Tiga Dara (1956) dan Sedikit yang Gue Pelajari Tentang Film Indonesia

tiga-dara.png

Sudah lama gue tidak mengulas film. Lebih tepatnya, sudah lama gue tidak niat mengulas film. Sebenernya, sudah lama gue tidak menulis di sini karena kesibukan ospeg sebulan, sebuah gagasan sok ide yang hanya ada satu di seluruh universitas di Indonesia. Udah ah jangan garem melulu hehehehehe.

Tapi di antara film-film lainnya yang gue tonton akhir-akhir ini, entah bagaimana Tiga Dara membuat gue kena sirep di kereta sepanjang perjalanan pulang. Gue merasa harus banget menulis tentang ini, terlebih lagi kisah yang ada di baliknya. Bukannya begadang buat nulis esai ospeg, gue malah nulis ginian. Ampun qaqa. Kalau gak langsung ditulis postingan ini akan mengabur jadi serpihan angan di alam pikir semata. *dadah-dadah sama draft review Siti dan Ikiru yang terbawa angin*

Sebelum Tiga Dara, gue mendengar tentang Ini Kisah Tiga Dara terlebih dahulu lewat postingan-postingan Instagram-nya Tara Basro dan Nia Dinata. Wah ada film baru, kayaknya seru. Ya Allah, cast-nya geulis-geulis pisan, maafkan hamba-Mu yang tidak selalu menepati shiratal mustaqim ini. Setelah itu, gue dengar bahwa ini remake film Tiga Dara jaman dulu yang disutradarai Usmar Ismail. Kemudian, baru muncul kabar bahwa film Tiga Dara yang asli mau direstorasi dan ditayangkan di bioskop. Saat itu gue gak begitu paham apa itu 4K atau mengapa film ini penting banget, karena cuma sempet baca selentingan-selentingan. Sebagai orang yang doyan nonton, gue hanya berpikir bahwa gue wajib banget nonton Tiga Dara. Gak ada ekspektasi, gak sempet riset, karena ospeg adalah is. Abisnya yha, eug biasa bela-belain cari torrent film jadul yang seed-nya dikit lagi ukurannya gede biar dikata edgi (gak deng), ketika ada kesempatan untuk nonton film Indonesia pada masa kejayaannya harus nonton, lah.

Rasa yang ditinggalkan film ini sederhana: menyenangkan. Mengingat film ini rilis pada zaman perang, mungkin Tiga Dara memang diproduksi sebagai sarana piknik rohani masyarakat. Dendangnya yang ternyata masih cocok dengan telinga masa kini, ditambah lagi akting teatrikal khas film jadul dalam film ini mengkatrol suasana hati banget.

Gue juga seneng, akhirnya gue bisa melihat estetika Indonesia tahun 1950an dengan segala keagungannya. Selama ini gue cuma tahu dari postcard vintage Djakarta Tempoe Doeloe ala-ala dan baju-bajunya Sari White Shoes. Y h a. Tapi seriusan, film-film yang ikonik pada zamannya merupakan kapsul waktu terbaik. Seperti Ikiru yang memberikan sedikit gambaran suasana Tokyo tahun 50an, atau Taxi Driver yang ngasih liat borok-boroknya New York tahun 70an kayak gimana. Akhirnya kita bisa ngeliat kondisi Jakarta pada tahun 1956 lepas dari sudut pandang politis yang didiktekan buku sejarah. Jakarta jaman dulu antah-berantah, men. Rata-rata penonton Jakartawan Kekinian tergelak ketika melihat adegan yang diambil di jalan raya dan berkomentar: “Jaman dulu gak ada macet, ya.” Gue ikut berkomentar demikian dan ikut tertawa, yha… you don’t say. Selain itu, sungghu aku jatuh cinta dengan fashion-nya yang unyu-unyu, apalagi Nenny yang baju-bajunya selalu on point.

Kejutan yang gak gue sangka, dengan segala kejadulannya, ternyata film ini masih relevan banget dengan keadaan sekarang. Sekarang masih banyak orang tua yang ngurusin banget jodoh anaknya. Drama keluarga yang itu-itu aja: nenek marahin bapak, adek ngejahilin kakak, gesekan antara kakak yang pendiam dan adik yang aktif bergaul, rebutan cowok. Receh-recehnya pun masih nyambung meskipun terpaut 60 tahun. Polemik tiga saudari yang ditampilkan mengingatkan gue dengan Schuyler sisters dari musikal Hamilton–se-universal itu ceritanya.

Setelah kami nonton, ada acara diskusi bersama orang-orang yang terlibat proyek restorasi film Tiga Dara ini: Taufik Marhaban, Alex Sihar, dan Gery Simbolon. Padahal gue sama temen gue gak tahu ada diskusi, begitu juga penonton yang duduk di sebelah kita tadi, hehe. Kejutan lainnya. Justru dari tanya-jawab itu, gue menyadari nilai penting film ini.

Jadi, Tiga Dara adalah film Indonesia pertama yang direstorasi dalam format 4K. Di Asia, ini adalah film kedua… dan film pertamanya adalah… Seven Samurai-nya Akira Kurosawa. Anjir.

