. Saya rasa orang-orang yang pernah terpaksa memendam cinta atau membuangnya jauh-jauh sebelum diri rela pasti akan lebih terikat dengan film ini. Namun, penonton juga ikut diajak berkhayal mengejar cowok misterius yang suka baca puisi. Dikejar-kejar sampe bandara pula. Anjir. Di SMA saya pengen banget bisa deketin cowok  yang suka baca dan pandai menulis, tapi karena takdir tak mengizinkan, saya cuma bisa nangisin AADC aja udah cukup.

Apakah AADC 2 memiliki rasa yang sama?

(Mild spoiler untuk film AADC 2. Tapi ya kali belom nonton.)

Formula andalan AADC 2 yang sesungguhnya adalah kejutan dan nostalgia. Keduanya berjalan secara beriringan. Riri Riza tak menumpahkan semua informasi secara langsung, tapi menuangkan ceritanya sedikit-sedikit. Pada awalnya, penonton sama sekali tak tahu tentang keadaan Cinta, teman-temannya, maupun Rangga pada masa kini, namun seiring dengan kemajuan cerita, penonton merasakannya sendiri. Ini juga dibantu dengan materi promosi AADC yang minim dan hampir tak menjelaskan apa-apa tentang plot cerita. Meskipun harus mengejar empat belas tahun ketertinggalan, tak ada rasa too much going on yang biasanya ada ketika menonton film sekuel yang jarak waktunya jauh.

Paralel antara film ini dan pendahulunya juga tak urung membuat saya senyum-senyum sendiri. Mamet masih mengantarkan geng Cinta ke bandara. Interaksi antar Cinta dan teman-temannya yang masih sama asyiknya dengan dulu, bahkan menurut saya karakter mereka jauh lebih tergambar di film ini. Waktu Cinta menghapus lipstik sebelum ia bertemu Rangga juga ngena banget–seakan setelah sembilan tahun mereka berpisah, hubungan Cinta dan Rangga kembali ke titik nol. Mereka kembali berusaha mengenali satu sama lain; jelas-jelas masih saling cinta, tapi dengan segala gengsi yang ternyata masih ada, dan kehidupan orang dewasa yang taruhannya lebih besar.

Hal lain yang membuat film ini terasa dekat dengan penonton adalah pilihan lokasi liburan di Jogja, bukannya liburan di negara asing seperti tren yang sempat terjadi tahun lalu. Penggambaran Jogja sebagai kota perpaduan seni kontemporer dan tradisional yang hidup bisa menjadi ajang promosi wisata, buktinya paket-paket tour AADC 2 mulai bermunculan. Ditambah lagi geng Cinta yang kelihatanya benar-benar menikmati liburan mereka, saya yakin suasana pada saat syuting memang menyenangkan.

Bukan berarti AADC 2 tanpa cela.

Kekurangan film ini tampak lebih jelas saat menonton yang kedua kalinya. Semua kejutan tak lagi mengejutkan. Kadang-kadang dialog antara Rangga dan Cinta terkesan terlalu baku dan kurang natural. Ngerti sih kalau kalian ini pasangan pujangga yang dirundung rindu, tapi gak gitu juga. Rasanya, tone film ini menurun justru di third act-nya setelah Jogja berlalu, plotnya beralih jadi klise dan mudah ditebak. Aduh, apalagi endingnya, gimana ya.

Tetapi, setelah semua kejutan dan pernak-pernik terkelupas di penayangan kedua, ada kesan-kesan masih melekat yang membuat apresiasi saya terhadap film ini meningkat, dan memutuskan untuk mengulas film ini.

