Sejarah panjang kemalasan saya, dan usaha menyalahkan teknologi atas hal tersebut

255565
Apa yang terjadi di balik layar?

Aku mulai menulis tulisan ini minggu lalu setelah mengerjakan artikel mengenai media sosial berkenaan dengan pemikiran McLuhan dan Postman selama nyaris delapan jam berturut-turut. Aku langsung “merasa” telah mencapai kesadaran medium penuh. Sembari mengerjakan artikel, aku merasa terusik setiap kali mendapati diri tengah membuka Instagram untuk hal-hal remeh seperti menjawab komentar. Lebih parah lagi ketika aku tak sadar saat melakukannya karena refleks keseharian.

Sebagai yang digadang-gadang sebagai generasi millenial, tak terpisahkan dengan internet, aku merasakan betul dampak hidup bersama dan di dalamnya: aku menjadi sulit berkonsentrasi. Kebanggaan terbesarku saat kelas 4 SD adalah berhasil menyelesaikan edisi terjemahan Harry Potter and the Order of the Phoenix setebal lebih dari 1000 halaman, hanya dalam dua hari. Aku ingat betul buku itu diberikan kepadaku sebagai hadiah ulang tahun, dan seluruh akhir pekan kuhabiskan bersandar pada bantal di kepala tempat tidur untuk membaca, hanya sesekali bangkit jika ingin pipis atau makan. Sebelas tahun kemudian, aku membelikan diriku buku Nausea (yang aku taksir sejak dulu karena sampulnya), dan sejak 17 September lalu hingga kini, aku belum beranjak dari halaman 21. Mengerikan juga kalau dipikir-pikir.

Sulit untuk memetakan di mana perubahan pola tersebut terjadi, karena ia terjadi melalui proses evolusi yang panjang. Menilik kembali masa laluku, aku mengenal internet dan media sosial Facebook sejak kelas 5 SD, dengan penggunaan yang dibatasi selama satu jam sehari. Sejak SMP, kurangnya pengawasan membuatku bebas menggunakan internet rumah kapan saja. Pada tahap ini, aku mulai jarang menulis blog, meskipun mungkin itu hanya karena faktor kemalasan saja. Aku baru mulai memakai smartphone saat masuk SMA. Sejak kapan potensi produktivitas itu direpresi menjadi sikap yang pasif, menerima informasi terfragmentasi tanpa konteks? Sejak kapan penggunaan media sosial jadi sesuatu yang kompulsif dan terus-menerus? Tentu perubahannya tidak instan, terbentuk sedikit demi sedikit karena kebiasaan dan eksposur terhadap media sosial yang begitu mudah diakses dalam genggaman.

255569
Tombol “like” yang kehilangan fungsinya

Apakah perubahan tersebut memang tak terelakkan? Media sosial sudah sedemikian terintegrasi dalam hidup kita, “bahasa” kita sehari-hari terpadatkan dalam post-post singkat dan trivial, berkomunikasi dalam likes, follow, views, unfollow, block. Namun bahasa tersebut tak cukup mengatasi banjirnya informasi yang terjadi dalam satu kali scroll dalam linimasa Instagram. Dalam waktu tiga menit saja, kamu sudah mendapatkan banyak informasi, tak semuanya bermanfaat. Sebagian perihal kehidupan sosial orang lain, yang terkadang tak berkaitan dengan kita. Sebagian lagi iklan produk dari berbagai akun olshop  yang kamu follow itu. Tentu banyak juga post berfaedah perihal acara diskusi, kampanye sosial, peristiwa kebudayaan yang akan penting kamu hadiri, post tentang orang-orang terdekatmu, maupun berita penting yang terjadi di seluruh dunia. Bukan masalah berfaedah/tidaknya, namun informasi-informasi sekadar lewat tersebut kita terima dalam jumlah masif, dalam jangka waktu terlalu singkat untuk memprosesnya secara utuh. Otak kita seakan multitasking, seperti laptop yang disuruh buka Adobe Premiere, Adobe AfterEffects, dan Adobe Audition pada saat yang bersamaan.

Tapi multitasking itu sendiri sudah menjadi normal dalam keseharian di era Internet. Itu salah satu kemampuan yang dicari-cari dalam lowongan pekerjaan. Tidak perlu dilatih, kebiasaan multitasking menyingkapkan diri dalam gestur kita sehari-hari. Misalnya saat buka instagram teman, lalu penasaran mengecek temannya dia, olshop yang dimilikinya, sampai orang yang jadi model di olshop itu. Saat membuka Wikipedia, kita suka keasyikan membaca artikel, dan mengklik hyperlink di istilah dalam artikel tersebut, sehingga kita berakhir dengan 10 tab dalam jendela browser kita.