Proses restorasi film ini memakan waktu 18 bulan, dan gue gak bisa bayangin sesulit apa ngerjainnya. Ini seluloid-seluloid film yang rapuh di-scan frame by frame lalu dikoreksi satu per satu. Tentunya dana yang dikucurkan gak sedikit, gue lupa berapa persisnya dalam euro, tapi dalam rupiah, biaya yang dibutuhkan mencapai 3 miliar. Dana itu berasal dari badan perfilman Singapura dan World Cinema Foundation.

Mirisnya, justru lembaga-lembaga dalam negeri gak ada yang tertarik membiayai proyek ini (dalam diskusi dikatakan pemerintah pernah membantu pendanaan proyek film sebelumnya tapi gue lupa yang mana, antara Darah dan Doa atau Lewat Djam Malam, tapi jadinya distribusinya kurang luas karena gak boleh ditayangkan secara komersil). Yha, gimana ya. Mungkin kelewat idealis kalau membayangkan ada perusahaan yang dengan entengnya menggelontorkan dana 3 miliar, atau paling tidak, separuhnya saja untuk restorasi film item-putih yang belom tentu ada yang mau nonton. Belum tentu balik modal. Apa yang membuat orang mau ngeluarin duit sebanyak itu untuk restorasi film?

Hal ini sempat ditanyakan oleh seorang penonton saat sesi tanya jawab. Jawabannya adalah rasa cinta, karena love is the answer to everything (plis jangan salahin gue, ini jam 2 pagi). Restorasi film yang luar biasa sulit pun dilakukan karena orang-orang yang terlibat di dalamnya cinta dan paham makna sejarah yang dikandung dalam film itu. Badan film Singapura mau donasi karena Usmar Ismail juga membentuk sejarah film di negara mereka, sementara World Cinema Foundation memang didirikan untuk mendukung restorasi film-film di seluruh dunia. Gila juga kalau dipikir-pikir. Mungkin memang, tiga kualitas yang dibutuhkan demi dunia yang lebih baik: duit, sentimentalitas, dan pemahaman yang mendalam akan nilai sejarah. Ini premis yang baik sebagai motivasi agar gue bisa jadi orang kaya.

Para penanya dalam acara diskusi tersebut mendapatkan kaos Tiga Dara yang cakep bukan main. Gue pengen tanya tapi telat, padahal gue pengen banget kaosnya yaa robb,,, sejatinya anak kos selalu kekurangan sandang dan pangan. Gue cuma pengen nanya proyek selanjutnya (TAPI GUE BENERAN PENGEN TAHU). Tentu saja pertanyaan ini luar biasa klise, tahu-tahu ada aja orang yang nanyain. Kalau gak salah ada enam judul film yang sedang dipertimbangkan. Sempat disebut-sebut Apa Yang Kau Tjari, Palupi; Tjut Njak Dhien; dan salah satu filmnya Sjuman Djaja, namun gue kurang jelas juga menangkap apakah itu judul film yang sedang dipertimbangkan atau film yang ingin sekali mereka restorasi.

Keluar dari teater, gue merasa terbakar sekaligus tambah buta. Gue pengen mengenal lebih jauh tentang film-film klasik Indonesia, tapi susah banget aksesnya. Screening-screening pun terbatas. Tiga Dara adalah film klasik Indonesia pertama yang gue tonton, mana gue tahu dulu sinema kita punya masa emas seperti itu. Bahkan, Tiga Dara adalah film Usmar Ismail yang kesebelas. BANYAK AMAT. Dalam diskusi itu dikatakan, Tiga Dara adalah film Usmar Ismail pertama yang berubah menjadi agak komersil setelah sepuluh film lainnya bergaya arthouse.

Jujur itu yang bikin gue penasaran, film arthouse Indonesia tahun 50-an itu gimana jadinya? Bagaimana dengan sineas lainnya yang ikut berkarya dari tahun 1950-1960? Sebelumnya gue gak pernah kepikiran soal film-film Indonesia lama yang menghilang entah ke mana. Tapi setelah mengikuti jalannya diskusi, gue merasa sedikit iri dengan negara-negara lain yang paham dengan nilai sejarah dalam perfilman mereka. Dunia bisa mengenal film-film klasik Amerika dan Jepang. Meskipun sudah lewat jauh dari masanya, film-film karya Alfred Hitchcock, Stanley Kubrick, atau Akira Kurosawa bisa punya cult followers di mana-mana. Sementara film klasik Indonesia, di negaranya sendiri aja gak banyak orang yang tahu.

Bagaimana gue menutup post ini yha, dengan harapan dan doa demi masa depan perfilman Indonesia yang lebih baik? Ya, gue cuma pengen lebih banyak orang yang nonton Tiga Dara aja. Orang butuh tahu kalau jaman dulu tuh ada film yang kece kayak gini. Orang butuh tahu kalau jaman dulu ada juga yang pacaran, gak semuanya ta’aruf~~ Selain itu, dengan nonton Tiga Dara lo bisa mendukung proyek-proyek restorasi film selanjutnya dan menggali lebih banyak film-film Indonesia bagus yang terkubur dalam kumparan seluloid yang rusak dan tak terjangkau.

Ceritanya 11/12 sama AADC, sumpah.

Maju terus perfilman Indonesia!

Gue mau tidur.

Advertisements