97a0436.jpg

Storytelling, misalnya, menurut saya yang paling kuat adalah bagian Rangga di New York. Meskipun paling sedikit porsinya, Rangga mengantarkan penonton ke dunia yang sama sekali lain dari kebersamaan Cinta dan teman-temannya yang hangat. New York seperti pengasingan baginya, tapi pada saat yang sama, seakan Rangga adalah bagian tak terpisahkan dari kota itu. Kamera shaky, seperti suasana hatinya yang sedang kemelut. Ia selalu tampak sendirian meskipun berinteraksi dengan orang-orang. Akting Nicholas Saputra yang kini jauh lebih matang juga mendukung, tanpa harus berkata-kata, semua gundahnya tertulis di wajahnya. Puisi Aan Mansyur seperti pita pemanis yang membungkus bagian kecil ini dengan rapi. Ya, Aan. Yang kamu lakukan pada saya itu jahat.

Tidak ada New York hari ini.
Tidak ada New York kemarin.
Aku sendiri dan tidak berada di sini.
Semua orang adalah orang lain.

Merinding, merinding, aku merinding.

Satu hal lagi yang membuat saya jatuh cinta adalah pertemuan pertama Rangga dan Cinta di pameran Eko Nugroho. Perubahan suasana yang drastis membuat saya kagum. Ada rahasia besar yang tak terlihat dalam diri mereka. This is it, this is it. Selain itu, musik arahan Melly Goeslaw dan Anto Hoed mewarnai suasana dengan takaran yang tepat. Masih ada rasa-rasa nostalgia AADC pertama, tapi kali ini lebih gelap.

Film ini melampaui ekspektasi saya saat pertama kali menonton. Di bayangan saya, AADC 2 sebatas reuni hura-hura yang plotnya gitu-gitu aja. Kenyataannya lebih dalam dari itu. Film ini adalah kerinduan yang menyisa; keinginan untuk bersatu dengan cinta lama, kompleksnya perasaan yang tak terselesaikan… berkedok reuni hura-hura. Plotnya memang gitu-gitu aja. Tapi keberhasilan mengembangkan cerita yang utuh dan menyentuh dari plot yang “gitu-gitu aja” adalah sesuatu yang layak diapresiasi.

Standard
books

[Review] Supernova: Inteligensi Embun Pagi

IMG_20160312_073724.jpg

Kayaknya gue harus banget nulis tentang IEP setelah heboh berwara-wiri tentang buku ini selama seminggu. Sesuatu yang harusnya nggak gue lakukan berhubung minggu ini gue ujian sekolah, tapi apalah daya manusia rendah seperti gue menghadapi godaan duniawi. Meskipun baru mengenal saga ini sejak dua tahun lalu, berat rasanya harus berpisah dengan dunia Supernova yang membuka mata. Namun pada saat yang sama, keputusan Dee untuk mengakhiri perjalanan Diva, Bodhi, Elektra, Zarah, dan Alfa di titik ini memang tepat.

Gue baru mulai baca Supernova sekitar dua tahun lalu, sesuai dengan kronologi aslinya. Gue jatuh cinta dengan ide di balik Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh; bahwa segalanya di bumi ini berhubungan, dan kita akan sampai pada titik di mana manusia mengalami evolusi kesadaran. Tapi jujur, gue gak begitu suka caranya memasukkan unsur ilmiah di antara narasi yang rasanya sedikit maksa. Terlalu banyak catatan kaki yang sebenarnya tak perlu (sepertinya orang nggak perlu lagi diingatkan apa itu order and chaos atau serotonin, yha, meskipun gak ngerti-ngerti amat serotonin itu apa, gak begitu penting juga sih). Tapi KPBJ tetap menyenangkan untuk dibaca–karakternya bersinar, and that ending though. Gue udah pernah review di sini.