Bahkan tendensi ini menghambatku bikin karya ilmiah, karena setiap mendapatkan sumber, aku akan mencoba mencari sumber lain yang tampaknya berhubungan melalui sitasi dalam paragraf tertentu, buku lain yang ditulis pengarang tersebut, dan pemikir-pemikir lain yang berhubungan dengan dia. Puji Internet dan Gen Lib, semuanya dapat kuakses dengan sentuhan touchpad saja. Yang menjadi masalah selanjutnya, aku bahkan tak dapat berkonsentrasi membaca satu sumber saja. Timbul kebosanan atau kegelisahan bahwa apa yang kucari takkan ada di sini, lalu aku berpindah ke sumber lainnya. Hal ini akan berjalan lama sampai aku bingung sebenernya apa yang mau dibicarakan dalam paper ini. Selama prosesor otak Anda kokoh, cara pengerjaan ini lumrah saja. Namun, yang sering terjadi kepadaku, banyaknya informasi yang masuk dengan cara membaca cepat paragraf-paragraf tersebut tak mampu kuproses secara menyeluruh, sehingga dalam beberapa waktu, aku akan kebingungan sendiri dengan apa yang kukerjakan.

Neil Postman dalam Amusing Ourselves to Death membicarakan fenomena banjir informasi yang dimunculkan telegraf, fotografi, dan televisi. Namun, cara pandangnya masih relevan bagi beberapa orang dalam melihat media internet masa kini. Dalam membicarakan fakta-fakta terfragmentasi yang diperoleh melalui televisi, ia berkomentar:

In one form or another, each of these supplies an answer to the question, “What am I to do with all these disconnected facts?” And in one form or another, the answer is the same: Why not use them for diversion? for entertainment? to amuse yourself, in a game? [1]

Menurut Postman, media-media elektronik baru mentransformasikan dunia menjadi sebentuk peek-a-boo world atau “dunia petak umpet”, di mana peristiwa-peristiwa acak dan inkoheren muncul sementara, kemudian berlalu. Bayangkan meme di Twitter yang populer untuk sementara, atau berita-berita di seluruh dunia yang begitu cepatnya datang dan pergi. Namun, selayaknya petak-umpet, permainan itu berdiri sendiri, dan menyenangkan [2]. Ini dapat menjelaskan adiksi terhadap media sosial yang dimiliki banyak orang hari ini. Hiburan dapat diakses dalam genggaman, membentuk sebuah kebiasaan yang kompulsif dan pada akhirnya mengubah pola pikir kita untuk selalu mencari hiburan.

Nonton Mr Robot di kelas Filsafat Ketuhanan.

Postman, seperti banyak ramalan abad 20 lainnya, berpandangan cukup negatif tentang media elektronik. “Ramalan” ini cukup akurat dalam beberapa aspek, namun ia belum menggunakan kacamata kekinian yang sesuai dalam melihat potensi-potensi media masa kini. Nyatanya, internet tidak membunuh kemanusiaan. Masih banyak orang yang berkarya, bersisian dengan kehadiran Instagram, bahkan berhasil menjadikan platform tersebut sebagai medium publikasi karya maupun aktivitas kebudayaan lainnya. Kesadaran pengguna media penting di sini agar tidak tertarik arus, dan juga pemahaman akan bahasa media itu sendiri [3].

Selebihnya, butuh disiplin, fokus, dan kreativitas untuk menciptakan. Jika memang aku merasa “terbunuh” dan terdemotivasi karenanya, kesimpulannya hanya satu: memang aku yang malas! Entah bagaimana cara mengobatinya. Entah bagaimana, batinku sambil membuka jendela Netflix dan melanjutkan serial The Defenders yang tadi sedang kutonton. Satu episode lagi, lah!

Catatan Sikil
[1] Postman, 2005, p. 76
[2] ibid, p. 77
[3] Dipetik dari kesimpulan pertemuan Roman Picisan bersama teman-teman di Forum Lenteng, saat membicarakan millenial dan teknologi. (13 November 2018)

Referensi
Postman, Neil. 2005. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in the Age of Showbusiness. New York: Penguin Books.

