Cek Toko Sebelah (2016)

Pengen nangos melihat jeda enam bulan yang tercoreng di blog ini.  Maaf gue gak konsisten, karena nama blognya aja je suis mager, yang berarti hal-hal seperti ini pasti akan terjadi (jadi minta maaf gak sih?). Anyway, masa bodo jika orang bilang tahun baru itu selebrasi kosong, kini gue punya alasan untuk menarik diri sendiri keluar dari lubang kemageran–entah akan berhasil atau tidak. Dalam rangka pemenuhan resolusi, here we go.

ehh.jpg

Film ini bisa dibilang angin segar, ketika disandingkan dengan film-film humor yang dibuat para stand-up comedian lokal lainnya. Gue jarang banget nonton film produksi komika karena rilisnya selalu barengan sama film-film lain yang gue prioritaskan. Cuma pernah nonton Comic 8 di TV waktu libur lebaran, yang gue hadapi tanpa ekspektasi dan hasilnya tetep berantakan, tapi menghibur. Dulu gue suka banget nonton Stand Up Comedy Indonesia yang tayang di Kompas TV, at least 2-3 season pertama. Acara itu penggemblengan yang bagus banget untuk mengembangkan kualitas set-up yang bisa cerdas dan mengena, bukan hanya receh. Berkembanglah bibit-bibit cemerlang. Namun begitu dilepas ke dunia luar, gak semuanya bisa mempertahankan kualitas tersebut. Kemal Palevi misalnya, yang dulu bit-bit dia didaulat para juri sebagai komedi absurd yang cerdas, sekarang jadi apaan? Beberapa komika turut serta bermain dalam film komedi receh ofensif bikinan PH ecek-ecek, yang hanya gue ingat sayup-sayup dari trailer yang pernah diputar di teater sebelum film mulai. Judulnya aja gue gak inget. Bahkan Raditya Dika yang sebenarnya cerdas dan kritis kini sudah berserah diri kepada selera pasar, dari vlog-vlog-nya dan bahasan karyanya yang melulu soal cinta dan jomblo (mengacu kepada film-film beliau sebelum Hangout. Saat review ini ditulis, gue belom nonton Hangout, dan kemungkinan akan). Ernest Prakasa adalah salah satu dari segelintir alumni euforia stand up comedy ini yang masih menggunakan suaranya untuk ngomongin hal-hal berfaedah, seperti pilihan politiknya dan realita etnis Tionghoa di Indonesia.

Karena serangan stroke, Koh Afu (Kin Wah Chew) memutuskan untuk segera mewariskan usaha toko keluarga kepada putra keduanya, Erwin (Ernest Prakasa). Padahal Erwin sedang mulus-mulusnya memanjat karir di perusahaan multinasional tempat ia bekerja.  Sementara putra pertama, Johan (Dion Wiyoko) kecewa karena dianggap kurang mampu bertanggung jawab dalam mengelola toko tersebut. Mereka pun berusaha menangani masalah ini bersama-sama, mengartikan kembali makna keluarga bagi mereka semua.

Premis yang simpel, bahkan usang, karena brother rivalry trope yang ukan hal baru lagi. Tapi ada sesuatu yang membuat film ini begitu hidup. Ada semacam jiwa yang terus dijaga dari awal hingga akhir melalui suasana yang dibangun. Interaksi keluarga yang terjadi dari awal sampai tengah film sangat canggung, seperti dibayang-bayangi masalah yang tak pernah dibicarakan. Suasana ini jadi kontras banget ketika dibenturkan dengan para pemeran pendukung yang semuanya ngelucu.

Salah satu cara menjaga konsistensi suasana adalah membuat setiap interaksi antar tokoh punya makna. Bahkan tokoh-tokoh pendukung yang basically cuma saling lempar bit stand-up pun penting, karena mereka bisa menyusun latar yang nyata. Setiap bit yang bikin penonton ketawa bisa mendekatkan penonton kepada film secara emosional. Sehingga ketika layar diguncang, penonton ikut terjatuh dan emosional.

Pemain-pemain utamanya juga seru. Chemistry-nya satu sama lain bagus. Kin Wah Chew sebagai sosok bapak dengan segala ketidaksempurnaannya bikin hati gue meleleh. Suka banget juga sama duo Dion Wiyoko-Adinia Wirasti dan subtle acting mereka. Dalam acara kumpul keluarga, Johan dan Ayu itu kayak pasangan yang canggung berada di sana karena merasa lowkey ga diinginkan. It’s a real show-not-tell situation, kita gak banyak diberi informasi dari awal, tapi posisi dan keinginan mereka sudah ditanamkan dari awal. Giselle punya presence yang kuat sebagai nci-nci material girl, karakter yang sebenernya kurang jelas tujuannya kecuali untuk memajukan plot, tapi yha, dia berhasil ngasih performance yang bagus dengan materi yang apa adanya. Sayangnya mereka yang bersinar justru sedikit menutupi Ernest, yang emang basic-nya bukan acting.