Tapi, buku favorit gue tetap Petir dan Partikel. Keduanya berbeda jauh dalam segi narasi maupun plot: Petir dengan ukurannya yang mini memuat usaha Elektra si anak sebatang kara untuk bertahan hidup, dan akhirnya dia buka warnet. Udah gitu doang. Beda dengan Partikel yang tebal, penuh dengan melodrama daddy issues-nya Zarah, yang kemudian berusaha melarikan diri dari kenyataan dengan petualangannya sebagai fotografer alam liar. Kesamaan di antara mereka hanyalah Zarah dan Elektra sama-sama sebatang kara, dan mereka berdua menemukan keluarga nonbiologis untuk menutupi lubang di hati mereka. Tentu saja gue heboh waktu baca suatu adegan di IEP dimana Zarah dan Elektra bertemu, kemudian Elektra seperti menatap Zarah dengan berbinar-binar seperti kouhai minta dinotis senpai.

Petir is simply fun. Gue udah baca buku ini tiga kali, mungkin sepuluh kali kalau buku ini bukan pinjeman. Suara Elektra yang renyah dan kekanakan membuat buku ini paling ringan di antara yang lainnya. Dan paling enak untuk dibaca, soalnya Elektra menceritakan segalanya tanpa pretensi; nggak ragu mengumbar kebegoannya sendiri yang pake acara ngirim CV ke alam kubur, atau kegemarannya yang absurd terhadap sesosok hewan kambing. Meskipun terdengar sederhana, character development-nya solid abis. Elektra, dari seorang anak bontot yang tertutup bayang-bayang kakaknya lambat-laun belajar menikmati sinar panggung untuk dirinya sendiri. Mengutip Elektra sendiri: evolusinya dari anak sebatang kara menjadi anak komunitas. Gue membaca buku ini saat sedang bergelut dengan transisi gue dari SMP ke SMA yang tak habis-habisnya, dan ada satu lagi kutipan yang bikin gue relate sama sang tokoh utama kita.

Ternyata hidup tidak membiarkan satu orang pun lolos untuk cuma jadi penonton. Semua harus mencicipi ombak.

Memang mudah banget untuk merasa dekat dengan buku ini. Ketika buku-buku lain mengambil setting di tempat-tempat eksotis seperti London, New York, dan Thailand, Petir cukup duduk bersila di Bandung Raya, bergelimang cilok, main Counter Strike di warnet terdekat. Anak-anak warnet sebatang kara tentu tahu rasanya jadi Elektra pra-Elektra Pop, yang sehari-hari cuma nongkrong di warnet dan bertahan hidup hanya dengan indomie dan telor. Satu hal lagi yang gue suka adalah sense of community yang hadir di antara anak-anak Elektra Pop yang membuat hati gue hangat, dan tentu saja, MPREEEETTTT. Dari awal dia diperkenalkan aja gue udah sayang. Tergambar jelas Mpret dengan segala dimensinya–seorang businessman, hacker jalanan, pemikir sejati, pentolan anak warnet, dan teman yang setia. Haduh, haduh. Begitu mudahnya gue jatuh cinta dengan karakter rapuh yang menutup dirinya dengan segala benteng ketidakpedulian dan penampilan acak-acakan. Kalau Petir bakal dijadiin film, pokoknya Donny Alamsyah harus jadi Mpret, itu harga mati.

Kemudian, Partikel. Perjalanan Zarah sebagai seorang perempuan mungkin bisa disandingkan dengan Nadira-nya Leila Chudori: utuh dari awal sampai akhir, sehingga kita bener-bener bisa melihat perkembangannya, how far they’ve come. Zarah dibesarkan secara tak konvensional oleh ayahnya, yang kemudian menghilang secara misterius. Hal ini membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang pemberontak dan nonkonformis. Keluarganya yang religius menjadi kotak yang terlalu sempit untuknya, sehingga ia tumbuh dewasa selalu melarikan diri dari dukanya dan mengunci sebagian dirinya dari orang lain. Eh bentar, MIRIP BANGET SAMA MPRET.