Advertisements

Perihal Kecoa

Sayup-sayup dalam ingatan, entah itu di SD, SMP, atau SMA, pernah ada kecoa berkeliaran di lantai dan semua orang kontan naik ke atas kursi dan meja. Saya ikut-ikutan saja karena panik. Merenungkan kembali kejadian tersebut, timbul pertanyaan, apakah merupakan rahasia umum bahwa naik ke atas meja merupakan cara yang efektif untuk menghalau kecoa; sama halnya dengan membaca ayat kursi jika melihat penampakan setan? Apakah orang yang pertama kali naik ke atas meja memang tahu bahwa kecoa tidak bisa naik ke atas meja karena dia pernah baca fakta tersebut di akun instagram Dagelan? Atau justru ia tidak memperhitungkan kemungkinan bahwa kecoa bisa naik ke atas meja dan berak di wajahnya, jika kecoa itu benar-benar dendam kesumat terhadap dirinya?

Saya juga tidak mengerti kenapa anekdot soal kecoa sering muncul dalam percakapan, meskipun kecoanya sendiri tidak hadir. Misalnya: “kadang gue bingung kenapa Tuhan menciptakan kecoa.” Atau: “kalo kecoa biasa, gue masih berani. Tapi kalo kecoa terbang…” lalu kalimat tersebut diikuti tawa senasib sepenanggungan dari semua orang. Tanpa sadar dengan mengangkat  kecoa dalam percakapan ngalor-ngidul ini kita sudah mengabadikan kecoa menjadi bagian dalam hidup kita. Sedikit janggal, karena kecoa yang dalam kesehariannya dianggap hama  justru menjadi penting karena sering dibicarakan. Sama seperti, contohnya, Awkarin yang sering dihina-hina orang, namun hinaan itu justru mengukuhkan popularitasnya sebagai figur publik.

Tanpa disadari, pengukuhan popularitas kecoa mengubah status hewan ini dari hama menjadi pemicu histeria massal. Sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tapi dihebohkan masyarakat. Tentu ini tidak seharusnya terjadi, karena kecoa sebagai hama tidak muncul tanpa sebab. Pada umumnya kemunculan kecoa disebabkan oleh lingkungan yang kotor, lembab, dan ventilasi yang tidak berjalan lancar. Seharusnya orang tidak hanya berteriak-teriak panik kalau ada kecoa, namun melakukan sesuatu untuk mencegah munculnya kecoa tersebut, seperti membersihkan lingkungan. Dalam hal ini, kecoa bukan masalah utama, melainkan sebuah indikator akan adanya masalah. Hal serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, contohnya kemunculan semacan “genre” trashy hip music jaman sekarang yang di antaranya digawangi Awkarin (udah bosen belom??), Young Lex, Kemal Palevi dihebohin dan dijadikan meme oleh para khalayak netizen. Begitu fokusnya kita ngetawain video Bad Ass di kelas sampai kita tidak menyadari bahwa ini merupakan fenomena dari keadaan kita sekarang; di mana nilai karya diabaikan, dan menjadi kurang penting dibandingkan popularitas karya tersebut. Seperti lirik lagu Anjay yang ditembangkan Kemal Palevi: “Nanti anjay dijadiin meme / Memenya anjay”. Terjadi perubahan pola pikir yang berkiblat ke viralitas. Ini belum tentu merupakan masalah, tapi kembali lagi, kadang hal ini luput dari pandangan kita.

Pada akhirnya, mungkin memang ini yang dilakukan banyak orang, termasuk saya. Kita teralihkan oleh banyaknya hal yang terjadi di sekitar kita pada saat yang bersamaan, sampai kita lupa akan keadaan yang mendasari gejala kasatmata tersebut. Mungkin sudah saatnya kita mengurangi histeria kita, mengevaluasi keadaan, dan mulai mengajukan sebuah pertanyaan: mengapa kecoa ini bisa ada?


Gue kembali di sela kerasnya hidup berumahtangga dengan 23 SKS. Ga sempet nonton banyak film lagi, apalagi ngereview karena udah keburu lelah dan males, maafkeun. Review Istirahatlah Kata-Kata dan La La Land gak pernah diselesain juga meskipun suka banget sama keduanya, karena gue merasa bete dengan review gue yang rasanya kaga ada bagus-bagusnya. Untuk sementara blog ini akan dihias dengan tugas-tugas Filsafat Manusia yang rada absurd: tugas yang ini disuruh menulis tentang kecoa dan disangkutkan dengan materi Kepercayaan. Selanjutnya ngebahas Hidup dengan H besar dan yang selanjutnya sedang gue susun adalah tentang pengasingan diri.

Di mana pun kalian berada wahai pembacaku yang noneksisten, semoga hidup kalian lagi enak, atau kalian lagi menderita demi tujuan yang baik. Berbahagialah. Sementara itu, boleh dicek review Arrival gue yang sudah didekorasi dengan uwawa-uwiwi ilmiah agar cukup luchu untuk dimuat di Deadpool UI.