Sebagai drama komedi yang aspek komedinya banyak diadaptasi dari bit-bit stand-up comedy, film ini berisiko. Banyak bit yang memang lucu, tapi gak sedikit juga yang jadi garing. Dan dalam beberapa momen, film ini terasa seperti gado-gado. Ernest mencoba memasukkan pesan-pesan anti kekerasan seksual melalui tokoh Anita yang selalu diobjektifikasi oleh bosnya, namun dengan menaruh karakter Anita yang hanya menjadi plot device tanpa kehendak yang seolah “diselamatkan” oleh tokoh-tokoh lainnya, justru di sanalah objektifikasi yang sesungguhnya terjadi. Dia tetap menjadi eye candy buat tokoh-tokoh laki-laki lainnya. Ya apalah, menurut gue ga berkelas banget kalo lo masih masukin adegan cowok-cowok melotot ngeliat yang tumpeh-tumpeh dan menyebutnya komedi.

Pada akhirnya, Cek Toko Sebelah memang perlu ditonton dengan ekspektasi serendah mungkin, karena sebagus apa pun suasana yang dibangun, ini tetep film komedi Indonesia dengan segala batasannya. Temanya memang sedikit usang, namun eksekusinya bagus, dan gue tetap merasakan sedikit kehangatan di hati setelah lampu teater menyala dan credits berjalan di akhir film.

Advertisements

A Copy of My Mind: paying the price of the truth.

150918091442_a_copy_of_my_mind_2_640x360_acopyofmymind_nocredit.jpg

So, the long-awaited A Copy of My Mind.

Anyone who has seen the movie would find themselves reliving it silently; during the drive home, gazing at the endless rows of honking cars, your everyday view now seen from a whole new light. They would find themselves staring into empty space thinking about Alek and Sari, a sincere reminder that there will always be a fleeting moment of joy and love amidst the choking haze of Jakarta.

Lat and I was walking home from Plaza Semanggi, and we fell into silence. Even hours after the credits rolled, the movie still wasn’t over for me. Walking down the sidewalk, I felt like Sari, deep in confusion and loneliness, once again trying to make sense of the whirling city. Nothing has changed, but like Sari nearing the end of the movie, something stirred inside me, it was as if my life would never be the same again.

Of course this all seem exaggerated, and I know a week from now I will be dying to delete this whole post. But it just proves of how powerful Joko Anwar’s projection of the love story between this two people that gets tangled in the middle of the big guys’ race to power. It’s not fiction; it’s a mirror that chokes up a piece of truth and I guess that’s why it lingers in our mind for so long. Glodok, Metromini, Indomie, Pasar Benhil (GUE TINGGAL DI BENHIL BAHKAN YAA ROBB), cheap facial salons, and our particular fondness for piracy, the exposure to these elements keeps this movie grounded. And who can forget the chaotic enthusiasm of last year’s election? The movie was intended to be a time capsule of the life in Jakarta in that exact time, and it succeeded.

Hands up for Tara Basro and Chicco Jerikho’s flawlessly natural acting (also for still being fabulous while sweating profusely under no layer of makeup). Their chemistry is undeniable. I love how it’s not your ordinary Love at First Sight story. Alek and Sari’s encounter happened when Sari complained about Alex’s sloppy work of subtitling, and, okay, I have to admit it sounds like a fanfiction AU prompt, but it glides perfectly from there. Just enough room for your love affair fantasy while keeping it all real.

(I’m quite a skeptic for love at first sight, probably one of the reasons why I didn’t enjoy Carol as much as I should have)

Film-2015-A-Copy-of-My-Mind-003.jpg

The plot builds slowly–maybe too slowly for some audiences, but I personally think that this is how it should be. We all glide through our monotonous routine so quickly, and it fades just as fast and suddenly you’re floating with nowhere to go. Sari and Alek, two face of the same coin, represents this very feeling. Sari and her repetitive life of having things the way it should be but never quite getting what she wants. Alek being the nowhere man with no identity, no dreams, doing illegal jobs and gambling to survive the hard life. Tell me if I’m starting to get carried away, but I think the slow pace represents these holes in your life that appears when you forget what you’re actually fighting for. You’re transforming into one of those passerby, people who sits on the bus staring out of the window wearily, tired, alone. And then there’s Bude (picking up Lat’s theory on this), forgotten, but always existing in the background like the rest of Jakartans struggling in poverty.

There are too many layers to it all to cut through, so this film might need a second viewing to be understood fully. This film exposes a lot of issues–poverty, social discrepancy, the struggle of surviving in Jakarta, how politics divide people, and the blurry image of what everyone thinks true love should be–through small, cut-up details spilled all over the movie like small easter eggs on a superhero movie; exciting to find and to contemplate over.

The end took everyone’s breath away, and no one in the theater moved after the credits rolled, still trying to process everything. But if there’s anything I learned from the movie is that the truth does not come cheap. The truth comes with a price that Sari and Alek had to pay dearly, just like how twelve million people of Jakarta had to pay for a big change that was bound to happen. Indeed, A Copy of My Mind–a piece of raw honesty, is terribly expensive. We all saw Joko Anwar’s tweets and the behind the scenes on how the cast and the crew struggled to make this film happen with such small budget at hand. I can’t imagine any other way this movie would be made if not with great dedication and love, the need to tell a truthful picture of the city that never sleeps; a naked depiction of the dreams and struggle of the people of Jakarta.