But anyway, berbagai emosi yang dialami Zarah membuat Partikel rentan sekali dibaca oleh orang baper. Karakter Zarah yang mandiri-tapi-rapuh ini sebenernya tipikal heroine modern banget. Pola serupa tampak di karakter Katniss Everdeen dan Tris Prior, yang membuat Partikel terancam bahaya laten plot klise. Gue pribadi nggak merasa plotnya jadi basi meskipun banyak formula dramatis yang sering dipakai. Kembali lagi ke teknik storytelling Dee yang membuat pembaca merasa terserap ke dalam cerita, mengalir tanpa ganjalan. Tambahan lagi, bisa keliling dunia karena bakat fotografi itu kayak mimpi jadi kenyataan. Yang gue sayangkan hanyalah karakter Zarah yang sebenarnya punya banyak potensi tak dapat kesempatan untuk bersinar di buku terakhir, tapi malah dihabiskan untuk subplot romance.

Dan sekarang, Inteligensi Embun Pagi


 

BATAS SUCI SPOILER SUPERNOVA KPBJ SAMPAI GELOMBANG. DIMOHON UNTUK MELEPAS ALAS KAKI ATAU PERGI KE TOKO BUKU TERDEKAT DAN MARATON BACA LIMA BUKU SEBELUMNYA.


 

Ada kalimat Bu Sati di buku Petir yang kurang lebih mengatakan bahwa setiap manusia sebenarnya sudah memilih perannya masing-masing sebelum mereka turun ke bumi, namun mereka sengaja dibuat lupa agar perjalanannya mencari jati diri mereka menjadi berarti. Setelah baca IEP gue baca Petir kembali demi mengenang kehangatan Mpretra, dan gue baru nyadar ada kalimat itu, rasanya pengen lempar buku, tapi langsung mengurungkan niat ketika ingat itu buku pinjeman.

Ini mah foreshadowing berat.

Anyway, recap sebentar dari buku-buku sebelumnya: buku Gelombang adalah awal dari terungkapnya misteri Supernova, kenapa hal-hal tak masuk akal sepanjang serial ini terus terjadi. Kunjungan Alfa ke Dr. Kalden membeberkan perang abadi antara Infiltran-Peretas dan Sarvara. Infiltran sebagai pihak yang menginginkan perubahan–evolusi kesadaran, dan kebebasan untuk semua orang mengetahui asal-usul mereka. Peretas, sukarelawan yang bersedia menghapus ingatan mereka berkali-kali dalam kehidupan yang berbeda sebelum turun ke Bumi dan bersama Peretas bekerja sama menembus pertahanan Sarvara. Sementara, Sarvara adalah para penjaga batas antara Bumi yang fisik dengan alam spiritual yang lebih luas, menghambat terjadinya perubahan.

Inteligensi Embun Pagi adalah simpul yang menyatukan semuanya jadi utuh. Dalam buku ini, karakter-karakter utama dari tiap buku berkumpul bersama. Dinamika yang terjadi mirip seperti ketika superhero berkumpul jadi satu tim–mereka semacam Avengers spiritual. Kekuatan mereka lambat laun bertambah, seiring dengan bertambahnya memori mereka.

Soal plot, tidak banyak yang bisa diceritakan. Atau justru terlalu banyak. Banyak misteri-misteri dari buku sebelumnya terjawab juga di sini, ditambah lagi plot twist dan penyingkapan yang bertubi-tubi. Tokoh-tokoh minor yang muncul di buku sebelumnya ternyata memiliki peran yang tak disangka-sangka di sini. Konsisten dengan tema jaring laba-laba-nya, banyak karakter yang punya hubungan tak disangka-sangka dengan karakter lainnya, literally everything is connected. Banyak dinamika tokoh yang berubah, timbulnya perasaan baru ketika menghadapi manusia masa lalu mereka dalam peran yang berbeda; dan timbulnya OTP baru. (ALFA-BODHIIIIII)

Dee tak kehilangan daya tarik storytellingnya di buku ini. Cerita mengalir dengan lancar, pembaca akan terus membuka halaman selanjutnya tanpa ingat waktu dan tahu-tahu bukunya udah selesai aja. Seperti perjalanan dalam kecepatan cahaya–begitu banyak dalam waktu yang singkat. Di buku ini pembaca bisa memuaskan kerinduan, kembali bersua dengan dialog-dialog karakter yang berwarna, namun tetap realistis. Dialog yang cerdas dan menyentil adalah salah satu hal yang paling gue suka dari cerita-cerita Dee. Buku-buku sebelumnya punya warna yang sama dari awal sampai akhir, karena hanya dilihat dari satu narator: sepasang mata, dan satu mulut untuk menceritakan. Narasinya pun khas banget, membuat pembaca jadi merasa dekat dengan suka-duka karakter tersebut. Meskipun terjadi perpindahan sudut pandang dari orang pertama di buku-buku sebelumnya menjadi orang ketiga, baik dialog dan narasi tak kehilangan ketajamannya. Malahan, di saat pembaca sudah bingung karena kebanyakan karakter berbagi panggung, Dee masih tetap konsisten menurunkan wahyunya dengan suara karakter yang khas, dan semuanya berbeda-beda.

Banyak adegan visual yang luar biasa, melibatkan garis-garis bersinar dan simpul-simpul yang hanya bisa dilihat Bodhi sebagai bagian dari pengelihatannya yang menajam. Ini unsur khas serial Supernova yang membutuhkan imajinasi luar biasa: mulai dari Partikel dengan Bukit Jambul-nya, makhluk dimensi lain, dan pengalaman psychedelic Zarah dengan eboga; kemudian ada juga penggambaran Antarabhava dan Asko di Gelombang. Selain kemampuan imajinasi Dee, hal ini juga meningkatkan kecurigaan gue akan relasi sang penulis dengan zat-zat halusinogen–teori yang dikembangkan bersama teman gue saat kita heboh mendiskusikan serial ini. Susah banget membayangkan ini semua tanpa ada pemicu. Hmmmmm.

Kekurangan yang mau tak mau harus dibayar di finale ini adalah sesak yang terasa sepanjang cerita. Karena ya, itu, scope cerita luas dari lima buku sebelumnya harus dirangkum menjadi satu. Menghadirkan banyak karakter yang terlibat kejadian berbeda-beda, membuat pembaca yang kurang fokus jadi ketinggalan alur. Dan, gak bohong, BANYAK banget pertanyaan yang rasanya belum terjawab. Soal Firas dan makhluk dimensi lain yang ia temukan, dan juga soal gugus sebelah yang nasib kedepannya masih tidak jelas.

Tapi, tetap saja menurut gue serial Supernova ini luar biasa. Boleh dibilang revolusioner di dunia sastra Indonesia. Buku yang berusaha menjawab pertanyaan mengenai eksistensi kita sudah banyak. Buku yang mencoba menggabungkan roman dengan spiritualisme juga ada: serial Bilangan Fu contohnya. Namun gaya penceritaan Supernova lebih ringan dari Bilangan Fu; memasukkan unsur sehari-hari membuatnya lebih manusiawi dan mudah bagi orang-orang untuk relate dengan karakter-karakternya. Pembacanya pun beragam–dari anak-anak muda yang biasa baca teen-lit sampai penikmat sastra berat, dari yang mencari hiburan baru sampai mereka yang mencari bahan mikir, sehingga, ya, Supernova meledak. Antusiasme pembaca di genre ini merupakan sesuatu yang baru. Di antara mereka yang mengantri untuk buku-buku komedi self-deprecating dan mereka yang mengantri untuk buku-buku religi-inspirasional, Supernova hadir sebagai fenomena yang jarang di buku-buku Indonesia, yang sayang sekali harus berakhir di sini.

Standard
film

A Copy of My Mind: paying the price of the truth.

150918091442_a_copy_of_my_mind_2_640x360_acopyofmymind_nocredit.jpg

So, the long-awaited A Copy of My Mind.

Anyone who has seen the movie would find themselves reliving it silently; during the drive home, gazing at the endless rows of honking cars, your everyday view now seen from a whole new light. They would find themselves staring into empty space thinking about Alek and Sari, a sincere reminder that there will always be a fleeting moment of joy and love amidst the choking haze of Jakarta.

Lat and I was walking home from Plaza Semanggi, and we fell into silence. Even hours after the credits rolled, the movie still wasn’t over for me. Walking down the sidewalk, I felt like Sari, deep in confusion and loneliness, once again trying to make sense of the whirling city. Nothing has changed, but like Sari nearing the end of the movie, something stirred inside me, it was as if my life would never be the same again.

Of course this all seem exaggerated, and I know a week from now I will be dying to delete this whole post. But it just proves of how powerful Joko Anwar’s projection of the love story between this two people that gets tangled in the middle of the big guys’ race to power. It’s not fiction; it’s a mirror that chokes up a piece of truth and I guess that’s why it lingers in our mind for so long. Glodok, Metromini, Indomie, Pasar Benhil (GUE TINGGAL DI BENHIL BAHKAN YAA ROBB), cheap facial salons, and our particular fondness for piracy, the exposure to these elements keeps this movie grounded. And who can forget the chaotic enthusiasm of last year’s election? The movie was intended to be a time capsule of the life in Jakarta in that exact time, and it succeeded.

Hands up for Tara Basro and Chicco Jerikho’s flawlessly natural acting (also for still being fabulous while sweating profusely under no layer of makeup). Their chemistry is undeniable. I love how it’s not your ordinary Love at First Sight story. Alek and Sari’s encounter happened when Sari complained about Alex’s sloppy work of subtitling, and, okay, I have to admit it sounds like a fanfiction AU prompt, but it glides perfectly from there. Just enough room for your love affair fantasy while keeping it all real.

(I’m quite a skeptic for love at first sight, probably one of the reasons why I didn’t enjoy Carol as much as I should have)

Film-2015-A-Copy-of-My-Mind-003.jpg

The plot builds slowly–maybe too slowly for some audiences, but I personally think that this is how it should be. We all glide through our monotonous routine so quickly, and it fades just as fast and suddenly you’re floating with nowhere to go. Sari and Alek, two face of the same coin, represents this very feeling. Sari and her repetitive life of having things the way it should be but never quite getting what she wants. Alek being the nowhere man with no identity, no dreams, doing illegal jobs and gambling to survive the hard life. Tell me if I’m starting to get carried away, but I think the slow pace represents these holes in your life that appears when you forget what you’re actually fighting for. You’re transforming into one of those passerby, people who sits on the bus staring out of the window wearily, tired, alone. And then there’s Bude (picking up Lat’s theory on this), forgotten, but always existing in the background like the rest of Jakartans struggling in poverty.

There are too many layers to it all to cut through, so this film might need a second viewing to be understood fully. This film exposes a lot of issues–poverty, social discrepancy, the struggle of surviving in Jakarta, how politics divide people, and the blurry image of what everyone thinks true love should be–through small, cut-up details spilled all over the movie like small easter eggs on a superhero movie; exciting to find and to contemplate over.

The end took everyone’s breath away, and no one in the theater moved after the credits rolled, still trying to process everything. But if there’s anything I learned from the movie is that the truth does not come cheap. The truth comes with a price that Sari and Alek had to pay dearly, just like how twelve million people of Jakarta had to pay for a big change that was bound to happen. Indeed, A Copy of My Mind–a piece of raw honesty, is terribly expensive. We all saw Joko Anwar’s tweets and the behind the scenes on how the cast and the crew struggled to make this film happen with such small budget at hand. I can’t imagine any other way this movie would be made if not with great dedication and love, the need to tell a truthful picture of the city that never sleeps; a naked depiction of the dreams and struggle of the people of Jakarta.

Standard